Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Saat tersulit


__ADS_3

_Setiap langkah yang ada, akan membawaku lebih dekat dengan sebuah perpisahan. Tanganmu yang ku genggam, kini semakin lama semakin menghilang__#Raka


***


Kantung mata yang telah menghitam itu, berusaha keras menahan rasa kantuk karena lapar yang tak tertahankan. Tubuhnya semakin melemah seiring dengan berjalannya hari dia disekap disana.


Meira dengan keadaan yang sangat memprihatinkan, telah melakukan berbagai cara. Namun, para penjahat kejam itu, sama sekali tak membiarkannya lolos kemanapun juga.


Dia kini diikat berdiri disamping tiang kayu agar dia tak punya tenaga untuk kabur dan hanya menyimpan tenaganya untuk berdiri seharian.


.


.


.


.


Sedangkan diluar sana, waktu pergantian penjaga telah dimulai. 2 penjaga yang ada didepan, bertukar dengan 2 penjaga lain yang telah datang kesana. Keduanya berpakaian dengan sangat rapi dan sangat menyerupai mereka.


Tetapi, ada satu hal yang tak pernah orang-orang itu lakukan yaitu, saling menepuk pundak. 2 orang yang barusan datang itu, nampaknya dicurigai dan dengan segera, baku hantam terjadi diantara mereka.


**Bruak ! Bruakk !


“ap..apa yang terjadi diluar..?” gumam Meira dengan ketakutan.


Kakinya sangat lemas dan dia benar-benar khawatir jika ada orang lain yang lebih kejam masuk kedalam dan akan melukainya lagi.


ekor matanya tertuju pada pintu besi yang ada diujung, terbuka perlahan.


Dan muncullah 2 penjaga dengan pakaian serba hitam. Namun, mereka memakai penutup dimulut mereka sehingga hanya terlihat bagian dari mata mereka saja.


Dengan cekatan layaknya agen, orang itu melepaskan semua ikatan yang ada ditubuh Meira dan membawanya pergi secepat mungkin.


Meira hanya terheran, siapakah mereka sebenarnya. Dengan terburu-buru, mereka menarik tangan Meira dan keluar dari sana. Tetapi, saat didepan mereka dihadang algi oleh para penjaga lain.


“kau, cepat bawa wanita ini ! aku akan menanganinya !” ucap salah seorang yang menutup wajahnya itu.


Segera orang itu membawa Meira kabur dari sana dan berlari sekencang mungkin menghindari penjaga lain yang mengejar mereka dibelakang. Nafas Meira benar-benar sesak dengan adegan kejar-kejaraan ini. sementara area basement yang luas itu, sepenuhnya telah dikepung oleh para penjahat itu.


“tunggu ! aku…aku mohon aku sudah tak bisa kuat lagi..” keluh Meira yang tengah berhenti dengan tiba-tiba saja disana.


“nona, kita tak bisa berhenti sekarang juga ! mereka mengejar kita dibelakang. Kita harus secepatnya mencari jalan lain dan keluar dari sini !”


“tapi, aku..”

__ADS_1


“nona, kau harus keluar dari sini !


percayalah kau pasti bisa ! karena..ada orang yang sudah menunggumu keluar dari sini !”


Meira tertegun dengan ucapan orang itu. mendengar perkataannya kalau masih ada orang lain yang menginginkannya untuk selamat, membuatnya bangun dan melanjutkan langkahnya lagi. tetapi, tanpa disangka ada penjaga lain yang telah menangkapnya dan membawanya lagi dari sana.


“lepaskan dia !”


Orang itu menghantamkan tinjuannya ke wajah penjaga itu dan menendang keras kaki serta punggung belakangnya. Kelihatan sekali kalau dia sudah mahir dalam bela diri.


Segera Meira kembali bangkit dibantu dengan bantuan uluran tangan orang itu. mereka berlari dan sampai akhirnya menemukan sebuah jalan rahasia yang tak diduga Meira sebeumnya. Segera orang itu, menyuruhnya untuk masuk terlebih dahulu dan mencari jalan keluar dari sana.


“tapi, bagaimana dengan kau..?”


“jangan pedulikan aku. Meski aku sudah bisa selamat dari sini, tetapi sahabatku itu..masih butuh bantuanku.


Untuk hal ini..jadi kumohon, kau keluarlah dengan selamat dan temui lah orang itu disana ! cepatlah !” pinta orang itu sembari mendorongnya menuju jalan sempit dan tertutup oleh barang rongsokan.


