Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
Alasan putus


__ADS_3

*Hari ke 98*


Paginya ini, terasa sedikit berbeda dan terasa lebih dingin dari hari-hari kemarin. Dan memaksa Raka untuk berpakaian sedikit tebal. Nampak jalanan dipenuhi oleh dedaunan yang berjatuhan. Pertanda musim dingin akan segera tiba. Setiba di toko, ia mulai mengerjakan aktifitas yang selalu ia lakukan. Namun, sepertinya ada sedikit kendala di dapur.


“bos. Kita kehabisan beberapa bahan untuk menu baru. Sebaiknya kita harus membeli yang banyak sebelum musim dingin.” Ucap Tom dengan tergesa-gesa.


“baiklah. Kalau begitu, aku menyuruh Ervin untuk memesankan bahannya dipasar nanti.” Jelas Meira.


Meira pun meminta Ervin datang ke ruangannya untuk membeli bahan-bahan yang habis.


“Ervin, tolong kau pesan bahan ini ke pasar dan suruh mereka mengirimnya besok. Ini daftar bahan yang harus kau beli.” Ucap Meira sambil menyerahkan memo belanja.


“baiklah bos. Aku akan pergi.” Pamitnya.


“oh ya Ervin, sekali lagi terima kasih atas kuemu kemarin.” ucap Meira sambil tersenyum.


Raka pun pergi menuju pasar tersebut untuk berbelanja. Sesaat kemudian, selesai berbelanja ia terkejut melihat Meira sedang berada di jalan bersama seseorang. Ia memutuskan untuk mengintip pembicaraan mereka berdua.


“Meira, dengar penjelasanku. Mei..”


“sudahlah kak Azka, aku tak ingin bicara lagi denganmu..” ucap meira yang tengah menghindari dari Azka.


Semalam Meira rupanya bertemu dengan Azka sedang mengobrol dengan seorang wanita yang tak lain adalah Sintya. Orang yang ia rasa telah banyak mencelakainya. Dan Meira tahu apa yang mereka bicarakan dan langsung pergi begitu saja. Pada akhirnya, Azka kembali menjelaskan tentang kejadian semalam.

__ADS_1


“dengarkan aku, semalam aku dan Sintya tak membicarakan apapun. Kami hanya berteman baik. Memang, dulu waktu SMA aku sengaja mendekatimu karena perintah Sintya. Tapi percayalah, itu dulu. Dan aku sekarang masih mencintaimu mei..” ucap Azka sambil mengenggam kedua tangan Meira.


“ya aku sudah tau itu.” jawab Meira sambil memalingkan wajahnya seakan tak ingin melihat Azka.


“lalu, bisakah kita kembali lagi..?” tanya Azka sambil berusaha menatap wajah Meira.


“tidak kak.! kak Azka tau kenapa Meira memutuskan hubungan kita..? hubungan yang bahkan tak bisa dibilang sebentar ini..?


karena Meira udah muak menahan semuanya kak ! kenapa Kak Azka seolah-olah memperlakukanku seperti adikmu..? bukan pacarmu..? tak bisakah kau menyadari itu..?” ucapnya sambil menangis.


“Meira aku..”


“iya ! Meira capek dengan terus bersabar. Meira selalu dengerin apapun yang kak Azka ceritakan, selalu nurutin apa yang kak Azka mau. Lalu, saat Meira sedih..? kak Azka kemana..?”


“tidak Meira..aku..”


Raka yang tengah bersembunyi, dibuat tertegun mendengar perkataan Meira. Ia tak menyangka selama ini, Meira menjalani masa-masa yang sulit.


“Meira, maaf kan aku.” Ucap Azka sembari tetap mengengam tangan Meira.


“cukup kak. Meira sadar kalau perjuangan ku sia-sia. Hahh.. aku tak ada waktu lagi untuk membicarakan ini.” ucapnya sambil menghapus air mata yang telah mengering itu.


Raka yang tengah bersembunyi, tiba-tiba merasa sangat iba dengan keadaan Meira. Ia bahkan masih ingat betapa sering mereka makan bersama orang tua Meira dirumah. Dan kini, mereka meninggalkan Meira seorang diri.

__ADS_1


“Meira, aku pernah bilang kepadamu kalau Azka itu bukan orang baik untukmu.” Gumam Raka.


Sampai ditoko, ia melanjutkan pekerjaan nya mengelap beberapa meja. dan tiba-tiba saja nampak seseorang yang datang membuat Raka terkejut.


“kau..? ke..kenapa kau disini..? apa yang kau lakukan..? bisik Raka dengan terkejut.


“aku hanya mampir melihat-lihat.”


“hei.. ini bukan taman hiburan untuk melihat-lihat. Cepatlah pergi.” Bisik Raka sembari melotot menyuruhnya pergi.


Raka tak menyangka malaikat maut itu mengubah wujudnya menjadi manusia biasa dan duduk dihadapannya. Saat mereka berbisik, si bos toko itu datang.


“Ervin, kenapa kau berbisik. Tidakkah kau melayani dia..?” ujar Meira sambil melihat kedua pria itu.


“oh..! halo nona, kita bertemu lagi.” Seru Arva.


“oh kau. Apa kau ingin makan sesuatu..?”


“sebenarnya, aku ingin mengobrol sesuatu denganmu. Bolehkah kita..?” tanya Arva sambil membuka pintu.


“oh tentu.” Ucap Meira.


“apa ..? jadi mereka sudah saling kenal..?” gumam Raka yang nampak kaget.

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya memutuskan mengobrol keluar dan Raka sangat penasaran apa yang mereka bicarakan.


Bersambung…


__ADS_2