
Raka masih saja berfikir dan melamun dengan apa yang terjaid pada cincinnya saat itu. dia bahkan tak memperhatikan kalau cangkir kopinya hampir penuh.
“hey kawan ! apa yang kaulakukan..?” teriak Roy.
Raka langsung sadar seraya meletakkan kembali cangkir itu diatas meja dan segera membasuh tangannya yang tersiram kopi panas. Sembari mengompresnya dengan air dingin, Raka beristirahat sejenak disamping Roy.
“hey Ervin ! kau ini kenapa..? sejak tadi ku perhatikan kau tak fokus saat bekerja.
Apa ada pikiran yang menganggumu..?” tanya Roy.
Dengan wajah yang lesu dan tangan kirinya yang masih mengompres tangan satunya, Raka mulai berbicara.
“Roy, menurutmu..bagaimana kau tahu jika sesorang itu tulus padamu…?”
“oh itu..susah-susah gampang sih. Tapi biasanya, mereka akan selalu menharapkan kehadiranmu dan jika kau tak ada dia akan merasa sangat kehilangan dan sedih.
Juga, dia takkan meminta dan berharap lebih padamu. Menurutku itu ketulusan yang bisa kita lihat dari orang lain.”
“begitu ya..”
Raka ragu dengan ungkapan Roy kepadanya. Dia tak pernah merasakan jatuh cinta sebelum kematiannya. Apa masih mungkin jika ia mendapat kesempatan itu lagi saat menjadi roh dan mencari arti dari ketulusan tersebut.
Jam menunjukkan pukul 5 sore dan waktunya bagi toko untuk tutup. Semua telah berisap untuk pulang tetapi tidak dengan Raka. Dia masih duduk di samping jendela sembari memikirkan cara agar misinya cepat selesai dan segera kembali ketubuh asalnya. Dia rupanya tak tahan ingin lepas dari semua ini. Meira sudah bersiap akan pulang dengan menenteng tasnya. Langkahnya terhenti ketika melihat Ervin tengah duduk sendirian disana.
“Ervin..? apa kau tak pulang..?”
“iya. Sebentar lagi aku akan pulang.” Ucapnya sembari tersenyum pada Meira.
__ADS_1
“baiklah. Kalau begitu, aku akan pulang dulu. Selamat malam !” pamit Meira.
“Me..Meira tunggu !”
Meira menolehnya dan terdiam saat Ervin tiba-tiba berlari ke arahnya dan memeluknya. Raka sengaja melakukan itu untuk menguji coba apakah cincinnya akan bereaksi lagi. Sembari memeluk dan memandangi cincin yang ada ditangannya, Meira mendorongnya pelan dan berkata padanya.
“kau..apa yang kaulakukan..?” tanya Meira yang wajahnya memerah.
“ehm..tak apa. Aku hanya memastikan kau baik-baik saja. Baiklah bos sampai jumpa !” ucap Raka sembari pergi kedalam.
“dasar aneh ! aku jadi berfikir yang tidak-tidak karena sikapnya. huhh..apa dia mendengar detak jantungku ya..?” gumam Meira sembari meletakkan tanggannya diatas dadanya yang berdegup kencang.
Nampaknya memang benar kalau ada sesuatu yang menarik cincin itu bisa bersinar terang seperti tadi pagi. Mungkin saja bukan karena sengaja. tetapi karena ketidaksengajaan. Dengan memakai kembali coatnya, ia segera pulang dan menutup tokonya.
Dan kini waktunya bagi roh Raka untuk keluar dari tubuh Ervin. Dia membiarkan Ervin yang masih dikamar itu lalu pergi sejenak ke meja makan dan tak mengikutinya hari ini.
“terima kasih tuan.”
“sekarang pergilah !”
Hari ini adalah hari dimana Ervin menerima gajinya dan sebelum memakai seragamnya, ia membeli beberapa minuman di vending machine. Dengan santainya ia memasukkan uang ke dalam dan kaleng yang ia inginkan pun keluar. Saat membalikkan badannya, ia disapa seorang wanita dan dia hanya terdiam disana.
“hai Ervin ! apa yang sedang kau lakukan disini..?” tanya Meira.
Meira yang melihat tatapan Evin itu, berubah menjadi gugup dan bingung akan melakukan apa. Pasalnya, tatapan itu, tak pernah dia tunjukkan saat bekerja.
Melihat dari ekspresi datar dan tatapan mata yang dingin, Meira mengira kalau Ervin tengah dalam masalah atau hatinya sedang dalam perasaan kacau. Ervin pergi berlalu tanpa memperdulikan sapaan Meira.
__ADS_1
Hal itu membuatnya penasaran dan merasa ada yang aneh dengan diri Ervin. Dia memutuskan untuk mengikutinya dari belakang dengan gerak-gerik layaknya mengintai.
“rupanya dia juga bekerja jadi petugas kebersihan disini..” gumam Meira.
Ervin tengah mengepel lantai dan tetap fokus pada pekerjaannya. Aktivitasnya terhenti ketika sebuah sepasang sepatu muncul di hadapannya. Dia segera mendongak ke atas dan mulai berbicara pada orang itu.
“dengar nona. Bisakah kau pergi..? aku sedang bekerja saat ini.”
“oh..ma..maafkan aku aku hanya ingin bertanya padamu apakah kau bekerja disini..?”
Ervin lagi-lagi mencuekinya dan tetap melanjutkan pekerjaannya. Hal itu membuat Meira merasa hampa dan murung. Ia mulai berjalan pergi dari sana. Namun, ada yang mencegahnya lagi.
“tunggu ! apa kau, mau makan malam denganku setelah ini..?”
Meira tak percaya dengan apa yang dia dengar. Intonasi dan caranya berbicara, sama sekali tak mirip dengan Ervin yang dia temui saat bekerja. Tetapi, ia segera membalikkan arahnya dan menyetujui ajakannya.
Tak lama, selepas bekerja, dia dibawa Ervin ke restoran sea food di pinggir jalan.yang mana kebetulan, dia juga sering kemari. Sembari menunggu pesanan, Meira yang melihat Ervin sedari tadi diam kemudian mengajaknya berbicara mengobrol.
“apa kau tau..? ini adalah restoran seafood favoritku semenjak aku kuliah.
Aku seringkali makan disini. Dan cuacanya juga bagus untuk makan seafood saat ini.” ucap Meira dengan tersenyum.
Ervin masih diam tak menjawabnya dan tetap meminum minuman yang telah ada dimejanya. Meira kembali dibuat gugup dengan suasana hening diantara mereka.
Dia sedikit terheran ketika melihat jari kananya yang kosong. Padahal dia sering melihat ada cincin berwarna perak disana. Ketika mulutnya akan berkata, pelayan restoran itu datang dan membawa makanan ke meja mereka. Keduanya mengambil ikannya satu per satu tanpa ada percakapan yang seru diantara keduanya. Benar-benar aneh menurut Meira ketika melihat Ervin yang sangat berbeda saat ini.
Bersambung…
__ADS_1