Luka Biru

Luka Biru
07. awan bersama bulan


__ADS_3

Biru menutup bukunya, rasanya sudah tidak kuat lagi untuk tidak menagis dan pergi menuju ruang musik dengan langkah cepat. Sesampainya diruang musik,  biru meluapkan tangis yang sedari tadi ditahannya. Tangannya mengambil gitar yang ada diatas meja ,  ia harap dengan ini biru bisa merasa lega barang sedikit


          ***Dengan caramu-arsy ft brisia


Tak mengerti apa yang telah terjadi


Kau tak lagi sama,  engkau bukan engkau


Yang selalu mencari dan menelfonku


Dering darimu tak ada lagi


Walau kau menghapus menghempas diriku


Mengganti cintaku


Semua tak mampu hilangkan cinta


yang telah kau beri


Walau kau berubah aku kan bertahan disepanjang waktuku


Biarkan aku mencintaimu dengan caraku


Tak mengerti mengapa engkau membisu


Kau tak lagi sama,  engkau bukan engkau


Sampai aku ragu untuk menelfonmu


Mengertikah kamu , akau rindu kamu


Walau kau menghapus menghempas diriku


Mengganti cintaku


Semua tak mampu hilangkan cinta


yang telah kau beri


Walau kau berubah aku kan bertahan disepanjang waktuku


Biarkan aku mencintaimu dengan caraku


Aku tak suka bila hoo


Kau slalu dekat dengannya


Jangan engkau cemburu

__ADS_1


Dia hanya sahabat dikelasku


Walau kau menghapus menghempas diriku


Mengganti cintaku


Semua tak mampu hilangkan cinta


yang telah kau beri


Walau kau berubah aku kan bertahan disepanjang waktuku


Biarkan aku mencintaimu dengan caraku


Tak usah cemburu


Aku tak ingin kita berpisah karena ini


Biarkan aku slalu mencinta


untuk selamanya***


Biru menatap suasana diluar,  panas seakan tidak menghalangi semangat teman-temannya untuk berada dilapangan,  melihat pertandingan basket yang sedang berlangsung. Matanya seketika kembali memanas mengingat perasaannya yang terluka. Rasanya sakit mencintai tapi tak dicintai,  betapa bodohnya dia telah menetapkan hatinya untuk mencintai laki-laki brengsek seperti awan. Matanya kembali tertuju pada cincin yang masih melingkar dijarinya, biru tersenyum mengingat moment bahagia yang hanya sebentar itu,  sulit sekali untuk sekedar melepasnya. Karena hatinya masih sangat mencintai pemberinya. Sekuat apapun biru mencoba melupakan,  nyatanya perasaan itu masih ada. Bel tanda jam istirahat sudah usai biru meletakkan gitarnya ditempat semula dan keluar menuju kelasnya.


                                      ***


Bulan menatap pantulan dirinya dicermin,  dress selutut berwarna maroon begitu pas berada dibadannya,  rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja dengan hiasan jepit kecil   diatasnya.


"iya ma,  bentar. Bulan mau turun


Awan terkejut melihat bulan yang terlihat sangat cantik malam ini.


" yuk berangkat. Ajak bulan pada awan yang masih menatap lekat pada bulan


" jangan kaget gitu,  ngeliatnya. Anaknya om memang cantik.  Ucap papa bulan menyadarkan awan dari lamunannya


" ehh.. I...ya om. Ucap awan gugup "ya udah kita berangkat om, tante. Pamit awan menyalami mereka


" iya,  pulangnya jangan malem-malem. Besok kan kalian harus sekolah.  Ucap mama mengingatkan


" iya tante.  Ucap awan sambil tersenyum


Awan melajukan motornya pelan menyusuri jalanan jakarta yang tak pernah sepi, setelah  tiga puluh mereka pun sampai disebuah restorant yang sedang ngehitz dikalangan anak muda jaman sekarang. Selain tempatnya yang kekinian letaknya juga sangat mudah dijangkau. Mereka pun memilih untuk duduk dimeja yang dekat dengan dinding yang sengaja dibuat dari kaca,  sehingga para pengunjung bisa menikmati ramainya jalanan dimalam hari.


" gimana,  bagus gak yang?  Tanya bulan pada awan,  karena ia yang mengajak kesini.


