Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
peperangan


__ADS_3

Dengan tenangnya Sintya duduk dikursi milik Ceo perusahaan mereka. Sembari terus memutar-mutar sehelai rambutnya dengan jari telunjuknya. Wajah puasnya tak henti-hentinya terpancar begitu tahu, para wartawan itu melakukan tugasnya dengan baik.


“aku minta berita itu dimuat siang nanti !” ucapnya ditelpon.


Tak ada lagi yang memberikannya kesenangan selain semua rencananya berjalan dengan baik. Dengan lenggok liciknya, Sintya berjalan menuju kaca jendela sembari menyentuhnya.


“Ervin, ini hanya permulaan. Dan kita lihat saja siapa yang akan bertahan dan permainan ini !” ungkapnya.


Suara ketukan pintu membuyarkan pandangannya dan hanya melirik kepada ucapan asistennya yang mengatakan ada seorang pria yang ingin menemuinya. Sintya dengan terkekeh menyuruhnya untuk masuk.


tanpa menoleh sedikitpun ke arah pria itu, dia sudah tahu siapa yang datang padanya.


**prok ! prok ! prok !**


“aku sangat senang dengan sambutan yang kau berikan nona Sintya Audrey.!


Aku..bahkan sangat terkejut dengan jenis penyambutan yang kau kirimkan padaku.” Ucap Raka seusai bertepuk tangan dengan sedikit kesombongan dalam nadanya.


“huh..! aku kira kau takkan suka. Dan tentunya, aku merasa terhormat jika kau menyukainya tuan direktur baru..” ucap Sintya sembari membalikan badannya ke hadapan Ervin.


“sebenarnya, aku belum pantas dipanggil direktur. Betulkan..? karena menurutmu aku..belum memenuhi syarat sebagai pimpinan disini.


Tapi ! kau tenang saja. Aku pasti takkan mengecewakanmu”


ujar Raka dengan mendekatkan dirinya ke meja sembari menatap lekat Sintya yang berdiri dengan angkuhnya.


“tentu. Aku akan menunggu saat itu !”


Sintya pun pergi dari ruangan itu dan hanya menyisakkan kata-kata terakhirnya yang bagi Raka, itu adalah peringatan untuk kejutan yang selanjutnya.


Raka tak ingin ambil pusing karena dia, sudah ada strategi selanjutnya.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Jam kantor menunujukkan pukul 1 siang. Waktunya bagi para karyawan untuk beristirahat. Namun, tidak dengan jadwal Raka hari ini akan diadakan rapat dengan pemilik saham yang lain agar kerjasama perusahaan yang hampir bangkrut, bisa tumbuh kembali.


Raka sudah siap untuk pergi menuju ruang rapat. Sama sekali tak ada wajah yan takut atau tegang karena baginya ini hanya rapat biasa.


“baiklah. Kita mulai rapatnya !” serunya setibanya di ruang rapat.


Rapat berjalan dengan serius dan baik sementara Sintya, merasa agak gelisah dengan kemampuan Ervin tampil begitu baik saat mempresentasikan kinerja yang ada di SNHWA ini.


ditambah lagi, layar yang ada diproyektor itu sepertinya gagal menunjukkan rencana yang telah dia buat.


.


.


.


.


“tuan Ervin! melihat kinerjamu saat rapat tadi, kau benar-benar sangat handal dalam memegang posisi sebagai direktur utama disini.


Akan tetapi, kau sudah dituduh sebagai pelaku pembunuhan dari direktur yang lama.


juga, mengenai kasus adiknya yang sekarang masih berada dirumah sakit.


Apa sekarang kau tak merasa malu pada dirimu dengan menjabat sebagai direktur disini..?”


seru Sintya sembari berdiri sehingga semua orang terhenti dari langkahnya yang akan keluar ruangan.


Semua orang hanya terdiam dengan pandangan yang merendahkan ucapan wanita itu. dan Raka hanya membalasnya dengan tersenyum kecil. Sintya merasa ada yang aneh dengan orang-orang yang malah memandanginya bukan kepada Ervin.

__ADS_1


“tuan Ervin ! seharusnya kau membaca berita dulu sebelum berani memunculkan wajahmu ke rapat yang penting ini.


bahkan, orang lain pun sampai tahu kalau kau tak pantas lagi berada diposisi ini !” seru Sintya.


Raka hanya terdiam sembari melirik ke sekitarnya. Terlihat dengan jelas kalau orang-orang disekitarnya tak sekalipun mencelanya.


Tetapi malah, berbisik menghina terhadap Sintya. Mulutnya bergetar begitu mendengar apa yang mereka bisikkan. Dia sangat yakin kalau para wartawan yang mereka bayar, takkan salah dalam mengunggah berita tadi.


“ap..apa yang kalian bicarakan ! dia..! dialah yang harusnya kalian bicarakan.


Kenapa kalian malah menatap kearahku..?! dialah yang seharusnya kalian tatap !” teriak Sintya yang penuh amarah.


“ya ampun nona Sintya...Seharusnya kaulah yang melihat berita sebelum datang ke rapat dan mencelakai dirimu sendiri.


maaf, aku turut prihatin pada karyawan yang kau siksa saat itu..” ucap Raka dengan tersenyum kecil.


Sintya kaget dengan perkataan yang diucapkan Raka. Berita tentang dirinya yang sama sekali tak diketahuinya. Sintya hanya merasa syok kalau dia salah langkah lagu kali ini.


dan semua yang didalam ruangan itu, meninggalkannya sembari terus berbisik dan menatap dengan hinaan.


Raka pun pergi dari sana meninggalkan Sintya yang berdiri terdiam tanpa sepatah katapun. Dengan tangan yang gemetar akibat pikirannya yang kacau, Sintya mencoba membuka ponsel dan membaca situs berita diinternet.


Dan ternyata benar adanya berita mengenainya 1 tahun lalu, terbongkar ke publik dengan cepat dan banyak yang menangapi berita tersebut dalam 2 jam terakhir. Rencana yang semulanya untuk menjatuhkan pria itu, malah berbalik menyerang dirinya. Sintya tak menyangka semua akan jadi seperti ini.


------


“untung saja, aku dengan cepat menemukan rekaman itu dan mengunggahnya. Hufft..wanita itu, benar-benar tak kehabisan ide untuk menyerangku !” gumam Raka.


Pada awalnya, dia berfikir mungkin dengan mengambil rekaman cctv kantor, dia akan mendapatkan sesuatu yang menarik. Dan dugaannya pun benar.


Dia mendapati rekaman dimana Sintya menyiksa seorang pegawai karena kelalaiannya di sebuah ruangan yang lain. Matanya kembali terpejam dengan semua masalah yang bisa dia selesaikan.


Dilihatnya terdapat beberapa rekaman yang lain juga dan yang paling menarik matanya adalah rekaman cctv terakhir 2 hari lalu.


Matanya kembali terlihat syok sembari tangan yang menutup mulutnya yang mengganga karena kaget.

__ADS_1


Saat melihat isi dari rekaman CCTV itu, nampak dengan jelas sekali, kalau ada beberapa orang yang membawa wanita mirip Meira ke basement bawah. Raka tak henti-hentinya mengulangi rekaman itu sembari memastikan kalau wanita itu, bukanlah Meira.


Bersambung…


__ADS_2