Meira menatapnya dengan penuh rasa terima kasih karena telah menyelamatkannya dari kekejaman dan mimpi buruk ini. air matanya segera mengalir deras begitu melihat cahaya terang dari ujung jalan disana. Meira masih berfikir tentang siapakah orang yang dimaksud penolong tadi.


.


.


.


.


Tetapi, kepalanya tiba-tiba merasa sangat pusing sesaat setelah melihat secara samar sesosok pria mendekat ke arahnya.


------


“ukkh..dimana aku..?”


Mata Meira mencoba terbuka dengan masih memegangi kepalanya, akhirnya dia bisa dengan jelas melihat siapa yang telah menolongnya saat pingsan tadi.


“aku telah membuatkanmu makanan. Kau, harus segera memakannya.”


Meira mencoba duduk diatas kasurnya dan melihat Ervin, telah meletakkan makanan disamping mejanya.


Tatapan Ervin yang terlihat ada secercah kepedulian, membuatnya ingin mengatakan dan bertanya segalanya tentang dirinya.


Ervin kembali memandangi wajah gadis itu dengan terdiam dan tak berekspresi apapun.


Dia memilih beranjak dari sana dan meninggalkan gadis itu sendirian terbaring dikasurnya. Tetapi, langkah seketika dicegah dengan meraih tanganya yang dingin itu.

__ADS_1


“tak bisakah…kau menemaniku malam ini saja..? aku..aku..sangat takut.”


Ervin terdiam dan Meira terlihat menitikan banyak air mata dipipinya. Untungnya, Ervin masih tahu dengan jelas, kenapa semua ini terjadi. Berkat Raka, dia masih ingat beberapa hal yang ada dipikirannya. Ervin menyetujuinya dan kembali menemaninya disana malam itu.


Sementara roh Raka, juga hadir disana dan lega kalau Meira dalam keadaan baik-baik saja.


Seusai makan, dengan lembut Ervin membantunya berdiri dari kasurnya dan Meira melangkah ke arah kamar mandi dan membereskan tubuhnya.


Ervin pun berdiri diluar kamar Meira dengan menunggu sembari duduk diruang tamunya. Roh Raka hanya tersenyum melihat Ervin yang telah bersedia membantunya kali ini.


dia tak henti-hentinya berterima kasih padanya sekalipun Ervin tak mendengarnya.


.


.


.


.


Beberapa saat kemudian, Meira telah selesai membersihkan dirinya dan menyuruh Ervin untuk masuk lagi. dan Ervin masuk kembali kekamarnya dengan membawa obat-obatan juga kotak P3K untuk mengobati lukanya.


“tidak ! kau tak usah membantuku lagi. aku bisa melakukannya sendiri..”


“kau yakin bisa mengobati tangan kananmu dengan tangan kirimu..?”


Meira tertunduk sembari memikirkan perkataan Ervin. Tentunya dia takkan bisa melakukanya karena tangan kirinya, juga terluka karena bekas tali yang mengikat erat disana.


Ervin segera mengeluarkan antiseptik dan membersihkan luka yang ada diwajah Naina terlebih dahulu.


“aduh..!”


Meira berteriak kesakitan sembari memandangi wajah Ervin yang juga sedikit terkejut dengannya. Tangan Ervin kembali menyentuh luka dipipinya dengan kapas yang telah diberi obat luka sebelumnya.


Mata Meira sama sekali tak bsia berpaling dari kelembutan Ervin saat dia mengusap dengan lembut lukanya. Setelah semua lukanya dibalut dan diplester, Ervin menutup kembali kotak P3K dan beranjak pergi dari sana.


“kau takkan pulang kan..? ehm..maksutku, kau bisa menetap disini dikamarku sebelah..” ucap Meira dengan gugup.


Ervin meresponnya dengan lirikan tanpa senyuman itu dan segera keluar dari kamarnya. Hari yang melelahkan baginya, dan saat sulit baginya akhirnya terlewatkan. Meira mencoba mencari kenyamanan dengan merapikan bantalnya. Saat itu juga, dia berfikir kalau mungkin saja, Ervinlah yang memanggil orang untuk menolongnya.


dan juga, satu hal yang sangat dia bingungkan adalah dia sama sekali tak menjelaskan apapun juga padanya saat itu.


Bersambung…


A/N: jgn lupa vote dan like karyaku agar menang dalam kontes 😆

__ADS_1


makasih aku sayang kalian semua..😇


__ADS_2