
**hari ke 86**
Pagi datang menghampiri dengan suhu yang lebih hangat dari kemarin, meski semalam turun salju yang lebat tetap membuat Meira tak pantang untuk libur mengurus tokonya.
Sembari mengikat tali sepatunya, dia berfikir kalau semalam setelah dia dan Ervin berteduh, Ervin mengatakan hal yang membingungkan kepadanya.
“kau benar. Bahkan seseorang yang tak pernah melakukan kesalahan apapun di masa lalunya, harus dihukum seberat ini..”
Dia ingin bertanya balik tetapi, ucapannya langsung disahut lagi oleh Ervin.
“aku..sedang berusaha untuk meyakinkan diriku, kalau aku punya salah di masa lalu dan selepas tadi pagi, aku yakin. kalau aku hanyalah seorang pecundang !” ucapnya sembari menutup wajahnya dengan tangan kanannya.
“Meira, terima kasih. Karena kini, aku bisa merasakan apa yang selama ini kau rasakan” ucap Ervin sembari berdiri.
Dia benar-benar tak memberikan kesempatan pada Meira untuk bertanya atau menjawab perkataannya. Meira hanya duduk dan meihatnya pergi ditengah hujan salju semalam.
Meira kini tengah berada di depan toko, inginnya ia tak akan mengurusi masalah orang lain lagi, wajah melamun dengan senyuman yang murung itu, nampak jelas di wajah cantiknya. Dari dalam, Ervin tengah membersihkan kaca. Melihat Meira dengan wajah sedihnya, ia menggambar sesuatu dengan air yang dia semprotkan dikaca.
**duk ! dukk!**
Jari Ervin mengetuk kacanya dan Meira menoleh ke arah kirinya. Dari luar, ia hanya melihat Ervin yang tengah tersenyum sembari menunjukk-nunjuk ke kaca.
Mata yang murung itu menjadi terbelalak kaget dengan yang dilihatnya. Sebuah gambaran senyum dan bunga-bunga yang menghias disampingnya, kembali mengingatkan akan hal yang ingin ia lupakan.
Dan senyuman itu tepat tergambar di wajah Meira. Ia kembali memandang Ervin dan kembali lagi memandang gambaran senyuman itu.
“tidak..tidak..tidak..Meira ! ini semua hanya ilusimu ! pikiranmu sedang kacau saat ini !” batin Meira sembari memejamkan matanya dan terus mneggelengkan kepalanya.
Matanya tetap terpejam sewaktu masuk ke tokonya, kelakuannya itu, malah semakin perasaannya tambah kacau karena Meira tersandung kaki pria itu tepat setelah membuka pintu.tangan Ervin menangkap Meira yang hampir terjatuh ke depan.
tatapan sahdu oleh bola mata yang indah dengan alis tebal maskulin itu, masih terus saja menatap wajah Meira yang berada lengannya. Ervin terus saja membuat perasaannya campur aduk ketika dia menatap ke belakangnya saat terjatuh tadi.
“lain kali berhati-hatilah”
Senyuman pria itu masih merekah seusai Meira tegap berdiri. Wajahnya tak bisa disembunyikan lagi oleh warna kemerahan dipipinya dan sorot mata yang gugup.
Hari-harinya berjalan sangat lambat dengan pikiran yang masih dihantui oleh bayang-bayang akan salah tingkahnya tadi.
__ADS_1
.
.
.
Meira beranjak dari kantornya dan pergi menuju dapur pemanggangan sembari mengecek kinerja karyawan dan pesanan yang ada. Sebelum mendekat ke arah Ervin, dirinya terhenti oleh obrolan para karyawan yang nampaknya tengah memberi hadiah ulang tahun kepada Ervin.
“selamat ulang tahun ya Ervin. Ini ada sedikit kado dariku. Kuharap kau suka dan bukan orang pemilih..” ucap Roy sembari tersenyum bahagia sambil memberikan kado.
“tenang saja ! aku orangnya nggak pemilih kok. Sederhana saja apapun aku akan menerimanya.”
Lagi-lagi pendengarannya menyalurkan kata-kata yang mirip dengan sosok Raka. Ia yakin semalam telah membersihkan telinganya dan tidak sedang minum.
