
Biru menggerak-gerakan badannya untuk mengurangi rasa penatnya, bekerja sambil berdiri seharian membuat biru merasa sedikit lelah. Apalagi hari ini pemgunjung sedikit lebih banyak dari hari biasanya. Karena memang jika bertepatan dengan wekend maka cafe akan menjadi lebih ramai dari hari lain. Setelah melepas seragam kerjanya, biru buru-buru mengambil tasnya yang berada diloker dan berjalan keluar cafe yang kebetulan memang sudah sepi, karena teman-temannya sudah pulang lebih dulu. Tatapan biru menangkap sosok awan yang sedang duduk disebuah kursi yang berada didepan cafe sedang diam memejamkan mata. Tanpa suara biru duduk disamping awan sampai awan membuka matanya.
" kenapa? Masih keinget doni? Tanya bulan tersenyum lembut pada awan
Awan hanya diam mendengar pertanyaan biru, memang nyatanya awan masih seringkali mengingat doni, sudah enam tahun mereka selalu bersama.
Biru menghela napas, memang tidak mudah untuk melupakan orang yang kita sayangi saat dia pergi untuk meninggalkan kita selamanya. Biru sampai sekarang masih seringkali menangis mengingat keduaorangtuanya, tapi biru yakin bahwasanya mereka disana sudah berada ditempat yang terbaik.
" doni nggak bakal suka ngelihat kamu yang terus-terusan sedih. Kalau pun kamu masih sering keinget doain aja, itu lebih baik daripada kamu kayak gini. Ucap bulan mengingatkan awan.
" susah buat nggak inget . Ucap awan jujur
" semuanya butuh proses wan, jadi pelan-pelan biar kamu ikhlas dengan kepergian doni. Inget boleh, tapi jangan keterusan. Aku yakin kamu bisa. Ucap biru menyemangati awan " aku pulang dulu. Hati-hati nanti kamu dijalan. Pamit biru pada awan.
" makasih ya bir, udah ngingetin. Ucap awan sebelum biru pergi
Biru tersenyum mendengar perkataan awan. " iya sama-sama. Ucap biru kemudian pergi meninggalkan awan.
Biru sibuk menyuapkan nasi pecel lele kesukaanya dengan lahap, karena memang sedari tadi ia sudah merasa sangat lapar. Bila bagi sebagian perempuan tidak mau untuk makan malam karena takut badannya gemuk, justru sebaliknya biru harus selalu makan malam sehabis kerja. Jika tidak maka dia tidak akan bisa tidur nyenyak.
" bir...
Mendengar suaranya dipanggil biru celingukan mencari asal suara. Biru membulatkan matanya ketika menangkap sosok fero yang sedang berdiri didepan pintu masuk sembari tertawa dan berjalan menghampiri tempatnya . Setelah menelan makanan yang berada dimulutnya barula biru membuka suara bertanya pada fero yang sibuk mengunyah rempeyek yang biru beli. " kamu kok tahu aku disini? Tanya biru penasaran
Mendengar pertanyaan biru ternyata tidak menghentikan fero yang terus memasukan rempeyek kedalam mulutnya. Setelah makan pertama kali bersama dengan biru waktu itu, membuat fero menyukai jajanan rempeyek yang selain enak juga memiliki aroma daun jeruk yang khas. " hebatkan. Ucap fero santai
Biru memutar bola matanya malas mendengar jawaban fero, setelah beberapa bulan nggak ketemu, ternyata sifat menjengkalkan fero masih ada. " biasa aja. Ucap biru malas
Rindu, satu kata yang ingin sekali fero katakan pada biru yang sedang asyik melahap makananya. " kamu apa kabar? Tanya fero
__ADS_1
" kayak udah lama nggak ketemu aja fer, kamu aja sering nelphone aku kok. Ucap biru heran dengan fero
" udah lama kita nggak ketemu, kamu nggak kangen aku gitu, nggak mau peluk atau apalah. Datar banget tu muka. Ucap fero sambil tersenyum
" ngarep aku peluk yah. Sana minta peluk sama mbak yang lagi makan dipojok. Ucap biru menunjuk mbak-mbak yang sedang makan berdua dengan laki-laki yang memiliki otot gede.
