Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
si rambut perak


__ADS_3

Siang hari pun terasa masih dingin diluar. Dan didepan toko, mereka berdua mengobrol ditemani dengan segelas kopi hangat.


Beberapa detik, tercipta hawa canggung diantara mereka. Dan juga, Meira bahkan belum tahu nama pria itu. dari tadi mereka hanya meneguk kopi masing-masing tanpa berbicara. Sampai, muncul-lah Raka.


“bos, ini. makanlah sesuatu. Karena diluar dingin, aku membuatkanmu sup ini.” ucapnya smbil memberikan semangkok sup hangat.


“terima kasih Ervin.”


“pelayan yang baik, untukku mana..? gurau Arva sambil tersenyum palsu.


Raka hanya membalasnya dengan pandangan mengejek dan langsung masuk kembali kedalam toko. Meira yang melihat tingkah Ervin tersenyum kecil sambil menyeruput kuah sup itu. dan Arva bertanya padanya.


“apa kau suka padanya..?”


“uhukk..uhukk.. apa..?!” jawab Meira yang tengah tersedak kuah sup.


“tak apa kalau kau tak mengakuinya. Itu jelas terlihat dimatamu.” Ucap Arva sambil tersenyum.


Meira benar-benar dibuat kaget oleh omongan pria itu. mereka bahkan belum saling berkenalan dan pria itu seperti sudah sangat mengenalnya. dengan terheran Meira mencoba bertanya padanya.


“tuan. sebenarnya, kau siapa..? kenapa kau bisa tahu aku ada disini..?” tanya Meira.


“aku..? aku bukan siapa-siapa. Aku hanya berkelana mencari seseorang.”


“lalu, apa kau sudah menemukan orang itu..?” tanya Meira sambil meletakkan supnya.


“iya sudah. Tapi aku tak yakin kalau dialah orang nya.” Ucapnya sambil memandang ke arah Meira.


Sejenak mereka saling memandang. Kemudian Meira terlihat tersenyum dan mengambi supnya lagi. Raka yang sedari tadi mengintip keluar jendela toko, merasa suatu hal yang aneh di dadanya.


“aneh. kenapa aku merasa sedih melihat Meira dengan orang lain. Bukankah aku harusnya senang melihatnya bisa tersenyum lagi…?” gumamnya.


“baiklah, perkenalkan. Namaku Arva.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


“aku Meira. Salam kenal.” Jawab Meira sambil membalas jabatan tangannya.


“oh ya. Aku punya sesuatu untukmu.” Ujar Arva sambil mengeluarkan suatu barang di kantongnya.


“apa ini..? apa ini sebuah jam..?” tanya Meira.


“iya itu untukmu. Sebagai hadiah perkenalan kita.” Ucapnya sambil tersenyum.


“ini perasaanku saja atau apa, aku seperti punya ini dulu.” Gumam Meira sambil memandang bentuk dari jam itu.


“kenapa..? apa kau tak suka..?” tanya Arva.


“tidak. Hanya saja, aku merasa pernah memiliki jam saku seperti ini dulu waktu kecil. Atau mungkin hanya perasaanku saja ya..?” seru Meira yang masih terheran.


“tidak. Kau memang pernah punya itu dulu.” gumam Arva.


“terima kasih atas hadiahnya.”ucap Meira sambil memasukkannya kedalam saku celana nya.


“sama-sama. Dulu waktu kecil, aku sering membantu nenek ku menjaga toko barang antik. Padahal, aku sama sekali tak tertarik pada barang-barang itu. sampai, suatu saat ada seorang gadis kecil memberiku sebuah hadiah jam saku tua yang ia beli dari toko nenek ku sendiri.” ucap Arva sambil memandang langit dan mengingat-ingat kejadiannya.


“tentu. Tanyalah.”


“apa sejak dulu warna rambutmu seperti itu, atau kau suka dengan warna cat rambut seperti itu..?” tanya Naina sambil memandang ke arah Arva.


Naina merasa pernah melihat bentuk dan warna rambut itu entah ketika tak sadar atau sedang bermimpi. Dan orang berambut perak itu menolongnya ketika dia terjatuh didepan rumahnya. Ia jadi penasaran, itu mimpi atau kenyataan.


“apa kau hanya tertarik dengan rambutku saja..? bagaimana dengan wajahku.? hmm..?” goda Arva sambil berpose tampan dan keren.


“tidak. aku hanya penasaran dengan rambutmu.” Jawab Meira dengan muka datar dan sama sekali tak terpesona.


“ehm.. rambut ini, aku dapatkan sesaat setelah aku diberi kesempatan kedua dan mendapat sebuah pekerjaan baru.” Ucap Arva sambil memegang rambutnya.


“memang, apa pekerjaanmu..?” tanya meira.

__ADS_1


“pekerjaan ku ya..? itu Rahasia. “ ucap Arva sambil tersenyum dan meletakkan jari telunjuknya dimulutnya.


“oh. Baiklah.”


“hahh..sepertinya sudah waktunya bagiku pergi. Meira terima kasih untuk waktu mengobrolnya. Aku pergi dulu.” Pamit Arva sambil melambaikan tangannya.


“iya. Hati-hati dijalan.” Jawab Meira dengan melambaikan tangan.


Setelah melihat Arva pergi, Meira pun masuk sambil membawa mangkoknya ke dalam toko. Namun, tanpa ia ketahui Raka berada dibalik pintu dan mereka pun bertabrakan.


“aduh..Ervin. apa yang kau lakukan disitu..?”


“bos.. ma..maafkan aku bos aku tak tahu kalau bos mau masuk kedalam.” Ucapnya sambil membantu Meira berdiri.


“sudahlah tak apa. Kau tolong taruh ini didapur dan buatkan pesanan pelanggan.” Ucapnya sambil berlalu pergi.


“hufft…Raka apa yang kau lakukan.” gumamnya sambil memukul jidatnya.


“Meira, seingatku.. kau tak pernah bersikap dingin pada orang lain seperti ini. apa karena kejadian yang dulu itu, membuatmu seperti ini..?” batin Raka.


Hari sudah sore dan para karyawan bergegas pulang ke rumah mereka. Dan seperti biasa, Raka masih membersihkan toko sebelum pergi pulang.


Bersambung…


----------


*hai readers ☺ gimana nih episode kali ini..?


aku mau nambahin sedikit contoh visual animasinya.


semoga hari kalian menyenangkan 😉


_Arva (the angel of death)

__ADS_1




__ADS_2