Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Tentang Bunga


__ADS_3

*Hari ke 97 *


Pagi ini terasa liburan bagi sebagian orang. Termasuk, Raka. Ia pun memilih ke sebuah tempat dimana dia menyimpan stempel itu. setelah masuk ke tubuh Ervin, ia bergegas menuju tempat tersebut.


*toko bunga floris*


Dimana takkan ada siapa pun yang mengira disinilah ia menyimpan stempelnya. Dengan berbekal sepucuk surat yang mana ia tulis sendiri untuk meyakinkan pemilik toko, ia langsung masuk kedalam.


“permisi, apa ada Fino disini..?” tanyanya kepada salah seorang yang berada disana.


“iya tuan. Ada perlu apa ya..?”


“bisakah kau katakan kepadanya aku ingin bertemu..?”


Tak lama orang itu pun mempersilahkan Raka masuk dan duduk ditaman belakang toko. Dan datanglah seorang pria dengan pakaian rapi duduk didepannya.


“ada perlu apa kau kemari..? apa aku mengenalmu..?”


“tidak. Jadi begini. Aku adalah utusan dari tuan Raka. Perkenalkan namaku Ervin. Dia menyuruhku untuk menyampaikan ini.” ucapnya sambil menyerahkan surat yang dibawa nya.


“oh. Kalau boleh tau, kau siapanya ya..?” tanya si Fino.


“aku, aku teman kuliahnya waktu diluar negeri.” Ucap Raka sambil gugup.


“oh. Baiklah tunggu sebentar.”


Orang itu pun pergi menuju suatu tempat. Dan Raka sedang duduk-duduk menikmati pemandangan bunga-bunga yang ada disekitar. Terutama bunga lotus putih. Dia menyukainya sejak kecil.


“oii..kenapa kau kesana. Cepatlah kemari.” Teriak Fino.


“ini. barang yang ia inginkan.” Ucap Fino.

__ADS_1


Sebuah kotak kayu berukir bunga lotus. Ia pun menghampiri Fino dan membuka kotak itu. disela-sela itu, Fino mengajaknya mengobrol.


“ngomong-ngomong, berapa si Raka itu mengupahmu untuk hal seperti ini..? padahal ia sedang sekarat dirumah sakit. Masih sempatnya ia mengambil barang yang tak berharga ini.” ejeknya.


“memangnya kenapa kau bertanya seperti itu..?"


“tidak apa-apa. Karena dia sering memberikan uang yang banyak untuk memerintahkan orang lain melakukan semua kemauannya. Dan aku masih heran, Kenapa kau betah berteman bersamanya saat kuliah..? padahal aku yang se-SMA dengannya. Sungguh malas berteman dengannya.”


Mendengar itu, terbesit rasa kesal di hati Raka. Padahal Fino adalah teman yang selalu mendukungnya dan mempercayainya sewaktu sekolah selain Meira. Ia pun semakin penasaran dengan obrolan itu dan kembali melanjutkannya.


“memangnya apa yang aneh darinya..?” tanya Raka.


“dia itu, tak cocok sekali menjadi idola di kelas kami dulu. Dia selalu menyombongkan dirinya dengan mentraktir teman-teman yang lain agar dia tetap disenangi banyak orang. Nyatanya, orang-orang lain justru sedang mengujinya. Dan oh..ya.. apa kau tahu satu hal lain..?"


“apa..?” tanya Raka sambil mengepalkan erat tangannya menahan emosinya.


“dia memang sangat kaya. Tapi, kelakuannya rendahan. Bagaimana ia masih mau berteman dengan seorang gadis miskin. Aduh.. pokoknya dia aneh sekali.” Seru Fino.


Raka benar-benar sedih mendengar pernyataan teman lamanya itu. selama ini, dimata mereka hanya melihat Raka sebagai salah satu anak orang kaya saja. Dan tak menganggapnya sebagai teman. Kali ini, Raka melihat tak ada ketulusan dimata mereka.


“baiklah tuan, aku akan pergi.”


Raka pun pergi meninggalkan tempat itu. dan didepan toko, ia bertemu Meira yang sedang melihat-lihat bunga.


Sebisa mungkin Raka menyembunyikan kotak itu disaat Meira menghampirinya.


“hei Ervin. Untuk apa kau datang kemari..? apa kau akan membeli bunga juga..?” tanya Meira.


“ya…iya aku akan membeli bunga.” Jawabnya sambil gugup.


“ehm..bisakah kau menemaniku sebentar..?”

__ADS_1


“oh. Oke.. baiklah.”


Disana, ia memilih-milih dan melihat-lihat koleksi bunga disana. Di pojok pintu, ada suatu bunga yang menarik perhatiannya. Kemudian Meira pergi kesana.


“bunga ini. entah kenapa aku sangat suka.” Ucapnya sambil mengambilnya dari sebuah vas.


“kenapa kau suka bunga ini..?” tanya Raka.


“awalnya, aku tak suka bunga lotus putih ini. tetapi, karena seseorang Aku jadi menyukainya. Dan dia bilang kalau filosofi bunga ini, seperti hidupnya.” Ucapnya sambil tersenyum dan mengingat-ingat.


“apa filosofinya..?” tanyanya.


“meskipun kau berada di lingkungan yang buruk, kau akan tetap terlihat menawan dengan keindahan yang kau miliki. Begitu katanya.”


“katanya ya..? Meira, apa dia itu aku..?” batin Raka.


Ia memandang wajah Meira yang nampak berseri-seri memegang bunga itu. dia pun bertanya lagi pada nya.


“lalu, siapakah temanmu itu..? apa kau tahu keberadaan nya..?”


“entahlah. Tapi aku berharap, dia tetap menjadi dirinya sendiri. meski dia berada di lingkungan yang buruk.” Ujar Meira sambil berjalan menuju kasir.


“Meira, aku senang mendengar kata-katamu itu. aku harap. Kaulah orang yang selama ini aku cari.” Gumam Raka.


“Ervin, terima kasih telah menemaniku aku pergi dulu.” Pamit Meira.


Kini Raka sadar. Salah satu Kesalahan yang ia perbuat dulu, harus ia perbaiki sekarang. Ia tak tahu firasatnya benar atau tidak. Tapi, pikirannya tak bisa lepas dari Meira. Ia pun berlari menghampiri Meira.


“Meira. Bolehkah aku mengikutimu..?”


“hah..?! apa..?”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2