Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Menjerat


__ADS_3

“duduklah. Kau pasti suka makanan yang ada disini.” Ucap Sintya dengan tersenyum kecil.


Ervin hanya meladeninya dan duduk diseberangnya. Restoran yang tak terlalu mahal, karena dia sendiri tak suka dan Sintya menerima atas permintaannya.


Sintya masih saja dengan tingkah centilnya sembari memandangi wajah blasteran Ervin sedang meminum air yang telah disediakan diatas meja. Dia yakin, kalau Ervin adalah tipenya.


“bisakah kita berkenalan dulu ? bukankah.. kau belum tahu namaku ?”


Ervin meliriknya sembari meletakkan kembali gelas itu dari mulutnya. Melihat Sintya mengulurkan tangannya, ia sama sekali tak ragu untuk mengajaknya berkenalan. Benar-benar wanita dengan banyak tipu muslihat.


Ervin mengabaikannya dengan kembali menuangkan air ke dalam gelasnya. Sintya membalasnya dengan suara tawa kecil tetapi, dengan wajah yang kecewa. Ia menarik kembali tangannya dan memanggil pelayan di depannya.


“apa kau suka dengan scallops..? disini ada menu mewah berbahan scallops.”


tanya Sintya yang usai membaca menu sembari melirik ke arah Ervin.


“terserah..”


Lagi-lagi dia semakin dibuat tertarik oleh sikap acuh tak acuhnya Ervin. Dia meinta pelayan untuk membuatkan menu pesanan mereka. Sembari menunggu pesanan itu datang, Sintya mengajaknya mengobrol sembari menatap lekat garis tegas di wajah Ervin.


“jadi, kau masih ingin merahasiakan namamu..? kau kira aku takkan tahu begitu..?


huh ! didunia ini, tak ada yang tak bisa aku capai dan inginkan. Termasuk dengan kau..” ucapnya dengan kedua tangan sedang memangku dagunya.


“apa kau tahu, apa yang lebih memuakkan dari pada makan malam yang membosankan..? sebuah usaha mengejar yang orang itu tahu takkan pernah dia dapatkan !” sindir Ervin.


Sintya tersenyum kecil sembari sedikit melirik ke arah lain. Dia yakin, kalau orang dihadapannya bukanlah pria biasa.


Ervin sedari tadi menunggu langkah agar bisa menjeratnya untuk mengatakan sesuatu yang tak bisa dia ketahui. Setelah beberapa saat, seusai Sintya meminum minumannya, Ervin kembali melontarkan kata-katanya.


“apa yang kau cari dari semua kemewahan dan harta..?”


Sintya tertegun dan langsung mengeluarkan senyuman kecil, begitu dia mendengar perkataan itu. dia sedari tadi, menunggu pria yang ada dihadapannya akan bertanya mengenai dirinya.

__ADS_1


“aku..? sederhana saja ! yang ku ingin kan hanyalah rasa hormat dan kedudukan tinggi. Dengan uang, semua itu bisa kumiliki.” Jelas Sintya.


“lalu, apa kau tak pernah menyesal dengan langkahmu ini..?”


“huh..? menyesal..? penyesalan bagiku hanyalah untuk seorang pecundang yang miskin dengan harapannya. Aku tak peduli, bagaimana pun juga, tujuanku harus tercapai !”


Tangan Ervin semakin mengepal dengan erat saja sewaktu mendengar ucapan Sintya. Dan tak lama, pesanan mereka datang dan keduanya menikmatinya tanpa ada bahasan apapun lagi. Tetapi, kunyahan dimulut Ervin terhenti ketika ajakan Sintya yang mengkagetkan dirinya.


“bagaimana jika.. kau berhenti bekerja di toko itu dan bekerjalah diperusahaanku ! aku pastikan kau akan mendapat kedudukan yang tinggi.” Ucap Sintya.


Hal yang tak terpikirkan olehnya. Jika saja ia semakin dekat dengan lingkungan perusahaan, ia akan semakin cepat membongkar kebusukan yang ada didalamnya.


namun, tetap saja. disana adalah Ervin. Bukan Raka. Tanpa sepatah katapun, dia beranjak dari sana dan pergi.


“aku akan menunggumu !” seru Sintya.


Kakinya tersu saja berjalan pergi dari sana tanpa melirik atau menoleh ke belakang ke arah Sintya. Ervin, masih diselimuti bayangan akan penglihatan Raka diotaknya, tentang wanita itu. dia masih samar-samar menghetahui seluk-beluk dan kepribadiannya.


.


.


.


.


.


Hari ini, ia sedang cuti dari rumah sakit dan ingin pergi pulang kerumahnya. Ervin masih ingat kalau roh yang ada ditubuhnya, pernah mengatar seseorang didepan sebuah rumah. Rumah kecil dan sederhana, milik Meira. Tetapi, nampaknya, ia telah tertidur karena semua halaman dan lampu yang ada dirumahnya mati, gelap gulita.


“kau sudah pulang..? apa aku boleh tahu kau melakukan apa..?”


ucap Raka yang berdiri seusai Ervin membuka pintu rumahnya dan masuk.

__ADS_1


Ervin melepas jaketnya dan terbaring dikasurnya. Dia sendiri mengingat-ingat akan apa yang barusan ia alami dan tentang kotak yang berada disakunya, dia masih ingat. Sembari mata yang sedikit menutup, Raka duduk disampingnya dan terus memandanginya.


“kau harusnya bersyukur kawan, kau..masih punya kesempatan untuk meneruskan hidupmu. Sementara aku, waktuku sangat sedikit sekali untuk memperbaiki semua ini..”


Ervin kembali memutar badannya dan menaruh lengannya dibawah kepalanya, memberikan rasa kenyamanan dan posisi yang terbaik dari tidurnya.


.


.


.


.


.


Raka berjalan keluar dari kamar Ervin menuju jalanan yang penuh dengan keramaian. Disana, dia sadar, betapa beruntungya orang-orang yang kini masih berjalan diatas bumi.


Sedangkan dia sendiri, masih belum tahu apakah akan punya kesempatan itu lagi atau tidak.


Langit malam dengan kembusan angin yang dingin, kembali menusuk-nusuk dengan sejuta tanda tanya.


“tuhan..siapa dan dimana aku akan menemukan ketulusan seseorang ditengah nasibku ini..?”


Malam semakin larut dan kota itu, semakin ramai dengan banyak penjual dan pelanggan berjejer dijalanan. Raka kembali lagi ke rumah Ervin. Dengan sesekali memejamkan matanya, dia seperti mendengar suara entah dari mana.


“siapapun..tolong aku..!”


“Meira…?!”


Matanya terbuka lebar begitu mendengar suara itu. entah dari mana atau itu hanyalah khayalannya, ia bisa mendengar dengan jelas suara teriakan Meira. Raka menjadi cemas, kalau Meira akan terlibat masalah yang besar.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2