Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Simple man


__ADS_3

Raka dengan latar belakang orang kaya dan orang tuanya yang sering keluar kota, tak jarang jika ia merasa sangat kesepian dirumah bahkan jarang untuk pulang kerumahnya.


Ia lebih sering ke rumah teman-temanya. Terutama Meira. Orang tua Meira adalah pegawai di restoran cepat saji. Dan Raka sangat sering membantu kedua orang tua Meira bekerja disana. Namun, hal itu tak bertahan lama saat pengawal Raka menghetahuinya dan melaporkannya kepada orang tua Raka. Hal itu berakibat pada pertemanan mereka. Sejak tahu kalau Meira adalah orang miskin. Tetapi hal itu tak pernah membuat Raka jera untuk selalu mengunjungi kediaman Meira yang sederhana dan ikut makan malam bersama mereka.


“Raka kau ini ! kenapa kesini ? kau membuat hidupku makin susah kalau kedua orang tuamu tahu.” tegur Naina.


“ehh diamlah. Aku jamin kali ini aku takkan tertangkap lagi seperti yang dulu. Eh tante mana? Nihh aku bawain sayur organik biar dimasak sama tante.” Dengan santainya ia masuk kedalam rumah Meira.


Malam itu pun menjadi sangat hangat dengan penuh canda tawa. Karena yang selama ini Raka cari adalah kebersamaan sosok keluarga.


“tante makasih ya udah izinin Raka main kesini.”


“ iya sam-sama. Eh nak Raka tunggu dulu. Ini ada hadiah buat nak Raka. Mungkin ini kaos yang terlalu mahal tapi masih bagus kok” ucap ibu Meira sambil membawakan tas berisi kaos biru polos.


“ibu..? ibu ngapain kasih itu ke Raka. Raka itu anak orang kaya. Ntar orang tua nya tau itu baju darimana gimana? Bisik Meira kepada ibunya.


“Meira, gak usah khawatir. Aku orang nya ngak ribet kok. Nihh aku pakek ya.. tuh cocok kan pas. Lagian aku ngak suka juga barang-barang yang mewah-mewah. Kamu tau kan kalo aku itu Simple Man..?” ucap raka yang memuji dirinya sendiri.


“kalo gitu makasih ya tante..saya pulang dulu. Meira aku pulang dulu. Selamat malam.”


“iya hati-hati ka.”


sambil melambaikan tangan Meira pun masuk ke dalam rumahnya.


Tak lama Raka pun tiba dirumahnya. Dilihatnya keadaan masih sepi. Ia berfikir mungkin kedua orangtuanya sedang berada di luar kota. Ia pun masuk dengan mengendap-endap layaknya seorang maling. Tapi tak disangka…


**cklekk**


"Raka ! dari mana kamu?" teriak papanya.

__ADS_1


Ahh sial ! Aku ketangkap lagi ! batinnya


“Raka..! papa tanya kamu darimana..? jangan-jangan kamu pergi kerumah si miskin itu ?” seru papanya sembari mencengkeram erat pundak Raka.


“iya pa. aku dari sana.”


“sudah papa bilang berapa kali.. ? jangan dekat-dekat dengan kaum rendahan seperti mereka ! mereka itu orang susah yang ngak tahu aturan dan ngak tahu tata krama. tidak seperti kita !” ucap papanya dengan sangat marah.


“hah? Tata krama? Emang papa tahu apa tentang tata krama ? memang papa tahu darimana kalau keluarga Meira ngak punya tata krama? Apa hanya karena ibunya ngak sengaja numpahin teh didepan mama terus papa bilang itu yang ngak punya tata krama ?” seru Raka.


“Raka kamu makin berani ya dengan papa kamu !”


“iya pa. aku bisa lebih berani dari ini. Asal papa tahu, aku lebih bahagia hidup sama keluarga Meira yang sederhana daripada hidup sama mama papa yang ngak pernah luangin waktu buat aku sedikit aja !”


“Raka kamu..” dengan emosi, papanya hampir menampar anak sulungnya itu.


namun, hal itu dicegah dengan mamanya Raka. Dan Raka pun sudah muak dengan pertengkaran malam ini dan segera menuju kamarnya. Yang ia bisa lakukan diatas kasurnya, hanya bersedih dan menangisi semuanya. Sambil memegang sebuah foto seorang gadis, ia terisak-isak.


Rasya Anggraini Satya. Satu-satunya anak bungsu dikeluarga satya. Sekaligus adik perempuan yang paling di sayangi Raka.


Mereka adalah saudara yng tak pernah terpisahkan. Sampai-sampai papa mereka mengirimnya untuk belajar diluar negeri. Entah sampai kapan Rasya akan pulang kerumah mereka. Karena meskipun disaat liburan, ia tak diizinkan pulang sampai ia benar-benar bisa membuat kedua orangtuanya bangga dengan prestasinya.


Memang kebanyakan orang tua yang egois menganggap prestasi anaklah yang bisa dibanggakan. dan juga sebagai ajang pamer status sosial mereka. Tetapi mereka tak pernah peduli tentang kebebasan, perasaan dan juga pilihan mereka sendiri.


Hari semakin larut dan Raka yang tenggelam dengan kesedihannya pun tertidur. Ia menunggu fajar yang baik akan menjemputnya besok.


----------


"Raka ? kamu ngak papa kan semalam?” tanya Meira.

__ADS_1


“hmm..ngak papa kok” ucap Raka yang tengah serius menulis tugasnya.


Raka kamu bohong ! aku sudah mengenalmu lama. Pasti tadi malam orang tuamu memarahimu kan ? batin Meira.


“ehh sini ka.. aku mau nunjukin sesuatu ke kamu..sini” ucap Naina dengan menarik tangan Raka.


“ihh apa sih?”


“nihh liat kesana” ujar Meira sambil menunjuk keluar jemdela.


“tuhh apa yang kamu lihat ?”


“emm..pemandangan ?"


“kamu salah. Liat lebih teliti lagi ya…” sambil membuang nafas dikaca, ia membuat embun dan mulai mengambar sebuah senyuman dan juga beberapa bunga-bunga.


“tuhh sekarang apa yang kamu liat ?” tanya Naina sambil menunjuk ke hasil gambarannya. Raka yang melihat itu tersenyum kecil. Dan melihat kearah Meira.


“hehe..iya aku lihat ada senyum sama ada bunga-bunga di pantulan wajahku. Trus apa artinya itu?”


“itu artinya kalau kamu ingin bahagia, kamu hanya perlu jadi dirimu sendiri dan biasakan tersenyum. Walau sesulit apapun juga. Kamu harus tersenyum.”


Mendengar itu, Raka seakan menemukan penghiburnya lagi. Ia tersenyum Dan mulai mencubit pipi Meira.


“iya..iya bawel..”


“aduhh..sakitt… raka lepas ! raka lepasin sakit tahu !!?.” seru Meira.


Raka merasa sesuatu yang aneh. Yang ia rasakan seakan merasa benar-benar beruntung telah mengenal Meira. Tetapi ia masih ragu dengan perasaan itu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2