Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Ujian


__ADS_3

Hari-hari yang menegangkan bagi para murid pun tiba, selama 2 minggu lebih ujian ini akan berlangsung untuk menentukan kenaikan kelas mereka. Dengan semangat yang mengebu, Meira mengkayuh sepedahnya untuk sampai di sekolah tepat waktu.


hufft..akhirnya aku tepat waktu juga. Oke, semoga aku mendapat keberhasilan hari ini. Semangat Meira. Gumamnya untuk menyemangati dirinya sendiri.


Semua murid dengan serius mengerjakan ujian mereka. Dan pada akhirnya, tiba waktunya untuk waktu istirahat.


“heyy Meira, ada yang mencarimu tuhh”


“ehh benarkah ? siapa?.” setelah meregangkan tubuhnya karena kaku saat mengerjakan ujian, ia pun menengok keluar kelas untuk melihat siapa yang menunggunya.


“eh kak Azka ada apa kak?”


“ngak papa kok. Cuman pengen mampir aja ke kelasmu. Sekalian ngajak makan.”


“oh baiklah kalau begitu. Ayo kita kekantin.”


“oke. Bagaimana ujianmu tadi ?”


Sambil berjalan berdampingan mereka pun pergi menuju kantin. Raka yang melihat kejadian itu dari jauh, tak tahu harus bagaimana. Ia merasa sangat kesal dengan lelaki itu sekarang. Dan tiba-tiba saja..


“halo sepupu, bagaimana ujianmu ?”


“huh? Seperti yang kau lihat !”


“oh aku dengar Rasya sudah kembali. Bagaimana jika kita mengadakan makan malam bersama nanti.?” Tanya Sintya dengan nada sinis.


“dengar ya Sintya.. kau urus saja keluargamu dan jangan pernah mengurusi masalah keluargaku !” ancam Raka sambil menunjuk jarinya.


Raka dengan ketiadaan Meira sebagai temannya mendadak berubah sebagai orang yang gampang sekali marah tak jarang emosinya tak bisa ia kontrol lagi. Ia sadar apa yang telah ia lakukan. namun, masih menyangkal tentang penyebab sebenarya ia menjadi seperti ini.


dan akhirnya mereka berdua menjadi orang asing meskipun saling berpapasan. Sampai pada suatu saat, sehari sebelum ujian itu berakhir.


“Raka ada yang nyari tuh katanya dia mau ngomong sesuatu yang penting diatap sekolah”

__ADS_1


“siapa?”


Raka yang tak berfikir sebelumnya, terkejut bahwa ada Meira dan Azka berdua di atap sekolah.


Mereka terlihat sangat dekat. Bahkan mesra layaknya pasangan. Iamengira mungkin ada yang sengaja membawanya kemari dan melihat ini.


“hahaha…kak, ternyata kamu suka bercanda yang aneh-aneh” sindir Meira sambil tertawa.


“ngak kok. Aku cuman lagi cari perhatian kamu aja” goda Azka


“kak..ngomong apaan sih?” ucap Meira sambil malu-malu.


“ehm..mei, besok kan terakhir ujian. Sebelum itu, aku juga mau ngucapin makasih sama kamu karena kamu jadi penyemangat aku buat ikut ujian tes masuk kuliah”


“ahh kak Azka kok bicara gitu? Seharusnya Meira yang lebih berterimakasih karena udah ngajarin Meira selama ujian 2 minggu ini.”


“ehm..Mei..” tiba-tiba Azka meraih tangan Meira dan mengengamnya.


“iya kak?”


Meira mendadak bisu dan tak tahu harus berbuat apa. Ohh.. ya tuhan..?? apa ini mimpi? Orang yang selama ini aku impikan ternyata juga menyukaiku? Batin Meira.


Raka yang melihat itu semua tak dapat menahan dirinya lagi dan segera berlari menuju mereka.


“ehm.. Meira aku ada perlu sesuatu denganmu."


sambil menyela pembicaraan mereka dan menarik tangan Meira.


“ihh apa-apaan sih..Raka..”


Meira pun tak kuasa dengan tenaga yang digunakan Raka untuk menariknya. Dan ia dibawa menuju ruang kelas yang sepi. Raka mendorong Meira dengan keras sampai ia terbentur tembok.


“Raka kamu kenapa? Kenapa kamu lakuin semua ini?”

__ADS_1


“kamu mau terima dia sebagai pacarmu?”


“itu bukan urusan dan hakmu untuk ikut campur bukan?”


Raka dengan emosinya tak tahan dan meremas pundak Meira sampai ia kesakitan.


“Meira jawab, kamu akan menerima pria itu karena ingin balas dendam padaku kan? Ayo jawab !” ucapnya sambil melotot marah.


Belum pernah Meira merasakan kemarahan Raka yang seperti ini. Ia hanya mengangap Raka sebagai teman yang baik dan selalu lembut kepadanya. Tapi yang ia lakukan hari ini adalah diluar batas.


“kalau aku bilang, karena aku mencintainya kenapa..?”


Dengan kaget Raka langsung melepaskan gengamannya dan memalingkan mukanya. Ia sekarang baru sadar bahwa ia menyukai Meira. Dan sekarang tak ada yang bisa ia lakukan lagi.


Namun akal sehatnya benar-benar tak terkendali sampai kejadian buruk pun terjadi.


Ia dengan kasar melemparkan Tubuh Meira ke tembok dan menciumnya tepat di bibirnya. Meira yang sangat terkejut mencoba melawan dan mendorongnya.


Namun, Raka kembali mendorong kepala Meira dan menciumnya lebih kuat lagi. Meira yang tak tahan lagi, menampar muka Raka dengan sangat kuat sambil bercucuran air mata.


**plakk**


“Raka, aku kira kita adalah teman yang baik. tapi Sampai saat ini.. apa kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan kepadaku ? ucap Meira yang gemetar setelah menamparnya.


“Meira aku menyukaimu. Aku tak punya pilihan lain. Aku tahu ini salah tapi..”


Apa? Raka menyukaiku ? lalu, kenapa ia tak bilang dari dulu ? kenapa ia malah memilih berteman ? Raka aku tak pernah menduga hal ini darimu. Aku benar-benar terpukul. Batin Meira.


“cukup ! Raka. Sudah cukup. Aku tak ingin mendengar apapun darimu. Sebaiknya kita segera akhiri pertemanan kita disini. Karena semenjak dari awal, aku sudah muak dengan semuanya.” Sambil mengusap air matanya, Meira pun pergi.


“Meira ! dengarkan aku dulu. Meira aku minta maaf.” sambil berlari mengejar Meira.


ia pun berhenti dan dengkulnya terasa lemas karena menyesali tindakan gegabah yang telah ia lakukan. Dan di masa yang akan datang, nampak nya ia akan menyesali perbuatannya yang telah menyakiti Meira.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2