
Fero melajukan mobilnya menuju tempat bisnis keduaorangtuanya, setelah mengantarkan mama kerumah temannya. Bukan kemauan fero tapi paksaan sang mama. Yang menyuruh untuk alasan belajar karena nantinya fero lah yang akan melanjutkan untuk menjalankan bisnis itu nantinya. Fero cepat-cepat keluar dari mobilnya ketika melihat sosok biru yang sedang berada disana. " Biru.... Panggil fero setelah sampai dibelakang biru
Biru tampak bingung, melihat orang yang memanggilnya. Karena ia tidak mengenal orang itu. " siapa? Tanya biru
" aku fero ardhito. Ucap fero berharap biru akan mengenalinya.
" kenal sama aku? Tanya biru lagi
Fero langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, begitu mendengar pertanyaan biru.
" aku temennya awan. Kata fero takut-takut biru akan marah
" oh..... Respon biru singkat
" oh doang ? Kamu nggak mau nampar , nonjok atau ngatain akau gitu? Tanya fero heran melihat respon biru
" buat apa? tanya biru heran
" yah, buat ngelampiasin kemarahan kamu lah. Jawab fero
" nggak perlu. Buang-buang tenaga aja. Balas biru
" trus, ngapain kamu disini? Tanya gero penasaran
" lagi lomba makan kerupuk. Jawab biru malas
" gila ya kamu. Disini nggak lagi ngadain lomba tujuh belasan. Jadi, mendingan kamu pulang aja sana. Ucap fero kesal
" kenapa lo sewot? Lagian kamu aneh, udah tau disini tempat apa. Pakek nanya lagi, aneh tau nggak sih. Ucap biru heran melihat fero
" ya kan bisa aja, kamu kesini mau ngamen. Ucap fero santai
" buset dah, mulut kamu nggak pernah disekolahin ya. Gue blender baru tau rasa kamu. Ucap biru kesal
Fero langsung tertawa mendengar ucapan biru. Fero tak menyangka jika biru bisa sekocak ini.
" kenapa kamu ketawa? Lagi kumat? Ada bawak obat nggak? Aku ambilin. Kata biru berlagak panik
" kamu tu ternyata orangnya seru, sorry banget aku pernah buat salah ke kamu. Kata fero tulus
Biru hanya memberi senyuman terkait permintak maafan fero. Biru sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak larut dalam kesedihan yang tak penting. Kejadian itu adalah sebuah pelajaran baginya, tidak ada yang perlu disalahkan. Toh, semuanya juga sudah terjadi bukan. Fokusnya sekarang bagaimana ia harus bertahan hidup didunia ini.
" mba ini uangnya, dihitung dulu. Kata seorang berseragam menghampiri biru dan menyerahkan amplop kecil berwarna coklat
" oh ya, makasih ya mas. Nggak perlu saya hitung saya udah percaya. Kata biru sembari tersenyum.
" pak fero, silahkan masuk. Kata masnya mempersilahkan fero
__ADS_1
" kamu duluan aja, nanti saya masuk. Ucap fero pada masnya
Biru melangkahkan kakinya untuk pergi, tapi langkahnya terhenti ketika ada yang menarik tangannya.
" kenapa harus jual motor kamu? Tanya fero
" buat hidup lah. Masak buat beli es oyen. Jawab biru malas dengan pertanyaan fero
" trus nanti kamu kesekolah naik apa? Tanya fero khawatir
" tenang aja kamu, tiap hari angkot lewat kok, abang ojek online juga narik. Kamu nggak perlu khawatir. Sekarang mah semuanya udah canggih. Apa-apa serba mudah. Kata biru panjang lebar
" kamu mau nggak temenan sama aku. Tanya awan pada biru
" oke . Jawab biru heran dengan pertanyaan fero
Fero merasa lega ternyata biru tidak menyimpan dendam kepadanya
" aku anterin pulang? Tawar fero
" nggak perlu, aku bisa naik angkot. Duluan yah. Tolak biru berlalu meninggalkan fero sembari tersenyum
Nyatanya memaafkan itu lebih baik daripada menyimpan dendam. Dan dengan meminta maaf tidak akan membuat kita menjadi buruk. Biru melambaikan tangannya saat angkot lewat didepannya.
