
Mentari segera menyambut pagi dengan sinaran cerah dan sisa-sisa uap dingin diudara. Segala aktiftas dimusim dingin berjalan dengan baik tak terkecuali dengan Ervin.
Kali ini, roh Raka masih duduk disamping Ervin yang baru saja terbangun. Dilihatnya wajah Ervin yang terdiam sembari duduk dikasurnya semalaman, membuat Raka khawatir.
Jika Ervin akan melakukan hal yang sama seperti dulu.
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu..? Memangnya, apa yang terjadi pada malam itu..?" Tanya Raka dengan mimik yang penasaran namun juga khawatir.
Diam dengan tatapan kosong. Itu saja yang dilihat dari wajah Ervin. Raka sebenarnya sudah tak sabar untuk segera merasukinya.
Tetapi, hatinya tersimpan rasa iba akan hidupnya.
"Mungkin saja, ada seseorang yang berhubungan dengan masalahnya dan membuat Ervin seperti itu, pikir Raka dengan menghela nafas yang panjang.
Bayang-bayang dari uap dingin dijendela, menerpa wajah maskulinnya yang tepejam kembali diatas bantalnya. Tanpa pikir panjang, roh Raka masuk dan segera bersiap menuju kantornya sembari merancang rencana untuk membuka pintu besi dibasement.
-----
"Sintya, apa yang akan kaulakukan dengan orang itu? Dia sangat menyusahkan dan tak berguna ! Apa maksud dari rencanamu itu..?" Tanya paman Steve dengan kesalnya.
Wanita yang tengah menyelempangkan jasnya dibahu rampingnya itu, dengan santainya malah menyeruput segelas kopi. Dia sama sekali tak menggubris pertanyaan ayahnya sendiri dan terus saja fokus pada layar monitornya.
Mata tajanya tak henti-hentinya mengamati setiapbdetail dari dokumen-dokumen yang ada di komputer bekas Ceo dulu. Sembari terus melihat, ayahnya bertanya lagi dan kali ini membuat mulut liciknya menjawab.
__ADS_1
"Ayah tenang saja. Aku akan tangani orang itu. Dan untuk rencanaku kali ini, aku jamin takkan gagal !"
Sesaat kemudian, Sintya keluar dai ruangannya. dan didepan koridor, dia berpapasan dengan pria yang bertubuh tinggi itu.
Ekor matanya menuju ke arah pria itu. Tetapi, seperti biasa, dia selalu mengabaikannya dan tak ingin sekalipun melihatnya.
"Ervin, kita lihat saja ! Siapa yang akan tunduk pada siapa !"
Raka tak memperdulikannya dan tetap menatap lurus menuju ruangannya yang baru. Dibukanya dari ruangan itu, dengan tangan kanannya. Tersibak jelas bayangan penuh penghianatan yang ada didalam sana. Raka mencoba melupakan sakit hatinya dan berpikir untuk fokus pada tujuannya.
"Segera panggil ketua keamanan disini !" Ucap Raka ditelpon.
Kali ini, sebelum ada permainan Sintya yang lain ia sudah membuka payungnya lebar-lebar. Bersiap dengan segala resiko yang ada.
.
.
.
.
Sinar mentari menghiasi setiap sudut kaca bangunan SNHWA. Dimana setiap karyawan, mengistirahatkan sejenak dari aktivitas mereka pada siang hari ini. Beberapa ruangan nampak kosong ditinggalkan saat waktu makan siang.
__ADS_1
Raka yang rupanya terlelap dikursinya, seketika terbangun dan kaget. Melihat Meira yang hadir didepannya, membuat Langkahnya segera mendekat ke arah Meira didepannya dan mencoba mengenggam tangannya.
Matanya masih terbuka dan benar-benar melihat sosok wanita dengan senyuman yang manis diwajahnya itu. Nafasnya seolah berirama dengan detak jantung yang berdegup kencang.
Segera sesaat tangannya menggengamnya, semua pandangan tentang wanita itu hilang dimatanya.
Air mata menetes begitu saja diujung matanya. Hatinya sangat sakit begitu merasakan tangan yang berusaha dia genggam, perlahan menghilang dan menjauh darinya.
.
.
"Sial ! Ada apa denganku !?"
Rupanya semuanya hanya sekedar mimpinya saja. Melihat itu semua, dirinya terbangun dengan mata yang sembab oleh air mata. Tangan Raka berusaha keras menghapus semua itu tetapi, mimpi tadi terasa begitu nyata baginya.
Ketukan pintu diruangannya, membuyarkan lamunanya. Segera masuklah orang-orang berpakaian serba hitam yang terlihat hebat dalam suatu hal. Dirinya harus memutar otak agar malam nanti, rencananya berjalan dengan lancar.
"Meira, tunggu aku. Aku pasti..takkan membiarkanmu menderita lebih lama !" Gumam Raka sembari terus mengepalkan tangannya.
Siang berganti dengan sore lebih cepat dari biasanya. Raka meyakinkan pada tubuh Ervin dan menyambungkan batinnya agar dia bisa memahami keadaannya sekarang ini.
Kini, Raka hanya perlu matahari terbenam dan membiarkan Ervin membantunya kali ini.
__ADS_1
Bersambung..