" istri orang bir, nanti kamu nggak bisa mandangin muka ganteng aku lagi loh. Ucap fero pede
Biru yang sudah hafal dengan tingkat kepedean fero yang melebihi batas wajar hanya mampu geleng-geleng kepala . " nggak mau pesen, aku pesenin yah? Tanya biru pada fero mengalihkan topik pembicaraan
Sebenarnya sebelum manemui biru fero sudah makan malam bersama sang mama. Tapi, saat melihat biru makan dengan begitu lahapnya membuat fero menelan ludah. " boleh deh, aku juga belom makan. Ucap fero bohong
Setelah menunggu selama sepuluh menitan akhirnya pesanan fero telah berada dihadapannya dengan asap yang masih mengepul. Fero langsung memakan makanannya setelah sebelumnya mencuci tangannya dalam mangkuk kecil yang telah disediakan . Biru yang melihat fero makan dengan lahap tersenyum senang, setelah beberapa bulan tidak bertemu akhirnya malam ini biru bisa melihat senyum fero lagi.
Dalam waktu kurang dari dua puluh menit fero telah berhasil menghabiskan satu porsi pecel lele dengan satu gelas besar es jeruk dihadapannya.
" mau tambah? Tanya biru
" pulangnya bareng sama aku. Ucap fero pada biru
" nggak usah, orang udah deket kok. Tolak biru karena memang jarak dari rumahnya sudah dekat
" besok libur, kita jalan. Ucap fero
Biru lansung mengerutkan keningnya mendengar ucapan fero.
" nggak bisa lah fer, bukan hari libur aku. Lagian aku juga belum izin sama awan. Ucap biru jujur
" nanti aku yang ngomong sama awan. Ucap fero
__ADS_1
" ya gak bisa fer, aku nggak enak sama awan.
" gak papa bir, aku nanti yang ngomong. Pasti awan bisa ngerti. Ucap fero meyakinkan bulan
Biru hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan fero yang memang tidak bisa dibantah.
" besok aku jemput jam sepuluh ya. Kamu tunggu didepan rumah. Ucap fero
Biru menganggukan kepalanya menyetujui permintaan fero
" ya udah yuk aku anter pulang. Keburu malem. Ucap fero menarik tangan biru keluar dari tempat makan
***
Biru berusaha memejamkan matanya sejak satu jam tadi, tapi sepertinya matanya tidak bisa diajak kompromi. Biru sibuk memikirkan tentang pekerjaannya . walaupun awan dan fero adalah teman baik. Tapi tetap saja biru merasa tidak enak jika tidak bekerja tanpa izin terlebih dahulu. Biru mengambil ponselnya diatas meja dekat tempat tidur, Dia mencari nomor awan yang masih disimpannya. Saat ingin memencet tombol hijau dilayar ponselnya biru ragu, apakah dia harus memberitahu awan selarut ini, takutnya dia malah akan mengganggu waktu istirahat awan. Biru terus kalut antara menghubungi awan atau tidak. Setelah menata detak jantungnya , biru memutuskan untuk menghubungi awan. Belum sempat biru memencet tombol hijau dilayarnya. Tiba-tiba nama awan sudah tertera dilayar ponselnya.
" halo... Ucap awan disebrang
Setelah menghebuskan nafasnya pelan, barulah biru menempelkan ponsel ditelinganya. " iya, hallo. Jawab biru masih mencoba menormalkan suaranya.
" *aku ganggu. Tanya awan disebrang
" ng... ngak, aku mau ngomong sama kamu. Ucap biru pada awan
" soal besok, fero udah ngomong sama aku. Besok kamu nggak usah masuk kerja. Ucap awan disebrang
" nggak papa yah wan? Tanya biru
" ya gak papalah bir, lagian masih banyak karyawan lain kan. Ya udah aku tutup, bulan nelphone soalnya. Inget besok nggak usah kerja*
__ADS_1
Toooth toooth....
***