Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Orang tua kita


__ADS_3

“apa..?” tanya Meira dengan Heran.


“kenapa..? apa aku tak boleh mengikutimu..? kenapa kau begitu kaget..?”


“iya kau boleh. Hanya saja, aku kaget kau langsung memangil dengan namaku. Karena biasanya ditempat kerja tak seperti itu.” jelas Meira sambil tersipu.


“kalau begitu, apa boleh aku memanggil namamu ketika kita sedang berdua..?”


“ya. Tentu.” Balas Meira sambil tersenyum.


“hari ini, aku akan pergi ke makam orang tuaku. Apa kau yakin ingin ikut..?”


“tentu saja.”


“baiklah. Ayo kita pergi.”


Mereka berdua berjalan di tengah terpaan angin musim semi menuju kedalam makam. Selesai berziarah, mereka pun pergi dari sana mencari makanan. Di seberang jalan, terdapat kedai mie pedas. Mereka pun segera masuk dan memesan makanan.


“apa kau tak keberatan makan makanan pedas..?” tanya Meira.


“tentu saja. Aku ini juaranya.” Seru Raka.


Sambil menanti makanan pesanan mereka, tiba-tiba saja Meira bercerita pada Ervin tentang orang tuanya.


“orang tuaku dulu, bekerja menjadi pelayan sebuah restoran. Jadi, aku sudah terbiasa untuk melayani berbagai jenis pelanggan. Dan aku sudah paham cara mengatasi mereka.” Ujar Meira.

__ADS_1


“oh. Pantas saja kau sekarang jadi bos. Rupanya kemampuanmu menurun dari orang tuamu ya..!” puji Raka dan melihat Meira tersenyum dengan perkataannnya.


“tapi aku, secara tak langsung menjadi penyebab kematian mereka.”


“memangnya, orang tuamu meninggal karena apa..?” tanya Raka.


“dulu, gara-gara aku ingin selalu bersama mantan pacarku aku menentang keinginan kedua orang tuaku untuk kuliah. Aku ingin se kampus dengan dia. Sampai orang tuaku bekerja mati-matian agar aku bisa masuk kampus dikota bersama dia. Tapi sekarang, aku kelihatan sangat bodoh sekali. Aku membela orang yang bahkan tak bisa menganggapku sebagai pacarnya.” Ucap Meira dengan menitihkan air mata.


“ehm..kau..”


“ohh.mienya sudah datang. Ayo kita makan.” Ucap Meira yang mengalihkan topik pembicaraan.


Raka bisa merasakan kesedihan yang mendalam dihati Meira. Ia terus saja menatap Meira yang makan dengan lahap. Dan melupakan makanannya.


“Ervin, apa kau tak suka dengan mie nya..?”


“mie disini memang enak sekali. Temanku dulu yang merekomendasikan makan disini.” Ucapnya dengan tersenyum sambil menyumpit Mienya.


“Meira, kenapa hari ini..semuanya tentangku..?” batin Raka.


“oh ya Ervin. Coba ceritakan sedikit tentang orang tuamu.” Pinta Meira.


“orang tuaku ya..? mereka sedikit menyebalkan. Mereka selalu menyuruh untuk pulang ke rumah. Padahal mereka sendiri jarang pulang kerumah. Mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka.”


“jadi, kau dulu anak orang kaya ya..?”tanya Meira.

__ADS_1


“oh ya ampun ! kenapa aku bisa berkata seperti itu kepadanya..? kenapa aku tak berbohong saja kepadanya. Ya ampun Raka mulutmu ini !" pikir Raka.


“yah. Begitulah.”


Mereka pun menjadi hening sejenak setelah pertanyaan itu. Raka tak sadar bercerita tentang orang tuanya sendiri. dan setelah makanan habis, mereka segera membayar dan pergi keluar.


“Ervin. Untuk yang pertanyaan ku tadi maaf ya. Aku tak bermaksut menyinggungmu.”


“eh.. tidak. Tidak sama sekali. Kau sama sekali tidak menyinggungku. Aku justru senang kau bertanya.” sahut Raka.


“baiklah.” Jawab Meira sambil tersenyum.


“Meira, orang tua kita sangatlah berbeda. Jika mereka masih ada, mereka takkan mengizinkan kita berjalan bersama lagi.” Batin Raka.


Hari pun menjelang sore hari. Tak terasa dengan waktu yang mereka lalui, waktu menjadi sangat cepat. Meira pun sampai didepan rumahnya.


“Ervin. Terima kasih untuk hari ini. sampai jumpa.”


“baiklah. Sampai jumpa.”


Saat akan berjalan pergi dari rumah Meira, tiba-tiba saja ada seseorang datang dan memukul wajahnya.


*bukk ! bukk!*


“Ervin…!” teriak Meira.

__ADS_1


“dasar ********! Apa kau yang selama ini mengoda pacarku..? dasar kau ! rasakan ini !”


Bersambung…


__ADS_2