Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Masa yang terlupakan


__ADS_3

"tunggu ! kau..siapa sebenarnya dirimu..?” ucap Meira pada Arva yang akan beranjak pergi.


“lihatlah pada jam yang kuberikan padamu. Semua kebingunganmu akan terjawab..”


Arva kemudian pergi meninggalkan Meira sendirian disana. Meira masih saja tak mengerti sebenarnya apa yang barusan saja terjadi.


Apa orang itu sedang menghipnotisnya..? lalu, kenapa ia tak mengambil suatu barang pun darinya..?


sembari terus berjalan merenungi kejadian tadi, rupanya dari belakang Roh Raka mengikutinya.


“Meira, apa kau sedih setelah mengenang kejadian itu..?” ucapnya disamping Meira yang tengah berjalan.


Meira masih memasang wajah murungnya dan disaat itu, dia bertemu dengan seseorang yang tak pernah dia bayangkan akan bertemu lagi. Dan orang itu, mengajaknya duduk untuk membicarakan suatu hal pada sore hari itu.


“jadi, kak Azka ingin membicarakan apa..?”


Azka masih gugup ketika Meira bertanya seperti itu. ia berusaha menarik nafasnya dan bicara dengan pelan-pelan.


Dia sudah pernah menceritakan kalau awalnya, dia sama sekali tak mencintai Meira hanya karena perintah Sintya. Dan pada masa-masa itu, dia menyuruh Azka agar menjauhkan Meira dari Raka. mencoba membuat jarak antara mereka dengan pertengkaran dan pertikaian.


Mendengar itu, Meira sedikit kesal dan tak sanggup lagi. Dia pun berdiri dan berlalu pergi. Tetapi, langkahnya itu segera dicegah oleh Azka.


“Meira maafkan aku..selama ini aku hanya memperdayamu dan tak benar-benar mencintaimu dengan tulus. Maafkaan aku.” Ucap Azka sembari memeluknya dari belakang.


“sudah cukup kak..sudah cukup aku mendengar semua pengkhianatanmu ini.


aku sudah muak dengan semua permainanmu yang bahkan aku sendiri mengira, kau takkan tega melakukan hal itu padaku !

__ADS_1


apa salahku sampai kau tega berbuat seperti itu..?” ucap Meira dengan menangis.


“mulai saat ini, jangan pernah sekalipun bertemu atau menghubungiku lagi.


Karena aku, takkan mau jadi Meira yang gampang kau tipu seperti dulu lagi !” ucapnya sembari pergi dan menangis.


Langit Sore pun berubah menjadi malam. Air mata tanpa kesedihan itu, akhirnya mengering dengan sendirinya.


Seiring dengan langkah kakinya, dia terus berjalan dan akhirnya membawanya didepan gedung SMA nya dulu. Meira duduk disana sembari memandangi betapa rindunya akan masa-masa saat itu.


Raka yang sedari tadi mengikutinya, terus saja melihat Meira yang tengah memandangi gedung sekolah itu dari jauh. Raka melihat mata dan wajah yang dulu menemaninya saat-saat sekolah disana. Mata itu, tak pernah sekalipun terlihat sedih waktu itu.


Meira masih teringat ketika dia terlibat pertengkaran kecil dengan Raka. Kilas balik itu, seakan mengingatkan Raka pada masa yang dia lupakan.


“Raka kenapa kau egois sekali..?!


meski mereka tak bisa selalu ada disisimu..” seru Meira.


“Meira, memangnya kau tahu apa tentang diriku..? memangnya kau terlahir dari keluarga sepertiku..? tidak bukan..? jadi, jangan ikut campur urusanku !”


Sentakan Raka itu, membuat Meira sakit hati. Bukan dengan nada bicaranya tetapi, dengan apa yang dia katakan. Dengan menundukkan wajahnya, Meira menlontarkan perkataannya.


“hah ! memang. Memang benar aku tak terlahir dari keluarga kaya sepertimu.


Tetapi, apa kau sadar jika kau seharusnya bersyukur terlahir dengan serba kecukupan..? bukan sepertiku yang bahkan tak pantas untuk bersekolah disini.


Namun, aku sadar. Aku sangat bersyukur dengan hidupku meski aku tak terlahir dengan serba kecukupan. Aku jadi bisa merasakan sebuah arti kehidupan yang keras bersama mereka.

__ADS_1


Makasih Raka ! kau membuatku lebih bersyukur dari sebelumnya !”


“Mei..Meira tunggu ! bukan seperti itu maksudku ! ahh..sial !”


Pertikaian itu, membuat Meira yang mengingatnya menitihkan air mata. Tak seharusnya dia marah pada Raka saat itu. tetapi, Raka tahu apa yang di ingat oleh Meira dan ikut bersedih karena perkataannya waktu itu.


Meira disana tak bisa membendung air mata itu. namun, apalah daya Raka yang disampingnya sudah dalam keadaan menjadi Roh.


Ingin sekali dia menghapus air mata itu dari wajahnya.


Ingatannya tak sampai disitu saja, dia masih ingat seusai bertengkar, Raka tiba-tiba mengejutkannya di jalan menuju gerbang sekolah dengan menggunakan topeng mainan untuk mengkagetkannya. Diluar ekspetasinya, Meira sama sekali tak terkejut dan malah menghindar dari Raka.


“Mei..Meira tunggu ! oke aku salah aku minta maaf. Aku salah karena tak bisa mengontrol ucapanku saat itu.”


ucap Raka sembari tertunduk dan melepaskan topengnya itu.


Tiba-tiba saja, Meira mengejutkan Raka dengan suara tawanya. Meira tak bisa menahan tawanya melihat Raka yang terlihat lucu menggunakan topeng itu dan tak berhasil mengerjainya. Raka terlihat malu saat suara tawa Meira menjadi lebih keras.


“Meira, saat itu..kau langsung bisa tertawa meski aku tahu. Kau masih marah dengan ucapanku waktu itu. andaikan saja, saat ini..aku bisa membuatmu tertawa lagi seperti dulu..”


ucap Raka yang masih memandangi Meira mengusap air matanya.


Angin malam hari berhembus sangat kencang dan membuat Meira berfikir sudah saatnya dia pergi dari sana. Meira mengusap sisa-sisa kesedihan di matanya sembari berdiri dari tempat duduknya. Dia sangat terkejut begitu membalikkan badannya, ia melihat ada Ervin diujung bangku yang ada didepan gedung sekolah. Sama sepertinya, dia memandangi gedung sekolah itu kemudian beranjak pergi.


Keduanya sama-sama menatap satu sama lain seakan tak percaya akan bertemu ditempat yang sama. Dan angin malam itulah yang memecah keheningan diantara mereka berdua.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2