Meira masih saja berdiri kaku disana dengan tangan yang masih memegang gagang pintu. Lamunannya segera buyar saat Ervin membuka pintu tersebut.
“oh..? bos. Apa kau mencari seseorang..?”
“hah..?oh, ng..nggak kok ak..aku..”
“eh bos Ervin hari ini ulang tahun. Kami telah memberikannya hadiah!
Seandainya Raka tak mengisi form karyawan itu, mereka semua termasuk Meira takkan tahu kapan dia berulang tahun.
Dan sebenarnya, tulisan itu hanyalah fiktif karangannya saja. Bukan asli tanggal lahirnya. Dia dijerat masalah lagi oleh tingkah gegabahnya.
Meira terlihat bingung dengan karyawan lain yang bereaksi seperti itu. dia memutuskan untuk mengucapkan ucapan selamat ulang tahun sembari menyelipkan rambutnya ke belakang.
“iya bos. Makasih.”
“baiklah sepertinya jam istirahat kita telah usai. mari kita kembali bekerja ! semangat semua..” ujar Meira setelah membalas ucapan Ervin dengan senyuman.
Sore hari adalah waktu yang tepat bagi Meira untuk menyudahi semua tugas dan pikirannya. Jam ditangannya menunjukkan pukul 5 sore.
Apa yang sebelumnya belum selesai kini, telah ia selesaikan semua dan bersiap untuk pulang. Namun, sebelum itu, Ervin kembali mengejutkannya dengan memberi mousse cake berlapis coklat.
“bos, aku mohon luangkanlah waktu agar kau bisa mencicipi resep baruku..” ucap Raka.
__ADS_1
Meira tak ada pilihan lain dan mengiyakannya. tangannya mengambil sendok kecil disamping piring untuk membelah kue yang berbentuk potongan segitiga itu. Raka sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk Meira dengan menyelipkan adonan dan buah stroberi dibalik lapisan coklat yang ada dikue itu.
tetapi, Meira nampaknya tak senang dan tangannya seperti kram sewaktu tahu kalau isinya adalah stroberi.
“Bb..bos..? apa ada yang salah..?”
“huh..?! kenapa kau harus menyembunyikan sesuatu untuk mengelabuiku..?
apa ini akal-akalanmu atau kau sengaja menjebakku agar aku bisa tetap mencicipinya..? bukankah kau tahu kalau aku tak suka dengan stroberi lagi..?”
“bos, aku..”
“untuk apa kau melakukan semua ini…? apa aku yang memintamu..?” sahut Meira dengan lirikan tajam.
“bos maafkan aku.. aku memang..”
“kau memang apa..? apa kau memang sengaja jadi karyawanku disini agar bisa terus mempermainkanku, membuat masalah bagiku..?” seru Meira sembari berdiri karena emosinya.
“bos ! aku minta maaf oke..? ini hanya kue biasa, kenapa kau terlalu melebihkannya.?”
Meira terkejut dengan apa yang ia dengar dari mulut Ervin. Ia lepas kendali dan meledak begitu saja begitu mengingat segala hal tentang Raka. Dia sendiri tak sadar kalau yang sedang dia bentak adalah Ervin. Bukan Raka.
“hufft..maafkan aku Ervin telah membentakmu. Aku, aku harus pulang sekarang.” Ucap Meira sembari menepuk pundak Ervin dan pergi pulang.
Disepanjang perjalanan, dirinya tak henti-hentinya menutupi bahkan memegangi kepalanya karena kemarahan yang tanpa sebab tadi.
Tentang Raka, dan semua hal mengenainya.
tetap saja, Meira tak bisa lupa meski telah bertahun-tahun lamanya. Karena Raka, adalah orang yang sangat peduli padanya disaat masa-masa sulitnya.
Dan lamunanya itu, membuatnya terjatuh karena terserempet mobil yang tengah melaju kencang di belakangnya.
Segera pengemudi mobil itu membawa Meira ke rumah sakit terdekat meski luka yang dia alami, tak cukup parah. Hanya bagian sikunya saja yang berdarah dengan beberapa lecet dilututnya.
Rasa sakit yang ada ditubuhnya sama sekali tak begitu parah baginya dibanding setiap penderitaan yang ada karena diri Raka.
Dan dia hanya berharap, kebenciannya akan sirna entah itu kapan.
__ADS_1
Bersambung…