
**hari ke 90**
Sudah dua hari lamanya, ia terbaring dirumah sakit tak sadarkan diri. Raka menduga kalau ini adalah efek dari obatnya yang memaksa tubuh Ervin tak tertidur selama beberapa hari dan membuatnya kelelahan.
Siang itu seusai dia sadar, ia memutuskan untuk pergi dari sana.
Namun sebelum itu, ia masih penasaran dengan orang yang telah menolongnya dan membawanya kemari. Ia bertanya ke petugas setempat kalau oarng itu adalah seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang dengan mata yang berwarna sangat indah. Raka hanya berharap semoga ia bisa cepat bertemu dengan si penolong itu dan berterima kasih padanya.
Disiang hari itu, Raka memutuskan untuk kembali kerumahnya saja dan membiarkan Ervin tidur dengan tenang disana. Setelah sejam perjalanan, sampailah ia dirumah Ervin dan roh Raka segera keluar dari sana. Ia memutuskan untuk menggunakan tubuh Ervin esok paginya saja.
“hufft..selalu merepotkan saja orang ini !” pikir Raka sembari berdiri dihadapan tubuh Ervin.
Dan saat itu juga, muncullah Arva di depan pintu kamarnya. Dengan berpakaian yang nampak beda hari ini, ia mengajak Raka keluar bersamanya ke suatu tempat.
“eh..?! kenapa harus aku..?
lalu, kita akan naik apa..? apa kita akan menghilang..?” heran Raka.
“tentu tidak bodoh ! ikutlah denganku mengendarai motorku. Karena hari ini, aku mengubah wujudku jadi manusia.
Maka, aku berbaik hati memberikan pelayanan liburan pada roh yang baru. Bagaimana..? kau mau ikut..?”
“hah ! kau ini. baiklah aku ikut.”
Mereka berdua pun pergi dengan motor sport yang sangat modis dan keren Raka sendiri heran. Bagaimana seorang malaikat maut bisa punya kendaraan yang keren seperti ini.
dan Arva menjawabnya kalau ia mendapatkannya dari uang hasil menjual obat tidur itu pada roh-roh lain yang sama seperti Raka.
“aisshh..kau ! dasar penipu.”
“dan kau ! masih punya hutang denganku 1 juta dolar.”
__ADS_1
“iya-iya. Aku akan segera melunasinya.”
Setelah dua jam perjalanan, sampailah mereka disebuah taman yang indah dan sangat asing bagi Raka. Ia segera turun dari motornya dan melihat sekitarnya. Raka teringat kalau dulunya taman ini pernah dia kunjungi sewaktu SMA. Tetapi, dulunya belum seindah ini.
“hey, Arva. Kenapa kau mengajaku kemari..?
apa kita sedang berkencan pergi ke taman..?!
hei, dengar ya ! aku ini normal. Jadi, jangan berfikiran yang aneh-aneh.” Seru Raka.
“dasar roh bodoh ! siapa yang mengajakmu berkencan.
Aku sedang menemui seseorang disini !” ucap Arva sembari menjitak kepala Raka.
“memangnya, siapa yang dia temui…? Seorang gadis..? apa dia juga malaikat maut sama sepertinya..?” batin Raka.
Arva segera merapikan bajunya dan pergi ke sudut taman. Disana, sudah ada seorang gadis yang duduk di bangku taman. Raka yang penasaran, mengikutinya dari belakang kemudian bersembunyi dibalik pohon. Dan dia sangat terkejut ketika menghetahui orang itu.
Meira yang sedang dduk disana, sembari membaca sebuah buku kaget dengan kehadiran Arva yang juga nampak keren dengan jaket kulit dan rambut yang sedikit gaya kekinian. Arva menyapanya dan duduk disampingnya.
“apa kau menunggu sesorang disini..?” tanya Arva.
“tidak. Aku..sedang menikmati waktuku sendiri.” jawab Meira.
“jadi, kau sering kemari ya kalau hari minggu..?”
“hm.. ya ! begitulah.”
Selepas pertanyaan itu, entah mengapa keduanya malah terdiam. Dan Meira menutup bukunya dan terdiam juga. Hal itu, membuat Arva berfikir dan membuat permainan untuk memecah keheningan mereka.
“apa kau mau bermain denganku lagi..?”
__ADS_1
“hah..?! apa..?”
“permainan. Yang kali ini berbeda dari sebelumnya.
Kemarilah.! Aku punya sesuatu untukmu.”
Arva kemudian mengeluarkan secarik kertas dari kantongnya. Dengan kertas itu, ia menaruh tangan Meira diatasnya dan mentupnya kembali dengan tangannya. Arva bertingkah seperti sedang membaca mantra dan berkata pada Meira.
“katakan dalam hatimu, kau ingin mengubah kertas ini menjadi apa.”
Sembari memejamkan mata, Meira sedang membayangkan. Tetapi, entah kenapa apa yang ia bayangkan terasa sangat nyata. Ia seperti terbawa ke masa disaat taman ini masih sama seperti dulu waktu dia SMA.
“eh, Raka ! lagi buat apa..?”
“nih, lihat. Taraa ! bagus kan..?”
Sebuah origami burung dari kertas. Meira sangat kagum dengan buatan Raka dan memintanya untuk memberikan origami itu padanya. Entah kenapa, Raka juga bisa melihat apa yang ada dalam pikiran Meira.
Nampaknya, Arva sengaja memasukkan Raka kesana untuk melihat semua ini. Raka bahkan tak percaya kalau Meira masih ingat tentang peristiwa itu. diapun pergi dari sana dengan wajah yang sedih dan membiarkan Meira bersama Arva disana.
Tanpa disadari, imajinasinya membuatnya meneteskan air mata. Padahal tak ada sekalipun rasa sedih saat dia membayangkan semua itu. air matanya keluar begitu saja. Dan Meira langsung membuka matanya.
“ahh..ma..maafkan aku.
Ini bukan seperti yang kau kira.” Ucap Meira sembari mengelap air matanya.
“jadi, kau membayangkan kertas ini menjadi origami..?”
Betapa terkejutnya Meira ketika kertas yang ada di atas telapak tangannya bisa berubah menjadi origami yang sama persis seperti yang ada pada bayangannya dan saat masa SMA nya ditaman ini waktu itu.
semua yang ia lihat dan rasakan, membuat Meira berfikir kalau orang yang berada dihadapannya bukanlah orang biasa. Bagaimana dia bisa menciptakan sulap yang begitu nyata dan selalu datang disaat hatinya merasa sedih.
__ADS_1
Bersambung…