
Tak ada yang bisa dilakukan Raka selain melihat proses kremasi Mamanya.
Dia kini merasa menyesal karena dulu tak bisa menjadi anak yang baik bagi Mamanya. Yang selalu dia lakukan hanya terus menutup telinga dan matanya, menyangka kalau mamanya hanya memperdulikan adiknya saja.
Ingin sekali dia melakukan penghormatan terakhir sebagai anak laki-lakinya juga sebagai kakak dari adiknya. Selama 3 jam lebih, Raka berdiri diluar sana sampai kediamannya benar-benar sepi dan hanya tersisa beberapa keluarga saja disana.
“sabarlah Rasya. Kau masih ada kami.” Ucap Sintya sembari menepuk pundak Rasya.
Mata Raka lansgung tertuju pada saudari dan pamannya. Dia beranggapan kalau mereka-lah dalang dari semua bencana yang ada pada keluarganya. Ia memutuskan untuk menyamar dan mengikuti mereka.
Sembari mengendarai taksi, Raka mengikuti mobil mereka menuju ke arah rumah sakit. Untungnya kali ini, dia telah memasang alat perekam dan kamera tersembunyi jauh hari sebelumnya. Dia mencari tempat sembunyi yang tepat untuk mendengarkan percakapan mereka di ruang inapnya. Tak disangka, tunangannya Kayla juga hadir disana sebelum mereka datang.
“untuk apa kau datang kemari..? sudah ku katakan kau tak pantas untuk mengunjungi kakaku !” seru Rasya.
“huh ! oh ya..? jangan lupa juga kalau aku ini, masih tunangan sahnya Raka.”
__ADS_1
“Kayla, tinggalkan kami semua.” Pinta Sintya.
Dengan mulut mengumpat, Kayla pergi dari sana dengan wajah kesal. Segera setelah dia keluar dari pintu, Rasya langsung memegang tangan kakaknya sembari menangisi disampingnya.
“kak. maafkan aku karena tak bisa menjaga mama dengan baik. maafkan aku..”
Sintya dan pamannya saling memandang satu sama lain dengan wajah yang begitu meremehkan duka dari Rasya. Dia terus mengelus-elus pundak Rasya yang tengah menangis sembari berkata padanya.
“sudahlah ! tak ada gunanya menangis kakamu itu ! sampai kapanpun, dia takkan memberikan stempelnya meski kau adalah adiknya!” ungkap Sintya dengan angkuh.
Rasya berdiri begitu mendengar ucapan Sintya itu. sembari mengelap air matanya, ia berkata padanya.
“tentu saja ! dan itu bagus juga agar kalian takkan bisa mengambil alih perusahaan keluarga kami.”
Sintya murka dengan ucapan Rasya dan segera mendekatinya sembari mencekik lehernya.
__ADS_1
“jadi, itu benar kalau selama ini kau yang menyembunyikan stempel itu..?! hah..?! dasar pengkhianat !”
**plakk !**
Sintya selalu tanpa segan menyakiti siapapun yang telah merusak rencananya. Bahkan keluarganya sendiri. Rasya hanya tersenyum sembari tertawa untuk mengelabui Sintya bahwa dia yang menyimpan Stempel itu. meski, dia sendiri tak tahu dimana kakaknya menyimpan stempel berharga tersebut.
“dengar Rasya ! kau, akan selalu terancam bahaya kalau kau tak segera memberikan stempel itu pada kami. Ayo kita pergi ayah !”
Mereka berdua pergi meninggalkan Rasya yang masih menahan asa perih dari tamparan Sintya. Raka yang saat itu masih mengintai dari kamera, benar-benar terkejut setelah mendengar pernyataan yang keluar dari mulut adiknya ini.
“kak. mereka menghinaku sebagai penghianat. Dan mereka tak salah. Kalau aku ini memang benar seorang pengkhianat.
Kak Raka, aku juga akan menemukan stempel itu cepat atau lambat. Aku berkhianat juga padamu kalau aku jadi adik yang baik. Padahal, aku selalu iri dengan kesuksesanmu..meski papa dan mama tak sekalipun memujimu..aku selalu iri ingin menjadi sepertimu…”
Raka tertegun dan syok seakan tak menyangka sesorang yang sangat dekat dan begitu dia sayangi, akan berubah seperti ini. hal itu tak menuntut kemungkinan kalau selama ini, masih banyak rahasia yang disimpan Rasya darinya. Juga, mengenai berita tentang pelaku terduga kematiannya. Adik kesayangannya kini, menjadi orang yang asing baginya.
__ADS_1
Bersambung..