Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Mencari gadismu


__ADS_3

**hari ke 85**


Mata Ervin kini terbuka karena Raka sudah masuk ke dalam tubuhnya. Ia tak langsung beranjak ke kamar mandi dan bersiap pergi bekerja.


Raka masih terpikirkan akan perkataan Rasya semalam. Dia nampak tak suka jika Meira dekat dengan si Ervin ini.


apa alasannya dia melakukan itu..? semua itu berputar-putar dipikirannya bak labirin yang masih belum ada jawaban dan jalan keluarnya.


Ia memutuskan untuk mengobrak-abrik area kamar Ervin. Disekitar lemari baju, di laci pakaian, dimeja penyimpanannya, semua dia jelajahi dan tak satupun terlewatkan.


Dan suatu ketika, matanya terpusat pada kotak yang pernah ditangisi Ervin. Diingatannya masih teringat sangat jelas kalau Ervin mengengamnya sambil berkata padanya untuk menyampaikan suatu hal kepada seseorang.


“aku ingat kotak ini, apa jangan-jangan..ini kotak yang berisi kalung yang ia berikan pada seorang gadis yaa..?” gumamnya sembari membolak-balikkan kotaknya.


Dia ragu akan kata hatinya yang mengingkinkan mencari tahu tentang gadis itu. dikarenakan misinya belum terselesaikan dan masih banyak yang harus dia tangani, keraguannya semakin menjadi saja. Ia memutuskan untuk tetap membawa kotak itu dikantong jaketnya dan bersiap pergi bekerja.


----------


Suasana puncak musim dingin sudah terlewatkan tetapi, udara masih saja terasa sangat dingin. Beberapa pejalan kaki terlihat lebih sedikit dari hari-hari biasanya sehingga membuat Raka sedikit leluasa untuk menyebrang jalan.


.


.

__ADS_1


.


Disaat dia menyebrang jalan, entah sedang berjalan ke dimensi lain atau dalam khayalan Ervin, dia kembali melihat gadis yang mirip dimasa lalu Ervin dan bermata hazel itu, diseberang jalan tengah duduk memakai seragam disana.


Raka kembali mengucek-ucek matanya dan gadis itu pun hilang. Mungkin pikirnya, ini hanyalah ilusi yang diciptakan dari tubuh Ervin. Ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju toko roti.


**Kringg !**


Suara bel yang terdengar saat Raka masuk ke dalam toko tersebut. Di sapanya beberapa teman pegawai yang lain dan juga beberapa pelanggan yang baru masuk. Seusai memakai seragamnya, dia mengantarkan pesanan pelanggan kesana-kemari.


“hufft.. semasa hidupku dulu, aku tak pernah bekerja sekeras ini..!” gumamnya sembari mengelap keringatnya dengan punggung tangannya.


“eh Ervin ! apa kau tahu diaman bos..? sedari tadi dia belum datang juga. Sebelumnya, dia tak pernah datang selambat ini..” ucap Roy yang tengah menyenggol Raka.


Sejenak dia memejamkan matanya dan menarik nafasnya. Begitu banyak masalah yang ditimbulkan keluarganya kepada orang lain dan hanya saat ini saja, dia menyadarinya kalau mereka sudah sangat kelewatan.


“andaikan saja, aku bisa tahu dengan jelas siapa gadis yang ada dimasa lalu Ervin !” gumamnya sembari mendongak ke atas dan menghela nafasnya”


Langkah kaki yang lesu itu mendadak terhenti ketika muncul seorang gadis didepannya yang telah memasang wajah sedih sembari memegangi meja kasir disana.


Dia berjalan dengan lemahnya dan terseok-seok, Raka sadar kalau gadis itu dalam keadaan tak sehat. Saat akan mendekatinya, gadis itu ambruk dan untungnya ia diwaktu yang tepat menangkapnya.


Dan gadis itu tak lain adalah Rasya adiknya.

__ADS_1


Raka menjadi sangat panik begitu melihat mulutnya yang keluar busa. Dengan cepat dia memanggil ambulans dan membawanya ke rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, tim medis mendatanginya dan memasukkannya di ambulans. Tangan Raka tak hentinya mengengam tangan adiknya itu. meski dia tahu, kalau adiknya bukan orang yang baik lagi saat ini. tetapi, masih saja ada rasa sayang yang teramat dan tak memperdulikan apapun lagi selain keselamatan adik satu-satunya ini.


“ka.kamu..” ucap Rasya sembari mencoba mengapai wajah Ervin alias Raka itu.


Meski dia tengah memakai tabung oksigen dimulutnya, Raka bisa dengan jelas mendengar kalau Rasya ingin mengucapkan sesuatu. Dengan mata yang masih setengah sadar dan buram, Rasya masih saja mencoba menyentuh wajah pria itu dengan tangan lemahnya. Sejam setelah penanganan UGD, dia diperbolehkan masuk ke ruang inap Rasya. Dokter mengatakan jika dia tengah mengkonsumsi obat penenang dan dia meminumnya terlalu banyak sehingga overdosis.


Air mata Raka tak bisa terbendung lagi ketika tahu kalau adiknya selama ini mengidap depresi. Tangannya gemetar begitu melihat adiknya terbaring lemah dengan memakai beberapa selang oksigen didekatnya. Tak jauh beda dengan dirinya yang tengah koma. hanya saja, Rasya sekedar pingsan bukan mati.


Selama beberapa jam bahkan sampai sore, dia menemaninya disampingnya sembari terus menaruh tangan Rasya dipipinya. Tak lama, datanglah orang yang sangat ingin dia singkirkan dari hidup adiknya.


“ya ampun ! ponakanku..?! kenapa kau seperti ini..?” tangis Sintya sambil berlari ke arah ranjang Rasya.


Mungkin saja air mata itu palsu dan dia adalah aktris akting yang berbakat. Raka lalu, berdiri sembari terus memalingkan wajah darinya. Raka pergi dari sana, tetapi, lagi-lagi, dia dicegah oleh ucapan Sintya.


“tunggu ! bukankah kau yang waktu itu yang berada ditoko..? untuk apa kau datang kemari..?” ucap Sintya.


“aku, hanya membantunya membawanya kemari.” Ucap Raka dengan meliriknya saja kemudian pergi keluar dari ruangan tersebut.


Didepan pintu ruangan, Raka menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan sangat panjang. Dukanya semakin bertambah seusai kejadian demi kejadian yang ia lewati seusai mendapat kesempatan kedua ini.


langkahnya masih saja lambat dan sama sekali tak bersemangat. Tetapi, tiba-tiba saja, Sintya berteriak padanya dan mengejarnya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2