
Seorang ibu yang sudah tidak muda lagi, kerutan diwajahnya sudah tampak terlihat dengan jelas. Namun tidak mengurangi kecantikannya sama sekali, dengan hijab lebar yang menutup setengah badannya tengah berjalan dengan membawa secangkir teh hangat untuk suaminya yang tengah duduk disofa berwarna coklat tua setelah pulang dari mushala untuk melakukan shalat berjamaah.
" tehnya bi. " kata bu risma meletakan teh hangatnya didepan sang suami.
" allhamdulilah, makasih mi. " ujar pak umar mengambil teh hangat yang disiapkan istrinya.
" bi, nichol kapan pulang ya? " tanya bu risma yang sudah duduk disamping suaminya dengan muka sedih
"sebentar lagi mi, memangnya kenapa? Tumben. " ujar pak umar heran dengan tingkah tak biasa istrinya
" aduh bi, umi itu mau bilang sama nichol biar cepet nikah sama nak biru, biar umi gak kesepian lagi. Umi juga udah kangen banget sama alisha. "
" kita doain aja umi, semoga saja nichol disegerakan niat baiknya dan jangan ditunda-tunda lagi. " harap pak umar, kemudian mengambil koran yang ada diatas meja.
" Aamiin. "
***
Didepan ruang kelas diujung sana, terlihat segerombolan ibu-ibu dengan bibir merah sedang duduk dan ada juga yang bediri membentuk suatu kelompok sambil mebicarakan sesuatu yang sepertinya sangat seru bagi mereka. Lihat saja, tak jarang mereka tertawa bersama disela obrolannya.
Awan merapikan jasnya sebentar, mehembuskan nafasnya perlahan kemudian mengikuti langkah biru menuju kelas alisha.
Tatapan maut para ibu-ibu membuat awan bingung harus bersikap seperti apa. Mereka sontak berhenti mengobrol dan fokus pada awan yang bersama dengan biru baru saja datang.
"selamat siang bu. " sapa biru menundukan kepalanya dan tersenyum ramah pada mereka.
Bukannya menjawab mereka masih saja diam dan fokus pada awan yang mengekor dibelakang biru.
" bening banget dah, ni laki orang. " celetuk seorang ibu berambut ikal terheran melihat ketampanan awan.
" hallo bu, saya ayahnya alisha. " sapa awan pada mereka dan langsung dijawab serentak oleh mereka.
" hallo....
" wah, mba biru ayahnya alisha ganteng banget, sering-sering dong diajak kesini biar kita ngak bosen kalo lagi nungguin anak. " ujar ibu dengan rambut disanggul dan bermake -up tebal.
Biru lantas tersenyum canggung pada bu lina
" insaallah bu. "
Suara bel pulang berbunyi membuat para ibu-ibu langsung berdiri serentak bersiap menyambut anaknya masing-masing.
Awan tengah menatap biru yang sedang mengikat rambutnya yang sedikit panjang. Kaos polos mustard dan celana kotak-kotak maroon tampak pas melekat pada biru dengan make tipis yang dipoleskan diwajah bulatnya.
__ADS_1
"bunda. " panggil alisha yang baru saja keluar dari kelasnya.
Lamunannya buyar seketika mendengar teriakan alisha pada bundanya.
Tas bermotif frozen dan rambut panjang yang dikepang membuatnya benar-benar mirip dengan elsa.
" halo putri ayah. " sapa awan berjongkok tersenyum lebar kemudian menggendong alisha .
" ayah rama. " panggil alisha ketika melihat rama yang tengah menggendongnya.
Matanya tampak menyorotkan suatu kebahagian yang luar biasa. Hingga akhirnya alisha mencium pipi awan lalu merangkul manja dalam gendongan awan.
Kebahagian yang dirasakan awan saat ini benar-benar bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
" wah, anak yah sudah besar, cantik lagi. " ujarnya mencubit pelan hidung mungil alisha.
