Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Cincin perak


__ADS_3

**hari ke 88**


Pagi datang menghampirinya dengan suasana udara yang sangat tipis pada musim dingin. Raka sudah bangun dan bersiap akan pergi bekerja hari ini. tak banyak yang beraktifitas di pagi musim ini. dengan memakai coat tebal dan syal yang menyelimuti lehernya, Raka berjalan menyusuri jalanan kota yang beku.


“hah..baiklah. kita akan mulai hari ini.” ucapnya yang menarik nafas panjang sembari memakai celemet kerjanya.


“Ervin, tolong gantikan tempatku di kasir ini.”


“baik bos !”


Meira kemudian duduk diantara kursi pelanggan sembari membawa buku catatannya dan mencatat sesuatu disana. Raka yang memperhatikannya dari jauh, berfikir mungkin kali ini dia bisa menghiburnya dengan minuman yang dia buat. Tangannya berhenti sejenak ketika seorang pelanggan datang ke kasir dan segera memesan sebuah minuman.


“tolong satu cappu..”


Kata-kata orang itu tersekat begitu melihat pria yang berada dimeja kasir adalah Ervin. Entah kenapa bola matanya menjadi ikutan bergetar saat melihatnya dan lidahnya menjadi kelu untuk melanjutkan ucapannya.


“Rasya..? ternyata dia kemari. Tapi, kenapa dia sedari tadi diam saja..?” gumam Raka.


“permisi..? apa kau mau pesan sesuatu..?” tanya Raka.


“oh,i.iya aku pesan cappucino latte dua” ucapnya dengan gugup.


Sembari membuatkan pesanan tersebut, Rasya memandanginya dengan terheran dan kaget tanpa mengedipkan matanya sekalipun. Tak ingin membuatnya menunggu lebih lama, Raka kemudian memberikan pesanan itu dengan senyuman kecil diwajahnya.


“terima kasih.” Ucap Rasya sembari pergi dengan jalan yang terseret layaknya orang yang syok.

__ADS_1


Rasya segera mencari tempat duduk di seberangnya. Ia masih saja memperhatikan Ervin dan tak berbicara sepatah katapun sembari terus mengengam kopinya. Dilihatnya Ervin tengah memberikan sebuah minuman kepada anak kecil dan mengantarnya keluar.


“kenapa, kenapa dia seperti itu..?” gumam Rasya.


Raka kembali masuk dan mengambil minuman lagi. Kali ini, untuk diberikan pada bosnya yang masih serius mencatat disana.


“bos, Ini minumlah. Aku memberikannya khusus untukmu.”


Dengan tersenyum lebar, Raka memberikan minuman itu diastas meja Meira dan dia membalasnya dengan senyuma pula juga rasa terima kasih. Rasya masih disana dan tiba-tiba saja, minuman yang dia bawa ia siramkan ke arah Meira sehingga mengenai tangannya.


“dasar wanita jahat ! bukankah sudah kubilang untuk pergi dari kota ini..?


apa kau masih tak puas melihat kakaku yang sekarat..? hahh !!”


Raka yang melihat itu dengan cepat memberikan kain lap ke Meira. Sembari memeluknya, Raka membela Meira dari tuduhan kejam Rasya.


Rasya kaget dengan ucapan yang baru saja dia dengar. Dengan wajah yang kesal, dia melangkah pergi dari sana.


Sementara Meira masih menahan rasa sakit akibat siraman kopi panas yang ada ditangannya. Raka dengan lembut membawanya ke kantornya dan membasuhnya dengan air dingin kemudian mengoleskan salep luka bakar ditangannya. Dengan serius, ia mengoleskannya secara perlahan. Tetapi, gerakan jari-jarinya yang mengoleskan obat itu terhenti ketika dia melihat tetesan air jatuh dari atas.


“kau pasti mengira aku bukan wanita yang baik-baik bukan..? kau selalu melihatku sperti ini ! dihina, ditampar…apa salahku sampai mereka melakukan semua ini padaku..?!” ucap Meira yang tengah menangis.


Raka mengangkat pandangannya dan tertegun dengan ucapan Meira. Meira berfikir kalau dia memandangnya dengan buruk. Dia masih terdiam dan membiarkan Meira melanjutkan perkataannya.


“hanya karena kesalahan yang tak kusengaja di masa lalu, aku sampai mendapatkan semua penderitaan ini.

__ADS_1


apa ada yang benar-benar bisa memahamiku..?”


Raka tak dapat menahannya lagi dan segera memeluknya. Sembari terus menangis, ia menepuk-nepuk pundak Meira untuk menenangkannya.


“Meira..maafkan aku..” batin Raka.


Tiba-tiba saja, tangannya terasa sangat dingin seperti membeku padahal dia tengah berada didalam ruangan yang ac nya tengah mati.


Raka melihat tangannya yang rupanya cicin nya mengeluarkan sinar putih yang terang.


Disaat itu, dia mulai panik dan melihat sekitar. Tetapi, tak ada apapun yang terjadi. Lalu, dia memutuskan untuk melepaskan pelukannya dan memegangi pundak Meira.


“Meira. Aku percaya kalau kau takkan mungkin melakukan kesalahan apapun dimasa lalu.


Sudah, janganlah menangis. Apa lukamu sudah lebih baik..?”


“iya. Tentu. Makasih Ervin. Kau selalu membantuku.” Ucpnya sembari menghapus air mata disisa-sisa wajahnya.


Raka bergegas pergi dari sana dengan menutupi cincin yang masih bersinar itu meski tak seterang dari yang tadi. Dia masuk ke kamar mandi sembari bercermin disana.


Dia memandangi wajah Ervin dan tak ada satupun yang salah. Hampir saja dia mengira kalau misi 100 harinya akan gagal. Dan kini, dia mendapat petunjuk kalau cincinnya bisa mengeluarkan warna lain. Raka berfikir mungkin saja itu sebuah pertanda akan suatu hal.


“tapi, aku biasanya merangkul dan memegang Meira tak terjadi apa-apa..?


apa mungkin jika aku lakukan pada orang lain, akan bercahaya seperti ini..? atau hanya pada Meira saja..?” gumamnya sembari memandagi cincin perak tersebut.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2