Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Masa kecil


__ADS_3

**hari ke 89**


Pagi itu, Meira tak bisa tidur dengan tenang dan bangun dengan gelisah. Semalam ia menyapa Ervin Tetapi, dia sama sekali tak menanggapinya dan langsung pergi begitu saja.


“huhh.. mungkin saja dia sedang terburu-buru ke suatu tempat.” Gumam Meira.


Meira mengambil pakaiannya dari dalam lemari dan tiba-tiba saja, ada sesuatu yang jatuh dari kantongnya.


“oh..? ini kan..”


Sebuah jam saku tua yang pernah diberikan Arva waktu itu. dia ingat kalau Arva menyuruhnya untuk melihat didalam jam itu. tak ada apapun dan hanya jam tua biasa. Dengan diikuti rasa penasaran, Meira memutuskan untuk membawanya bekerja


Sembari berjalan, ia terus saja melamun dan berrfikir mengenai jam tersebut. Sampai-sampai dia tak sadar telah menabrak orang saat berjalan.


“hei nona ! perhatikan langkahmu !”


“iya pak maaf. Maafkan ku..” ucap Meira sembari menundukkan kepalanya pada pria tua itu.


Setelah bangkit dan berdiri, Meira merogoh kantongnya dan panik saat tahu jam sakunya itu hilang. Dengan cepat ia menyusuri jalanan itu dan menemukannya disudut sebuah pertokoan dan rusak karena terinjak banyak orang.


Namun, disitulah dia menghetahui yang sebenarnya mengenai jam saku tua itu. Meira segera berlari ke tempat kerjanya dengan cepat. Setelah beberapa saat, dia sudah sampai disana dan menemui Ervin sudah membereskan peralatan sebelum toko buka.


“oh..? bos, ada apa kau berlari seperti itu..?” tanya Raka.


Meira masih terengah-engah dengan nafasnya dan menjawab pertanyaan itu dengan menunjukkan jam saku tua itu. Raka tahu kalau Meira akan melakukan ini. karena tadi malam, Arva berkata padanya mengenai Meira dan jam itu.

__ADS_1


“jika besok dia tahu sesuatu, katakan kalau kau tidak tahu dan aku tak bisa menemuinya sampai hari ke-50”


“ap..apa!? memangnya kau mau kemana..? lalu, bagaimana jika aku dalam masalah..?


hhe..hhei ! dasar ! aisshh..bagaimana ini..?” seru Raka yang melihat Arva menghilang dengan cepat seusai berkata demikian padanya.


Raka masih kesal sekaligus penasaran mengapa Arva pergi begitu lama. Dan akhirnya, Meira mengajaknya duduk dan membicarakan tentang jam itu. tetapi, sebelum itu dia mengambil sebuah buku catatan tua dari dalam kantornya dan menunjukkan sebuah foto lama.


“Ervin, lihat foto yang ada disini. Bukankah sangat mirip dengan foto yang ada didalam jam saku tua ini..?” tanya Meira.


Raka melihat foto seorang bocah laki-laki didalam jam itu. dan dia membandingkan dengan foto satunya yang di bawa Meira ketika Meira masih kecil sedang bermain di pantai bersama beberapa orang yang ikut terfoto. Disana,di belakang foto Meira kecil, ada foto bocah laki-laki yang sangat mirip dengan foto yang ada didalam jam tua itu.


“apa mungkin dia laki-laki yang sama..?” tanya Meira.


Raka hanya terdiam saja dengan menaikkan pundaknya seraya menjelaskan kalau dia sendiri tak tahu mengenai hal tersebut. Meira dibuat mengingat-ingat kembali pada saat itu.


“apa kau merasa, kalau anak ini wajahnya mirip sekali dengan Arva..?”


Raka kaget dengan persepsi Meira akan hal itu. tetapi, bisa saja kalau itu Arva. Tetapi, jika Meira selamat dari cuaca dan badai saat itu, apakah bocah laki-laki yang mirip Arva itu selamat..? pertanyaan dalam hati Raka terus terngiang dipikirannya. Mungkin saja, Meira ada hubungannya dengan Arva si malaikat maut itu.


“Ervin, apa aku bisa menghubunginya..? kau kan temannya. Bisakah aku bertemu dengannya..?”


“ehm..itu.. itu sangat sulit. Tidak bisa.” Ujar Raka sembari berdiri dan memalingkan badannya dari Meira.


“eh.?! Kenapa..? apa dia pergi ke suatu tempat..?” tanya Meira.

__ADS_1


“iya..dia bilang, dia pergi entah kemana dan untuk waktu yang cukup lama.”


Raka segera pergi dari sana dan tak ingin berlama-lama lagi membahas tentang Arva dengan Meira. Dia khawatir akan ketahuan kalau dia tengah berbohong.


Raka menuju dapur dan menyiapkan beberapa pesanan. sedangkan Meira juga telah masuk kekantornya dan tersadar kalau sikap Ervin sangat berbeda hari ini dengan semalam. Fikiran itu langsung ditepisnya dan dia kembali mengerjakan pesanannya.


Siang hari kian bertambah dingin dimusim salju ini. tetapi, tokonya semakin lama, semakin ramai dengan pengunjung ang memesan beberapa roti hangat juga minuman hangat. Hal itu, membuat Meira berfikir untuk melihat keadaan sekita pengunjungnya.


Dan benar saja, tokonya benar-benar sibuk dengan para pekerjanya yang mondar-mandir mengantar pesanan.


“ya ampun..! aku ini kenapa..?


aku malah bersantai-santai dan membiarkan mereka kerepotan.” Gumam Meira yang kemudian berdiri di mesin kasir untuk membantu antrian yang membludak.


Sesaat kemudian, keadaan terkendali dan antian pengunjung menjadi berkurang. Disaat Meira masih fokus melakukan pekerjaannya, ada sesuatu yang memecah fokusnya dan yang tak dia sangka-sangka sebelumnya.


“lihat paman akan mengubah ini jadi hewan yang kalian suka..taraa !”


Betapa kagetnya Meira meihat Ervin sedang menghibur anak-anak itu dengan kertas origami. Dia tiba-tiba teringat saja akan origami kertas buatan Raka juga, trik sulap Arva.


“nona ! ada apa dengan anda ..? kami ini sedang mengantri !”


“oh..! Maaf. Maafkan aku. Silahkan, harganya..”


Meira kembali dari lamunanya dan melakukan pekerjaannya. Disaat itu juga, Raka melihat Meira sembari tersenyum kepadanya. Raka tak tahu kalau apa yang dia lakukan membuat kebingungan di diri Meira semakin bertambah.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2