Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Pergilah


__ADS_3

Arva yang terus memegang tangannya itu, akhirnya duduk di sebelah Raka dan mulai bercerita.


“tadi malam, saat aku mengantarnya pulang. Ditengah jalan tiba-tiba saja ia bangun dan mengoceh seperti orang gila.” Ungkap Arva sambil tersipu bercerita.


“hei..! dia itu mabuk. Tak bisakah kau memanggilnya selain sebutan orang gila..?!!


Bukankah kau pernah menjemput nyawa manusia ketika ia mabuk..?” tegas Raka.


“iya. Tapi, kali ini beda. Saat aku berusaha menggotong tangannya dan berjalan kembali, tiba-tiba saja aku terpeleset dan jatuh menimpanya.


Ukhh...memalukan sekali rasanya.” Ucap Arva sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“apa..!!? kau..kau jatuh menimpanya..? hah..!! kau ini benar-benar tak bisa berhati-hati ya..!” seru Raka sambil terkejut mendengar cerita Arva.


“hahh.. sudahlah. lain kali jangan minta bantuanku untuk mengurus orang mabuk lagi ! lebih baik yang lain saja.” Ucap Arva sambil berdiri sambil memegang tekuknya yang kelihatan memerah.


“baiklah. Lain kali aku takkan menyuruhmu untuk itu. oke… aku pergi dulu.” Pamit Raka sambil membuka pintu dan kemudian keluar.


Arva yang masih terlihat berdiri disana, rupanya tak bisa menghilangkan rasa malunya ketika itu. dan ia membuka jam saku tua yang ada ditangannya. Dipandangnya jam itu dan terdapat beberapa nama arwah yang menanti untuk dijemput. Tetapi disisi lain jam itu, ada sebuah foto dua anak kecil yang nampak bermain sangat gembira. Matanya hanya fokus pada foto itu.


“hufft.. baiklah. Sudah saatnya pergi.”


--------


Suasana esok yang dipenuhi hiruk pikuk manusia yang lalu-lalang di sekitar jalanan kota. Raka berjalan dengan santai diantara mereka dan sampailah ia di toko roti tempatnya bekerja. Didalam, ia segera memakai seragam kerjanya dan menyapa beberapa rekan kerjanya.

__ADS_1


“halo, aku Ervin. Salam kenal kalian semua.” Ucapnya.


“hai Ervin. Aku Tom. Bos memperkerjakanku di bagian panggangan ini.”


Dan si manajer toko itu pun datang disaat perkenalan mereka. Dengan rambut panjang yang di kuncir itu, ia masih terlihat menawan. Bahkan dengan style baju kemeja dan celana jeans biasa.


“baiklah semua. Kalian ku kumpulkan disini untuk sedikit memberitahu lagi tentang pekerjaan kalian. Dan jangan lupa utamakan senyuman. karena itu adalah moto kita. Total ada 6 pegawai. Aku harap kalian bekerja keras di haru pertama kita."


“siap bos.” Ucap mereka dengan serentak.


Mereka pun bekerja denga bersemangat sambil menunggu pelangan yang datang. Karena hari pertama toko rotinya baru saja buka, jadi sangat ramai orang yang berkunjung disana. Sampai-sampai waktu tak terasa akan menjelang siang hari. Dan si bos memerintahkan untuk mereka beristirahat.


“hei Tom. Bukankah bos kita sangat hebat..? dia perempuan tapi sangat pandai dalam urusan bisnis dan melayani pelangan. Aku benar-benar harus belajar dari dia.”


“halah..! eh Roy. Kau ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kemampuan bisnis bos kita. Meski kau lulusan marketing. Tapi kau sudah membuat kesal beberapa orang.” Guyon si Tom.


Ditengah sengang waktu makan siang, Para pekerja sedang asik mengobrol santai dan bercanda. Namun, Raka yang disana sepertinya tak tertarik dengan lelucon mereka dan memilih pergi menuju bosnya yang berda di meja kasir.


“permisi. Bos. Bolehkah aku duduk disini dan mengobrol sebentar..?” tanya Raka yang nampaknya Meira sedang mencatat pemasukan mereka.


“iya..tentu.”


“ehm.. bos. Bagaimana keadaanmu. Apa kau sehat..?” tanya Raka.


“ya tentu. Aku sehat-sehat saja.” Ujar Meira sambil menulis beberapa catatan.

__ADS_1


“lalu, apa perutmu tak apa-apa usai minum semalam..?” tanya nya.


“oh gawat ! aku lupa kalau yang mengantarnya bukan aku” batin Raka.


Sejenak Meira tertegun dengan ucapan Ervin. Ia terheran dan berfikir mungkin dia yang mengantarnya pulang semalam.


“bagaimana kau tahu kalau aku minum semalam..? apa yang semalam itu kau yang mengantarku..?” heran Meira.


“duh..!? bagaimana aku menjawabnya..?” gumam Raka.


Meira yang tengah melirik tajam kepada Raka yang tak bisa berbuat apa-apa dengan pertanyaannya. Kemudian mendekati Raka. Tetapi saat itu juga, ada seorang pria datang ke tokonya.


“selamat siang. hai Mei aku..”


“ada apa kamu kesini..?” ucap Meira yang menoleh dan terkejut.


“Meira. Bisakah kita bicara sebentar soal kemarin..? aku benar-benar...”


“pergi.” Jelas Meira.


“apa..?! Mei, aku kesini cuman..”


“kak Azka aku bilang pergi ! pergi dari sini.” Ucap Meira sambil memalingkan wajahnya.


Air mata dengan cepat mengalir di kedua pipi Meira. Nampaknya, ia benar-benar tak ingin bertemu Azka lagi.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2