
“kau..apa pernah mengenal wanita itu sebelumnya..? atau hanya sekedar membantunya..?” tanya Sintya dengan gugup.
tetapi, Raka malah muak dengan wajah yang seakan-akan polos itu dan mengabaikannya sembari pergi. disaat itu, tangannya kembali ditahan oleh Sintya. Sontak Raka segera memandanginya dan dia langsung melepaskannya.
“apa itu penting bagimu..?” ucapnya dengan muka lesu.
“tentu, tak bisakah aku meminta nomer ponselmu..?” seru Sintya sembari memberikan hapenya dan tersenyum manis.
“maaf ! tapi aku, tak punya nomer telpon atau bahkan ponsel.” Ucapnya sembari pergi dari sana.
Raka pergi dari sana dengan mata yang tajam dan rasa kesal. Tetapi, dari kejauhan, Sintya malah tersenyum dengan khasnya layaknya senyuman jahat. disitu dia mulai tertarik dengan sosok si Ervin ini dan berharap akan bertemu dengannya lagi.
.
.
.
.
.
Sinar senja masih dengan terangnya menyinari, meski samar karena cuaca dingin. Ia kembali mengeluarkan kotak kecil yang ada disakunya dan melihatnya lagi sembari bergumam, kalau hanya waktu saja yang akan menemukan semua jawabannya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang gadis yang terlihat familiar berambut panjang. Di antara para pedagang toko, ia mendekatinya.
__ADS_1
Meira yang saat itu, tengah berbelanja makanan, menatap kebelakangnya. Disana, sudah berdiri Ervin yang menatapnya sedari tadi. Ia sendiri sedang tak ingin menemuinya dan memilih kabur dari sana. Ia berjalan cepat dan Raka mengikutinya. Raka terus saja peduli dengannya meski dia sampai lupa, kalau matahari telah terbenam.
**Brukk !**
Ervin jatuh tetapi, ia masih bisa menopang tubuhnya dengan menapakkan satu kakinya ditanah dan memegangi dengkul satunya. Nafasnya masih terengah-engah karena kini, Roh Raka keluar dari tubuhnya. Dengan cepat, Meira berbalik dan menghampirinya yang nampak kesulitan.
Dengan refleks dia membawa pria bertubuh lebih tinggi darinya, ke tempat duduk dipinggir jalan. Meira spontan mengambil botol air dan memberikannya pada Ervin.
tapi, sebelum air itu sampai ke mulutnya, Ervin menghentikannya dan mengambilnya dengan tangannya sendiri. kelakuan Ervin, semakin membuat Meira serba salah yang kemudian duduk agak berjauhan darinya.
Roh Raka masih disana dan masih melihat mereka berdua yang seperti api dan es yang tak bisa berdekatan.
Dia berharap Ervin bisa tahu apa yang telah dia pikir dan rasakan agar dia mau kembali meminta maaf atau hanya sekedar menanyai tentang kabarnya. Diluar dugaannya, mereka malah tetap diam meski hanya terdengar nafas Ervin yang tersengal-sengal. Meira menjadi gugup dan akhirnya memilih untuk beranjak dari sana tanpa sepatah katapun.
Dia terhenti seketika saat Ervin memegangi tangannya, mencegahnya pergi. Dengan perlahan, Meira duduk kembali tetapi, masih dengan raut muka yang kusut.
Meira merasa lega dengan apa yang dia dengar. Pada akhirnya, inilah yang dia inginkan. Entah kenapa wanita selalu ngambek dengan hal-hal sepele ini. masih dengan wajah yang dingin tanpa ekspresi itu, Ervin memberikan botolnya dan beranjak pergi dari sana. Meira panik dan segera memanggilnya kembali.
“Ervin, tak bisakah kau temani aku makan malam..?”
“maaf, aku sedang banyak urusan saat ini.” ucapnya dengan nada datar sembari tengah memasukkan tangan ke jaketnya dan pergi dari sana.
Raka kesal dengan sikap Ervin yang benar-benar menyakiti perasaan Meira. Dia kembali mengikuti Ervin disampingnya sembari mengocehinya. Percuma saja, Ervin takkan bisa mendengar dan tahu tentang semua kekesalan Raka.
__ADS_1
Meira masih saja disana. Dia menyangka, kalau rasa yang ada dihatinya, adalah nyata, ternyata dia hanya sekedar butuh perhatian dari orang lain. Dia sadar kalau sangatlah kejam melampiaskan rasa kesepiannya usai putus dari Azka ke orang asing. Ia memilih pulang dimalam yang dingin itu.
Tiba-tiba, ada seseorang yang membekapnya dari belakang dengan kain dan lama-kelamaan, kesadarannya menghilang.
---------
“buka penutupnya !” ucap salah seorang yang terdengar seperti wanita.
Nafasnya sesak setelah kain yang menutupi kepalanya dibuka. Meira ketakutan saat sadar, dia telah diculik seseorang diruangan luas dan gelap dan hanya ada satu penerangan saja.
Matanya masih buram ketika memandangi satu-persatu wajah penjahat yang ada didepannya.
Semuanya pergi meninggalkannya disana. Dengan kepanikan dan ketakutan yang sangat, matanya kembali terpejam dan tubunya tergeletak dalam keadaan terikat.
*Entah kenapa, aku sangat takut sekali dengan kematian. Aku merasa, karena aku telah banyak menyimak kematian orang terdekatku, Aku tak ingin pergi dengan mereka sebelum menemukan kebahagiaanku..
------
Ervin kembali berada di rumah sakit dan kembali dikejutkan dengan kehadiran Sintya dihadapannya, ia hanya melirik tajam sembari terus menggepalkan erat tangannya yang tengah berada tepat dipahanya.
Kali ini, pikiran dan perasaan Raka denganya, saling tertaut dan tahu, jika dia adalah musuh yang harus dibunuh secara perlahan, dengan melangkah tapi pasti, Ervin membantu Raka menyingkirkan Sintya secara perlahan dengan apa yang ia perbuat.
“apa kau mau makan malam denganku..?” tanya Sintya.
__ADS_1
Tatapan dingin Ervin, membuat Sintya yakin kalau dia akan mengiyakan ajakannya.
Bersambung..