
Meira kaget melihat Ervin tengah dipukul seseorang yang tak lain adalah mantan pacarnya sendiri, Azka. Ia langsung berlari dan melerai mereka.
“kak Azka cukup ! kau sudah keterlaluan ! bukankah sudah kukatakan tentang alasan kita putus…?” teriak Meira sambil melerai pukulan Azka.
“tidak Mei. Aku percaya kita putus pasti karena pria ini kan..! iya kan..?” seru Azka.
“pergi ! aku bilang pergi !” teriak Meira.
“cihh ! Meira lihat saja nanti.” Ucap Azka sambil pergi menjauh.
“Ervin kau tak apa-apa..?” tanyanya sambil membantunya bangkit.
“uhukk..uhukk.. tak apa. Aku harus pulang sekarang.” Ucapnya sambil melangkah dan mengambil kotak kayunya yang jatuh.
“tidak jangan pergi ! lukamu harus diobati.” Ucap Meira sambil memegang pundak pria berbadan tinggi itu.
“tak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri. aku pergi dulu.” Ucapnya sambil pergi.
Meira sangat tak enak hati melihat keadaan Ervin yang wajahnya penuh luka. Dia pun masuk ke rumah dengan perasaan bersalah.
Sesampainya dirumah, ia langsung mengobati lukanya. Dan Raka pun bingung karena beberapa menit lagi, tiba giliran Ervin untuk sadar. Dan tak lama waktu itu pun tiba.
“haduh !! bagaimana ini..? bagaimana jika ia sadar dengan keadaan wajahnya..?
haduhh?! Apa aku akan ketahuan dan langsung diseret malaikat maut..? ya ampunn..” Ucap Raka dengan kebingungan melihat Ervin yang masih tertidur dengan bekas luka diwajahnya.
Dia mondar-mandir sambil mengigit jari-jarinya. Dan tak lama, malaikat maut pun datang menghampirinya yang tengah kebingungan.
“ya ampun. Kali ini masalah apa lagi ini..?” ucap Arva.
“hahh..?! apa kau kesini untuk menjemputku..? aku mohon jangan malaikat maut. Kasihanilah aku…” ucap Raka sambil memohon.
__ADS_1
“siapa bilang aku ingin menjemputmu..? aku hanya mampir sebentar.”ucap Arva dengan santai.
“eh..? bukan ya..? lalu, apa kau bisa mengatasi masalahku ini..?” tanya Raka.
“tentu saja tidak. Aku kan bukan penyihir..” ucap Arva dengan tersenyum.
“hiihh ! dasar kau ! maksutku, bagaimana jika ia terbangun dan sadar jika wajahnya penuh luka dan dia menyadari keberadaanku..? apa kau langsung menyeretku pergi..?” tanya Raka.
“tentu saja tidak ! karena pria ini sudah tahu sebelumnya mengenai roh yang akan mendiami tubuhnya.” Jelasnya dengan tersenyum.
“eh..? jadi dia sudah mengenalku begitu..?” balik Raka.
“tidak. Dia hanya tahu kalau tubuhnya akan didiami oleh roh orang lain. Tapi itu belum berarti ia bisa mengenalmu.”
“oh begitu ya,,hahh !! Ervin mulai sadar !”
“kalau begitu, kita lihat saja bagaimana ekspresinya.”
“hei..! apa kau minum obat pencahar..? kau lihat ! sepertinya dia kesakitan di kamar mandi.”
“tidak. Tadi aku hanya.. oh !! apa dia tak tahan dengan makanan pedas ya..?” pikir Raka.
“dasar bodoh kau ! kenapa kau membandingkan tubuhnya dengan tubuhmu dulu..? bagaimana jika ia sakit..?” ucap Arva sambil menjitak kepala Raka.
“aku..kan tidak tahu kalau ia tak bisa makan makanan pedas.”
“ya sudah. Uruslah urusanmu sendiri” ucap Arva yang kemudian menghilang pergi.
Betapa terkejutnya Ervin saat bercermin dan melihat wajahnya yang penuh dengan luka lebam. Ditambah lagi sakit perut yang tak tertahankan, membuatnya sedikit takut dan curiga. Kalau roh yang mendiami tubuhnya bukanlah orang yang baik. Setelah beberapa saat, Ervin keluar dari kamar mandi. Ia melihat kotak kayu tadi dan penasaran tentang ada apa didalamnya. Ia pun mengambilnya dan membuka nya.
“ya ampun ! aku lupa kotak stempelku. Ervin aku mohon jangan di buang.”
__ADS_1
“apa ini..? apa roh yang punya benda ini..? sebaiknya, aku simpan saja.” Gumam Ervin yang kemudian meletakkannya didalam lemari bajunya.
Tak disangka efek dari makanan pedas itu masih terasa. Setelah bolak-balik ke kamar mandi, Dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke dokter. Melihat itu, Raka pun mengikutinya. Dan sampai di rumah sakit, dokter memeriksa kesehatan Ervin kemudian memberinya obat.
“sebaiknya kau jaga pola makanmu. Bukankah kau tak suka makanan pedas. Kenapa kau masih memakannya…?” ujar si dokter.
“terima kasih dok. Aku pergi dulu.” Pamit Ervin yang tak menghiraukan pertanyaan si dokter.
Raka yang menunggu lama di luar ruangan. Akhirnya lega setelah melihat Ervin keluar. Dan sepertinya, ia akan cuti dari pekerjaannya beberapa hari dan beristirahat di rumah. Sambil menuju ruang atasannya, ia menyapa beberapa rekan nya.
“hei Ervin. Kenapa kau ingin cuti..? apa kau sakit..?”
“iya. Aku sedang menjalani perawatan.” Jawab Ervin.
“kalau begitu, cepat sembuh ya..”
“ya tentu. Oh ya, apa kau percaya dengan roh yang bisa menguasai tubuh manusia..?”
“eh..?! kenapa kau bicara seperti itu..?”
“ehm.. tidak. Lupakan. Kalau begitu, aku pergi dulu.
Raka masih menunggu Ervin di lorong koridor. Kali ini dia sempat beberapa kali mengunjungi ruanga inapnya tetapi tak bertemu siapapun disana. Dia berfikir mungkin Rasya sedang beristirahat di rumah. Tak lama Ervin pun muncul dan Raka mengikutinya pulang.
Sampai dirumah, Ervin meminum semua obatnya dan duduk termenung sambil menekuk lutut kakinya. Sepertinya dia tengah memikirkan sesuatu. Melihat itu, Raka segera duduk disampingnya dan berbicara padanya meski ia takkan mendengarnya.
“hufft..Ervin. maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu ketakutan seperti itu. percayalah. Aku tak sengaja melakukan itu. aku menyesal.” Ucapnya sambil menghadap Ervin yang tengah duduk termenung.
Sejam dua jam, Ervin sama sekali tak mengubah posisinya dan belum juga tidur. Sesekali ia pergi kekamar mandi atau hanya sekedar membasuh mukanya. Raka merasakan gelagat aneh Ervin dan sadar kalau ia berusaha agar tak tertidur.
Sampai tibalah pukul 5 pagi, ia tetap terjaga. Raka berpikir kalau Ervin mulai curiga dan waspada akan dirasuki lagi olehnya. Hal ini membuat Raka semakin khawatir dan kebingungan.
__ADS_1
Bersambung…