" Bagus.  Jawab awan singkat


" tu kan mulai,  ngomongnya ngirit banget. Ngomong panjang gak bayar kok yang.  Ucap bulan heran dengan kepribadian awan yang sangat irit bicara

__ADS_1


" Trus harus jawab gimana?  Tanya awan menggenggam tangan bulan


" nggak udah jawab aja deh.  Ngeselin kamu mah. Ucap bulan " kita langsung pesen aja ya yang.  Kamu mau apa? 


" samain aja sama kamu.  Jawab awan singkat,  ia bukan orang yang pilih-pilih dalam makanan.  Apapun itu yang penting bersih akan masuk dalam perutnya. Awan tak sengaja melihat perempuan yang memakai celana jeans hitam kemeja kotak-kotak dan rambut yang dikucir satu. Yang dia yakini itu adalah biru,  sedang menatap depan dengan tatapan kosong,  kemudian jongkok sambil membenamkan kepalanya diatas tangan yang ia tumpukan dilututnya. Selang lima menit,  dia berdiri sambil mengusap pipinya dan pergi menyebrang jalan.


" yang,  kok ngelamun? Kenapa? Ada masalah?


"nggak kok,  yu makan.  Ajak awan


" makan meja?  Orang makanannya belum dateng.  Ucap bulan tertawa


Awan hanya tersenyum kikuk atas sikap bodohnya dihadapan bulan.


" aku heran deh sama biru?  Ucap bulan membuka obrolan


" kenapa?  Tanya awan


" heran aja,  soalnya belakangan ini dia tu jadi pendiem. Padahal biasanya suka ngegaring.


" oh ya.  Kamu udah lama kenal dia?  Tanya awan


" dari awal masuk sma. Dia orangnya baik banget, ceria,  humble. Ucap bulan yang sangat antusias jika bersangkutan dengan biru


" permisi mas mbak,  ini pesanannya.  Kata seorang pelayan meletakkan makanannya diatas meja.


" maksih.  Ucap bulan tersenyum " yuk makan. Ajak bulan pada awan


                                   ***


Biru merebahkan tubuhnya diatas kasur yang tidak empuk itu. Tubuhnya sangat lelah setelah seharian mencari pekerjaan. Sudah satu minggu biru mencari pekerjaan paruh waktu,  uangnya sudah makin menipis saat ini. Kadang biru merasa lelah menjalani hidupnya. Tidak ada lagi orang yang menyambutnya saat pulang sekolah,  tak ada lagi harumnya masakan saat bangun tidur, tidak ada lagi penyemangat saat dia sedih, tidak ada lagi tawa yang membuatnya untuk tetap betah dirumah. Yang ada hanya rumah kosong setiap biru masuk kerumah dan biru harus bekerja hingga malam. Jadi,  tidak heran jika biru terus - terusan kesiangan belakangan ini.


Tadi ketika biru akan keluar dari restourant untuk mencari kerja. Matanya tak sengaja melihat awan yang sedang memegang tangan bulan diatas meja dengan senyum yang ia berikan pada bulan. Bulan dengan dress maroon yang membuatnya terlihat semakin cantik sedangkan awan yang selalu tampan tampak menggunakan kaos polos dengan luaran jeket kulit warna coklat muda. Sungguh pasangan yang sangat serasi.  Biru buru-buru melangkahkan kakinya keluar restourant hatinya masih saja terasa sakit , biru menghirup udara banyak-banyak untuk menghilangkan rasa sesaknya. Kakinya terasa lemah untuk sekedar berdiri,  biru berjongkok sambil membenamkan kepalanya diatas tumpukan tangannya untuk menumpahkan tangisnya agar tidak dilihat orang lain. Setelah dirasa cukup biru kembali berdiri memutuskan untuk pulang.


                                       ***


Awan keluar dari rumah bulan setelah mengantarkan bulan dan berpamitan dengan keduaorangtuanya.


" makasih ya sayang, buat malam ini. Ucap bulan pada awan


" sama-sama. 


" kamu hati-hati dijalan. Jangan lupa kabarin aku kalo udah sampek rumah. Ucap bulan mengingatkan bulan.


" sayang...  Panggil awan


" kenapa?  Tanya bulan heran


" jangan lupa,  mimpiin aku. Ucap awan berlalu meninggalkan bulan yang masih tak percaya dengan gombalan receh awan.

__ADS_1


                                    ***


                       


__ADS_2