" ke jalan melati ya pak. Ucap biru pada sopir angkot
***
Bulan sibuk melihat-lihat cincin yang berada dietalase toko disalah satu mall. Setelah nongkrong bareng bersama teman-teman awan, Mereka lamgsung pergi kerencana semula. Matanya terpaku ketika melihat sebuah gambar cincin warna silver dengan ukiran batik dibagian pinggirnya dan permata kecil dibagian tengah.
" yang, yang ini bagus deh. Tunjuk biru pada awan
" iya, bagus. Kita ambil yang itu, gimana?
Bulan langsung menganggukan kepalanya antusias mendengar penawaran awan.
" mba, kita pesen yang itu . Tunjuk awan pada gambar cincin yang dimaksud
" baik mas, silahkan kembali kesini satu minggu lagi. Pesanan anda akan siap. Dan sebelumnya saya akan mengukur jari mba dan masnya. Ucap mba penjaga toko
" oh ya silahkan. Ucap bulan menyodorkan tangannya.
Mereka segera keluar pergi, setelah menyelesaikan pesanan mereka.
" yang, kamu cinta nggak sama aku? Tanya bulan pada awan yang sedang menyeruput jus orangenya disalah satu cafe
Awan sontak mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan bulan " kenapa? Tanya awan balik bertanya
__ADS_1
" tu kan, bukannya dijawab, malah balik nanya. Ucap bulan kesal
" kalo aku nggak cinta, aku nggak bakal mau serius sama kamu. Kamu percaya kan sama aku. Ucap awan meyakinkan bulan sembari menatap bulan dengan tatapan yang mampu membuat emak-emak kompleks pingsan ditempat.
Bulan yang mendapat tatapan awan merasa waktu seakan berhenti, senyumnya pada awan mermberikan jawaban bahwasanyya ia percaya, percaya dengan ucapan awan yang juga mencintainya. Hening, mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hingga mereka dikagetkan dengan suara yang membuat semua pengunjung mengarahkan matanya kesumber suara.
" allhamdulilah, terimaksih pak udah nerima saya. Saya akan bekerja dengan baik. Ucap biru dengan suara lantang sambil terus mencium tangan pemilik cafe yang tidak sadar menjadi pusat perhatian
Bapak pemilik kafe sampai geleng kepala sembari tersenyum melihat tingkah biru.
" iya sama - sama. Tapi tolong kecilkan suara kamu. Karena mengganggu pengunjung lain.
Biru mengedarkan pandangannya melihat sekeliling, para pengunjung tengah menatap kearah dirinya dengan berbagai ekspresi.
" saya mintak maaf pak. Ucap biru melirihkan suaranya
" iya , nggak papa. Ucap pak pemilik kafe sembari tersenyum
" kalo begitu, saya pamit. Assalamualaikum. Ucap biru menyalami pemilik kafe untuk kesekian kalinya
" waalaikumussalam.
Awan menatap bingung melihat sosok papanya yang bisa berada dicafe ini. Papanya jarang sekali keluar rumah jika tidak ada masalah penting. Biasanya sepulang dari kantor papanya akan langsung istirahat dirumah ditemani sang mama.
" itu papa kamu kan yang? Tanya bulan memastikan
"iya.
" aku nyamperin om andi dulu ya , biar sekalian bareng kita. Kata bulan sambil berjalan menghampiri om andi
Awan melihat bulan yang menyapa papanya yang terlihat sedikit terkejut dengan keberadaan bulan.
" papa nggak tau loh, kalian lagi disini. Ucap papa setelah sampai dimeja awan
" bulan tadi juga kaget, ngelihat om disini. Gak biasanya. Ucap bulan sembari tersenyum
" nggak perlu panggil om. Biasakan panggil papa mulai sekarang. Ucap papa memberitahu bulan. "awan kok diem aja, lagi sakit gigi? Tanya papa pada awan
" papa ngapain disini. Mama mana? Tanya awan penasaran
" mama mu dirumah. Papa lagi memgecek cafe ini. Karena sekarang papa udah membelinya. ucap sang papa
Awan mengerutkan keningnya heran, mendengar ucapan papanya.
" tumben . kata awan singkat
" ini buat kamu, katanya mau bisnis kuliner kan. Jadi nanti kalau kamu sudah menyelesaikan sekolahmu. Kamu yang akan mengelolanya. Ucap papa memberitahu
__ADS_1
***