
Seusai bekerja, Raka pulang lebih cepat dari biasanya. Dia memberi beberapa makanan dan membawanya pulang. Sesampainya dirumah, ia menaruh makanan itu di meja makan. kemudian, dia masuk kekamar sembari membaringkan dirinya dan roh Raka pun keluar dari tubuh Ervin.
“hah..! hari yang melelahkan pastinya. Aku sengaja membelikanmu makanan yang enak.
Jadi, pastikan kau menghabiskan itu semua ya..!” ucapnya sembari pergi.
Tetapi anehnya, Ervin yang bangun kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari sebuah laci pakaiannya. Disaat itu, ia tiba-tiba menangis dan tentu saja hal itu membuat Raka kaget dan langsung masuk kedalam.
“aku tahu kau ada disini. Aku mohon…aku mohon padamu. Pertemukan aku dengannya lagi selagi waktuku masih ada.
Aku mohon padamu..sampaikan rasa yang belum tersampaikan ini padanya..” teriak Ervin yang menangis sembari memegang erat kotak kecil itu.
Raka hanya terdiam dan terpaku disana saat itu. Ervin mungkin tahu mengenai keberadaanya disini dan sedang meminta bantuannya.
Ervin masih saja menangis dan beberapa saat kemudian, berhenti. Jam menunjukkan pukul 9 malam dan waktunya bagi Ervin untuk pergi ke rumah sakit.
“aku heran denganmu. Apa kau benar-benar bisa tahu mengenai kehadiranku ini..?
apa kau bisa merasakan sesuatu..?” ucap roh Raka yang tengah berjalan disamping Ervin.
Setelah lama, dia berjalan. Akhirnya sampailah Ervin dirumah sakit. Seperti biasa, roh Raka kembali masuk ke kamar dimana dia masih terbaring koma. Lagi-lagi, dia tak mendapati siapapun didalam selain tubuhnya yang lemah. Roh Raka kembali menuju koridor dengan sedih nya. Namun saat itu, ada seorang perawat yang tak sengaja menabrak wanita yang tengah terburu-buru.
__ADS_1
“aduh ! perhatikan jalanmu !”
“maaf. Maaf nona..”
Wanita itu segera bangun dan pergi. Tetapi dia menjatuhkan sebuah kalung permata dan perawat itu mengejarnya kemudian memberikan kalung itu kembali padanya. Raka curiga, untuk apa Rasya adiknya terlihat terburu-buru sampai melupakan kalung yang berharga itu.
“bukankah kalung itu..? ohh ! iya.”
Raka baru ingat kalau kalung itu sangatlah mirip dengan kalung yang diberikan Ervin kepada seorang gadis dimasa lalunya waktu itu. roh Raka tetap penasaran dan akhirnya mengikuti Rasya yang masuk kedalam ruangannya.
Tak seperti gelagat biasanya, Rasya nampak panik dan seperti sedang mencari sesuatu didalam ruang inapnya.
“dimana..?! dimana benda itu..? aakkhh ! kak ! kakak, aku tahu kau pasti menaruhnya disuatu tempat bukan..?
“Ra..Rasya..? ada apa denganmu..?” batin Raka.
Rasya langsung jatuh terduduk sembari menangis di depan ranjang kakaknya. Entah apa yang merasuki dirinya sampai dia menangis sejadi-jadinya sembari menggengam kalung permata itu. melihatnya, membuat Raka tak tega sekaligus penasaran.
Apa yang sebenarnya dia cari kemari. Lebih dari 1 jam lamanya akhirnya Rasya memutuskan untuk pulang dengan mata yang sembab dan wajah yang tertunduk lesu.
Roh Raka masih mengikutinya disamping nya. Sampai pada saat turun dari lift, Rasya yang berjalan dengan terombang ambing itu ambruk di koridor rumah sakit. Pada malam itu, sepi sekali orang yang lewat disana. Raka yang berada diampingnya dibuat bingung karena dirinya sendiri tak bisa menolong adiknya.
__ADS_1
Untungnya, tak lama datanglah seorang petugas kebersihan yang tak lain adalah Ervin. Dengan menggendong wanita itu, ia membawanya ke ruang perawatan yang tak terpakai dan membaringkannya disana.
“huhh..syukurlah ada kau kawan. Aku berhutang banyak padamu.” ucap Raka.
Ervin yang masih menggunakan seragam lengkap dengan masker itu, masih duduk disamping Rasy sembari terus memandanginya. Setelah ada tanda-tanda Rasya akan sadar, barulah ia beranjak pergi.
Tapi kali ini, ada yang membuat Raka tertegun dan tak percaya dengan apa yang terjadi. Rasya memegangi tangan Ervin dan mencegahnya tuk pergi.
“aku mohon..percayalah. tak bisakah kau menerima maafku..?”
Ervin diam terpaku disana mendengar ucapan yang baru saja dia dengar. Genggaman Rasya semakin melemah dan kepalanya kembali merasa pusing lagi. Dia pun akhirnya melepaskan Ervin dan Ervin pergi begitu saja dari sana tanpa menolehnya lagi.
Raka mencoba mencerna ini semua. menyangkal kalau mungkin Rasya sedang mengigau saat pingsan tadi. Roh Raka segera mengikuti Ervin yang pergi menuju ruang ganti sambil melepas semua seragamnya. Terlihat jelas diwajahnya kalau dia tengah merasa kesal dengan suatu hal sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.
“kenapa kau lagi..?!” ucap Ervin.
Siapa yang dimaksud Ervin membuat Raka berfikir mungkinkah ada hubungannya dengan Rasya, adiknya..?. mungkin saja ini ada kaitannya dengan kotak kecil dan perhiasan itu. bingung. Itulah yang dirasakan Raka dengan banyaknya rentetan peristiwa hari ini.
roh Raka terus mengikuti Ervin yang kemudian pulang menuju rumah. Tanpa dikira-kira sebelumnya, Ervin kembali mengambil kotak kayu milik Raka dan membukanya. disaat itu pula Raka menjadi gugup. jika Ervin akan menyerahkan atau malah membuang kotak itu. tetapi, dalam bayangan pikiran Ervin, dia bisa melihat secara nyata kalau dia yang telah mengambil kotak itu dari suatu tempat.
Dengan tatapan yang kosong, Ervin duduk diatas kasurnya sembari berdiam diri. Entah apa yang dia pikiran dan Raka masih ada disampingnya juga. Tak lama, akhirnya dia memilih memejamkan matanya dan tertidur.
__ADS_1
Bersambung..