" alisha seneng banget bisa ketemu ayah. "
Deg. Ucapan alisha seakan menjadi tamparan keras bagi awan. Hingga membuat matanya berkaca-kaca.
" ayah juga seneng banget ketemu sama alisha. " jawabnya mencium pipi alisha lama.
" ayah jangan pergi lagi yah, ayah harus sama alisha dan bunda terus. " ujarnya dengan wajah ingin menangis
Tanpa terasa, air mata mengalir begitu saja dikedua pipi biru. Melihat semua ini membuatnya bahagia dan juga sedih bercampur menjadi satu. Tiba-tiba saja ada rasa bersalah pada nichol karena tidak memberitahukan hal ini kepadanya.
" maafin aku nic, aku janji akan ceritain semuanya sama kamu. " gumam biru dalam hati.
" alisha seneng banget yah ketemu ayah, sampek bunda dicuekin. " ujar biru berlagak ngambek.
" bunda juga peluk. " pinta alisha merantangkan kedua tangan mungilnya dan memeluk biru kemudian mencium pipi bunda dam ayahnya secara bergantian.
" ya udah kita pulang yuk, nanti ayah ajak alisha sama bunda jalan-jalan. "
Awan berjalan membawa alisha kemobilnya dan diikuti oleh biru.
Didalam mobil, alisha sibuk bernyanyi sambil terus tertawa dengan muka bahagia dibangku tengah.
Awan yang melihat tingkah lucu putrinya sangat bahagia, karena tuhan masih sangat baik padanya karena mau memberi kesempatan untuk bersama putrinya.
Sedangkan biru terus bersyukur atas semua rahmat yang tuhan berikan pada alisha untuk bisa bertemu dengan ayah yang selama ini sering dia tanyakan.
Sikancil anak nakal
__ADS_1
Suka mencuru timun
Nyanyian dari mulut mungil alisha yang mengikuti irama dari lagu yang sengaja diputar awan didalam mobilnya terdengar menggemaskan ditelinga biru dan awan.
"ayah, nanti kita makan cake coklat bunda lagi yah. " ajak alisha disela nyanyiannya.
" ayo, ayah juga udah laper pengen makan cake buatan bunda. " jawab awan tak kalah antusias.
" ayah nanti juga harus cobain masakan bunda, apalagi opor ayam yang dibuat bunda itu enakkk banget. " celoteh alisha antusias
" oh ya? " wah ayah sudah nggak sabar nih, nyobain masakan bunda. " ucap awan masih fokus menyetir.
" iya, nanti bunda masakin opor ayam buat alisha. "
" alisha aja, ayah juga dong bun. " rengek alisha dibelakang sana.
Biru menolehkan kepalanya melihat alisha
" iya, bunda masak buat ayah juga. "
"yeaey. " sorak alisha girang
20 menit yang lalu mereka telah sampai dirumah biru. Awan dan alisha tengah sibuk memakan cake coklat bersama ditoko, sedangkan biru sibuk berkutat didapur menyiapkan makan siang mereka.
Maya yang tengah berdiri tak jauh dari meja alisha dan awan menatap mereka sedih, lagi-lagi cintanya kandas sebelum terungkap.
Ternyata mas awan yang dicintainya pada pandangan pertama adalah ayah kandung alisha.
" kamu kenapa ? Kok mata lo banjir? " tanya santi yang lewat didepan maya.
" aku lagi patah hati. " jawab maya
Maya mengikuti santi yang berjalan menuju meja kasir.
Santi menggelengkan kepalanya heran, melihat tingkah lebay maya.
" masih mending kamu patah hati, dari pada patah tulang. "
Ucapan dari santi sontak membuat mood sedih maya semakin menjadi.
" kamu itu sebagai sahabat yang baik bukannya menghibur, malah ngeledek. " ujar maya kesal.
" bukannya ngeledek, tapi menyadarkan kamu dari kenyataan yang sebenarnya. " bisik santi tepat ditelinga maya kemudian berlari menghindar melayani pelanggan yang baru saja datang, dan itu membuat maya menjadi semakin kesal.
__ADS_1
***