Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Menghilang


__ADS_3

**hari ke 84**


Semalaman, Raka masih saja tak tenang dan terus saja tak sabar untuk segera pergi ke toko roti. Ia memiliki firasat buruk mengenai teriakan yang ia dengar. Cuaca dingin masih saja menyelimuti sebagian jalanan dan sudut kota. Tangannya hampir beku sebab lupa memakai sarung tangan karena terburu-buru untuk segera sampai disana.


“selamat pagi semua ...” sapa Raka saat memasuki dapur toko.


“pagi juga Ervin ! wahh, dingin sekali ya pagi ini. benar-benar dingin daripada musim dingin kemarin.”


Ucap Roy sembari menggosokkan kedua tangannya dan meniupnya.


Raka hanya memperhatikan ucapan roy sembari menata meja dan kembali ke mesin kasir. Para pelanggan muncul berdatangan begitu tanda buka yang ada didepan toko dibalik. keadaan saat itu Tak begitu ramai.


Tetapi, ada sesuatu yang dia rasa kurang dan telah hilang. Keluar masuknya orang-orang dan kesibukannya dalam melayani mereka, membuatnya menjadi ak peduli akan perasaan itu.


.


.


.


.


Jam 1 siang. Waktu bagi para karyawan toko untuk istirahat. Dia sedikit heran dan bertanya-tanya, sampai siang ini pun, Meira tak kunjung datang ke toko. Para karyawan lainnya juga bertanya-tanya dan tersadar. Kalau sampai kini, bos mereka tak ada disini. Raka memutuskan untuk masuk ke kantor pribadinya.


Tetapi, terkunci.

__ADS_1


Dan menurutnya, Meira sama sekali tak masuk kesana dari hari kemarin.


“ah, sudahlah Ervin ! mungkin saja bos sedang sakit. Hari ini kan cuaca agak dingin ! mungkin saja dia beristirahat dirumahnya.”


Ujar Roy sembari menepuk pundak Raka yang tengah mencoba membuka pintu kantor.


Pikiran Raka mencoba tuk berfikir logis dan positif. Bisa saja apa yang dikatakan Roy itu benar. Dan mengenai teriakan itu, mungkin saja hanya khayalannya semata. Raka memutuskan untuk kembali fokus bekerja melayani para pelanggan.


---------


**plakk ! plakk !**


Tamparan demi tamparan harus diterima Meira saat itu. dia tak pernah tahu apa kesalahannya sehingga dia layak mendapatkannya. Mata dan mulutnya di bekap dan ditutupi dengan kain. seusai semalaman, dia berusaha untuk kabur dari neraka itu.


“cukup ! sekarang, pergilah. Biarkan dia seperti ini !” ungkap salah satu bos mereka yang terdengar seperti seorang pria.


Perutnya tak bisa menahan lebih lama lagi dan tenaganya tiap saat kian memburuk saja. Dia berharap, sesegera mungkin orang akan menemukannya dan menolongnya dari ditempat ini.


-----------


“Ervin ! kami pergi dulu ya.. slamat malam !” pamit roy yang telah pergi dan disusul karyawan lainnya.


Mereka semua meninggalkan Raka yang masih saja membereskan toko itu. hari ini terlewat cepat begitu saja dan tanpa Raka sadari, ada sesorang yang telah menunggunya didepan toko tersebut.


Sesaat sesudah menutup tokonya, Raka segera berlalu pergi tanpa memperdulikan wanita itu yang telah berdiri begitu lama dengan wajah angkuhnya.

__ADS_1


“beginikah caramu menyapaku..?”


“maaf Sintya. Aku tak ada urusan lagi denganmu.” Ucap Raka tanpa menolehnya sedikit pun.


“baiklah. Kalau begitu, apa kau mau ikut undanganku besok malam ke acara tender perusahaan..?”


Raka terdiam dengan kekagetannya. Dia tak percaya kalau Sintya sudah membalikkan saham perusahan yang sebelumnya hampir lumpuh dan bahkan sudah mendapat kerjasama dengan yang lain.


Tangannya mengepal begitu erat dengan posisinya yang berada jauh didepan wanita itu. sepertinya, ada sesuatu yang tak beres dan dia terpaksa harus menerima ajakannya itu. segera Raka berbalik dan membalas ucapan itu dengan senyuman kecil yang penuh teka-teki.


Entah itu jebakan atau rencana Sintya, yang pasti Raka menyetujuinya dengan sangat yakin tanpa suatu kecurigaan sedikit pun.


.


.


.


Sampai dirumah, dia segera merebahkan tubuh Ervin dan keluar dari sana. Roh Raka masih duduk terdiam disamping tubuh Ervin yang belum sadar. sembari berfikir, bagaimana langkah nya unttuk membongkar kejahatan keluarganya, dia berjalan menuju laci dan mengambil kotak ukiran bunga tulip itu lagi. Raka membukanya dengan sangat hati-hati sembari berkata.


“suatu saat, mereka akan mendapatkan benda ini. dan ini, harus jatuh ditangan yang tepat !” ucap Raka.


Dan tak lama, Ervin pun sadar dan bangun dari tidurnya. Dia tak langsung bergegas menuju tempat kerjanya. Akan tetapi, dia duduk sembari melipatkan kedua kakinya dan terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu saat itu. dan sampai larut malam, posisinya juga tak kunjung berubah sedikitpun.


Raka tahu kalau Ervin berniat untuk tak bekerja lagi hari ini. dan Raka berharap, Ervin takkan membuat kesalahan yang akan membuatnya semakin ada dalam masalah lainnya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2