Love Me For 100 Days

Love Me For 100 Days
2 personality


__ADS_3

Kini malam telah berganti dan waktunya bagi Ervin bertugas dibagian kebersihan rumah sakit. Hari ini, roh Raka mengikuti arah tujuan Ervin, meski sesekali ia berdiam diri di ruang rawat inapnya.


Dilihatnya di antara bingkisan bunga-bunga yang ada, selalu. Yang terus jadi perhatiannya adalah bunga tulip putih plastik.


Disaat tengah memandangi bunga itu, seseorang masuk dan rupanya adalah orang dari keluarganya.


Sintya dan paman Steve. mereka berdua nampak kesal dan beradu argumen didalam seusai menutup pintunya.


“ayah, ini tak bisa dibiarkan ! kita harus membebaskan Kayla dari segala tuntutan.


Ini, ini..bukanlah bagian dari rencana kita !”


ucap Sintya dengan menggigit jari telunjuknya dan berjalan kesana-kemari dengan kebingungan.


“Sintya ! dengarkan ayah. Kita tak bisa mengambil resiko yang besar untuk membebaskanya dari penjara. Bahkan bukti-buktinya sudah ada dan sangat jelas !” seru paman Steve yang mencoba menjelaskan ke Sintya yang tengah bingung.


“ayah ! bagaimana jika Kayla akan membuka mulutnya kalau kita yang menghasutnya untuk membunuh ibunya Raka..?


dan, pikirkan ini juga ayah. Bagaimana jika Raka tiba-tiba terbangun dan melihat kalau Kayla berada dipenjara ! bukankah itu juga sangat beresiko ayah..?”


Raka tak menyangka kalau ini semua adalah rencana busuk mereka. Yang ia tahu, dalang dari kematian ibunya adalah Kayla.


Dan setelah dia mendengar semuanya, kini dia merasa sangat jijik dengan apa yang dilakukan ayah dan anak ini. hanya demi uang apapun bisa mereka lakukan.


Sorot mata Sintya berhenti ketika melihat bunga-bunga yang ada diruangan itu. dia sempat melihat isi dari rekaman yang menuduh Kayla bersalah atas pembunuhan nyonya Satya alias ibu Raka.

__ADS_1


Dia menyibak rangkaian bunga-bunga tersebut dan berfikir.


Mungkin saja, ada seseorang yang sengaja merekam dan mengawasi setiap orang dan gerak-gerik didalam ruangan ini. ia sengaja menaruh kamera disini dan melaporkannya kepada polisi. Sintya yang masih dipenuhi tanda tanya, segera pergi dari ruangan Raka bersama ayahnya.


“Sintya…! Tunggu saja giliranmu !” ucap Raka dengan erat menggepalkan tangannya.


Sementara itu, Meira sedang berada diruangan UGD dan dokter beru saja menangani lukanya. Seusai dokter itu pergi, penambraknya meminta maaf dan juga berniat mengantarnya pulang.


Tetapi, Meira menolak dengan beralasan, ingin menjenguk seseorang dirumah sakit ini. dengan jalan sedikit terpincang dan lengan baju yang terangkat sebab terdapat perban luka, ia menuju koridor rumah sakit.


Entah apa yang ada dipikirannya, tetapi, ia berharap akan bertemu Ervin disini dan ingin meminta maaf lagi kepadanya. Dan benar rupanya, ia bertemu Ervin meski dengan tingkah yang aneh.


“hati-hatilah nona. lantai ini belum kering.” Ucap Ervin yang tengah memegangi pundak Meira agar menjauh dari lantai tersebut.


“tunggu ! apa kau sedang marah denganku..?” seru Meira sembari berdiri sesaat Ervin beranjak pergi.


Pria itu hanya terdiam kaku disana, dan masih saja dengan wajah dingin itu. Meira mendekatinya dan berdiri didampingnya seraya bertanya lagi kepadanya.


“benarkan? Kau sedang marah ..?”


“jangan sentuh aku !” teriak Ervin yang menepis pegangan tangan Meira dilengannya.


Meira sontak kaget dengan apa yang dia alami saat ini. sikap Ervin yang saat ini, benar-benar berbeda dan bebali 180 derajat dari tadi sore saat dia memberikan makanan padanya. Dia sangat sedih dan kecewa dengan yang ia terima.


Dan rupanya, tanpa disadari, ada Rasya yang melihat kejadian itu dari kejauhan. Raka yang baru saja sampai, juga hampir tak percaya, kalau sifat asli Ervin akan diketahui orang lain begitu cepat. Dia dihadapkan dengan situasi yang membuatnya bimbang akan berbuat apa.

__ADS_1


Sementara Rasya, hanya terdiam disana dengan kagetnya dan perasaan kesal yang segera menyelimutinya.


“maafkan aku nona. Aku sedang banyak urusan. Aku tak ada waktu banyak untuk berbicara denganmu.” Ucapnya sembari pergi dari sana.


Tangan Meira masih terbujur kaku seusai gerakan hempasan Ervin tadi.


Kata-kata yang didengarkannya, begitu menyayat hatinya sampai airmata jatuh begitu saja dimata ujung matanya. Ia masih tak mengerti dari diri Ervin saat ini. apakah benar kalau ia sedang mempermainkan Meira dengan berpura-pura baik kemudian menjadi sangat dingin dan acuh. Meira segera membalikkan badannya ke arah lain dan beranjak pulang.


Tapi, langkahnya terhenti begitu Rasya berdiri didepannya dan sedang memandangi ke arah Ervin yang pergi. Seketika mereka saling berhadapan satu sama lain. Tetapi, Rasya hanya memendam kekesalan yang sangat terlihat dengan gerakan gertakan giginya dan matanya yang mulai memerah, sedangkan Meira masih sulit untuk memahami atas apa yang baru saja terjadi dan sisa air mata itu, masih ada di ujung pipinya.


Dua orang ini sejenak masih memandang satu sama lain sampai Rasya berjalan mendekatinya dengan langkah yang penuh amarah dan langsung mendorong Meira ke tembok sembari memegangi kerah bajunya.


“kau ! apa hubunganmu dengannya..?! hah ! cepat katakan ! ayo cepat katakan !” desak rasya dengan marah.


Meira tak bisa menahan rasa amarah itu dan hanya pasrah jika dia harus ditampar lagi. Dia benar-benar sudah lelah dengan tamparan dan siksaan itu. dan ternyata, ada sebuah tangan yang menarik Rasya dan menenangkannya.


“tenanglah saudaraku, dia tak berbuat apapun, sebaiknya kita hindari masalah yang lain lagi.


Kau harus menjaga kesehatanmu bukan..? ayo kita pergi.” Ucap Sintya sembari memegangi pundak Rasya dan pergi dari sana.


Sintya masih saja melirik kebelakang melihat Meira yang masih terengah-engah slepas kemarahan Rasya. Malam ini, dia sangat kacau. Bahkan dipastikan, dia takkan bisa tidur malam ini.


dan Raka, hanya merasa sedih dengan kejadian adiknya yang masih saja benci dengan Meira. Dia tahu pasti sangat sulit bagi Meira untuk lepas dari ini semua. Dia hanya berharap, Meira menjadi kuat dari yang lalu untuk menjalani apa yang akan datang diesok hari.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2