Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Adik kesayangan (part 1)


__ADS_3

Semalam, Raka masih memikirkan tentang cincinnya dan sama sekali tak penasaran dengan apa yang barusan ia lewatkan. Roh Raka masuk ke tubuh Ervin, bersiap akan pergi ke toko. Namun, bau sendawanya pagi ini, sedikit berbeda. Jelas sekali kalau bau itu, adalah sesuatu yang paling tak ia sukai.


“ya ampun.. orang ini habis makan apa sih semalam..? bau sekali !


padahal aku sudah menyikat gigiku beberapa kali !.” Ungkapnya sembari terus menutup hidungnya.


Hari ini intensitas turun salju sedikit berkurang dari hari biasanya dan memudahkan Raka untuk pergi tanpa menggunakan syal dilehernya lagi. Beberapa saat, sampailah ia di toko roti dan segera menuju ke posnya.


Ia sengaja menggunakan gaya rambut yang berbeda ditambah dengan pomade yang kemudian menyisir rapi rambutnya kebelakang. Nampak jelas akan ketampanan wajah Ervin di cerminnya. Sembari melayani para pembeli, ia memanfaatkan waktunya untuk melihat kabar terkini tentang perusahaannya. Sebuah berita membuatnya terkejut ketika nama adiknya dicantumkan dalam pelaku terduga kasus kematiannya.


“apa..?! apa-apaan ini..? cihh ! pasti ini berita bohong ! mana mungkin adikku itu pelakunya. Ini pasti akal-akalan agensi berita untuk meraup keuntungan.” Gumamnya.


**kringg !**


Bel kecil diatas pintu masuk berbunyi karena seorang pelangan mendorong pintunya masuk. Seorang gadis bermata hazel datang menyapanya tetapi, kali ini dengan wajah yang sedikit murung dan terlihat tertekan.


“permisi, bisakah aku pesan roti coklat dengan segelas cappucino latte..?”


“tentu nona. Silahkan duduk” ucap Rak sembari tersenyum dan bersikap ramah padanya.


Ia tak menyangka Rasya akan datang lagi kemari setelah kejadian yang kemarin. Ia mungkin masih ingat dengan jelas betapa kasarnya adiknya saat itu. tetapi, ia terlanjur sangat sayang padanya dan tak bisa jika tak memaafkan kesalahannya.


Maka, Raka hanya membalasnya dengan senyuman.


Setelah pesanannya siap, gadis itu tak langsung pergi melainkan meminta bertemu dengan pemilik toko ini. Raka tak ada pilihan lain juga alasan untuk menolaknya. Jadi, dia mengetuk pintu kantor bosnya dan memberitahunya akan hal tersebut.

__ADS_1


“untuk apa dia menemuiku..?” tanya Meira.


Raka hanya menggangkat pundaknya sembari menggelengkan kepalanya yang menjadi tanda kalau ia tak tahu apa jawaban atas pertanyaan Meira. Dengan menghela nafas, Meira melangkah keluar dan menemui gadis itu.


“apa ada suatu hal lain kau menemuiku..?” ucapnya sembari memalingkan wajahnya.


Gadis itu tak memperhatikannya jua dan tetap menikmati minumannya sembari menghirup aroma kopi itu dalam-dalam.


Tetapi, ada hal aneh dengan tangannya yang terus menerus bergetar ketika memegang gelas kopinya. Ia segera memalingkan wajahnya lagi dan mencoba menghiraukan apa yang barusan dia lihat.


“aku kemari, hanya ingin bertanya padamu.


Apa kau pernah takut kehilangan seseorang..? hmm..? seseorang ..yang takkan bisa kau miliki lagi.” Ucap Rasya yang telah meletakkan gelas kopinya.


“ap..apa maksutmu..?”


tanya Meira sembari mengernyitkan dahinya yang tengah terheran dengan perkataan Rasya.


“jawab saja.”


“ya, aku..pernah."


“lalu, bagaimana agar kau bisa mendapatkannya kembali..? apa kau memaksanya atau hal lainnya..?”


“hal lain..? hal lain seperti apa..?”

__ADS_1


“seperti, kau mengikhlaskan dia bersama yang lain seakan-akan kalau cintamu itu tulus.. Apa kau pernah..?”


Meira semakin dibuat bingung oleh ucapan Rasya. Ia seperti menyembunyikan sesuatu dengan berkata seolah-olah majaz dalam bahasanya. Meira terus saja memandangi tangan yang terus bergemetar itu. dan lirik mata yang terus bergerak kesana kemari seperti mencoba menghindari sesuatu.


Sampai perhatiannya teralihkan oleh siaran berita yang ada di TV tokonya. Berita yang menyiarkan kematian orang tua pemilik perusahaan *Ninework Yang rupanya merupakan orang tua Raka. Seketika tangan Raka menjadi sangat lemas dan dia jatuh terduduk dengan syoknya.


Tiba-tiba saja, Rasya berlari keluar dan membuat Meira panik. Meira berlari sekencang mungkin dan mengejar ke arah mana Rasya pergi. Akhirnya langkah kakinya tak kuat lagi dan melihat Rasya pergi menggunakan sedan hitam diujung jalan.


“huhh.. gadis itu cepat sekali larinya. Hah..?”


Meira kaget dengan ekspresi wajah Ervin yang terlihat sangat syok dan matanya berair begitu saja. Dia segera mendekatinya yang tengah berada dilantai sembari menanyainya.


“Ervin, kau..”


“dimana..? dimana gadis itu..? cepat katakan ! kemana gadis itu pergi..?!” teriak Raka dengan mengoyangkan pundak Meira.


“ga..gadis itu sudah pergi jauh..”


Raka dengan cepat bangkit dan segeral berlari secepat mungkin keluar dan mengejar Rasya. Apa yang dia dengar dalam percakapan antara Meira dan adiknya, sangatlah tak wajar dengan adanya berita kematian Mamanya yang secara tiba-tiba. Memang mamanya sedang sakit parah sehingga dia tak bisa turun dari tempat tidurnya. Dalam pikirannya, Mamanya tak mungkin mendadak tiba-tiba meninggal tanpa sebab. Pasti ada sebuah faktor dalam hal itu semua.


Langkah Raka terhenti ketika didepan kediamannya menjadi tempat duka. Dan disana, Rasya adiknya tampak sangat menangis dan terpukul dengan kematian Mamanya.


“Sebenarnya, siapa pelaku dibalik ini semua..?” gumam Raka sembari memandangi dari jauh.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2