
Pagi menyambut jakarta , hiruk pikuk penduduk dikota metropolitan ini telah dimulai. Biru mengikat rambut pendeknya asal dengan menggunakan jeans hitam kemaja kotak-kotaknya dan tas hitam dibelakang pundaknya. Setelah kejadian dua hari yang lalu, biru mulai menata ulang hidupnya. Dia tidak ingin terus-terusan terpuruk dalam kesedihan. Mungkin selama ini biru terlalu berharap kepada orang lain, dan pada akhirnya hanya mendapat kekecewaan. Mulai sekarang biru akan mencoba mengabaikan tentang perasaannya yang masih terluka. Biru melangkahkan kakinya menyusuri jalanan jakarta yang terik untuk mencari pekerjaan baru, tidak mungkin bukan jika biru harus kembali bekerja ditempatnya kemarin. Sudah cukup biru mendengar tuduhan-tuduhan tak berdasar dari mereka. Biru memasuki satu persatu restourant dipinggir jalan. Hingga akhirnya ada satu restaurant yang menerimanya bekerja walaupun hanya sebagai pencuci piring. Tidak menjadi masalah bagi biru karena dirinya sadar hanya lulus sma saja. Apapun pekerjaannya yang penting halal dan bisa membuat biru bisa bertahan hidup. Mulai besok biru sudah bisa bekerja disana. Walaupun jarak dari rumahnya tidak terlalu jauh, untuk menghemat pengeluaran biru berjalan kaki sembari menikmati pemandangan jakarta. Sesulit apapun hidup yang kita jalani, jika dilakukan dengan ikhlas maka semua akan terasa mudah. Yang terpenting adalah doa dan usaha.
Biru beristirahat sejenak disebuah taman yang masih sepi. Ingatannya kembali pada saat fero mengatakan hal tentang ibunya sebagai perebut kebahagian orang. Apa sebenarnya yang menyebabkan fero berkata seperti itu kepadanya. Hatinya masih terasa sesak ketika mengingat hal itu. Kini biru benar-benar sendiri. Semuanya telah pergi, tak akan ada lagi yang mengingatkannya tentang makan, menanyakan kabarnya atau mengatakan guyonan garing padanya. Ketika hatinya sudah melupakan sosok awan , kenapa biru harus terluka untuk keduakalinya dari orang yang berbeda. Biru menghembuskan nafasnya kasar mengusir semua ingatan tentang fero yang bergentayangan dipikirannya. Biru merasakan perutnya yang terus berbunyi mintak diisi karena sedari pagi dia belum makan apapun hanya minum teh panas yang dibuatnya dirumah. Biru kembali berjalan mencari pedagang kaki lima yang menjaul makanan. Yang penting bisa membuatnya kenyang. Matanya menangkap penjual bakso yang sedang mangkal.
" bang baksonya satu. Pinta biru setelah duduk disalah satu kursi
" bentar ya neng. Ucap abang penjual
Setelah menunggu sekitar sepuluh menitan akhirnya bakso yang baru keluar dari panci tersaji didepan biru. Setelah menambahkan saus, kecap dan sambal dalam mangkuknya dengan hati-hati biru memasukan satu bakso kecil kedalam mulutnya. Satu persatu bakso yang berada dimangkuk telah berpindah kedalam perutnya.
" allhamdulilah. Ucap biru
Setelah membayar pada abang penjual, biru kembali duduk untuk menurunkan makanannya. " bang numpang duduk bentar yah. Pinta biru pada abang pedagang
" iya neng, duduk aja. Gak papa, tapi kalo ntar ada pembeli. Minggir ya. Ucap abang pada biru sambil tersenyum.
" siap bang.
Tatapan biru terpaku pada sosok yang sedang tersenyum bersama seorang wanita berambut panjang yang baru saja keluar dari sebuah cafe. Tangan wanita itu bergelayut manja dilengan laki-laki yang tak lain adalah fero. Biru merasakan hatinya kembali sesak melihat pasangan disebrang sana. Tak ingin berlama-lama melihat kebersamaan mereka. Biru buru-buru pergi meninggalkan pemandangan yang membuat hatinya sakit.
***
Awan kembali menelphone beberapa orang untuk mencari bulan. Sudah seminggu sejak malam kejadian dimana bulan pergi tanpa alasan. Dan sampai sekarang beluma ada yang menemukan keberadaan bulan. Awan mengerang frustasi memikirkan bulan yang tak juga ditemukan. Yang awan takutkan jika sesuatu buruk terjadi pada bulan diluar sana. Andai saja bulan mengatakan alasannya pada awan, pasti awan akan menerima apapun itu. Karena baginya adalah kebahagian bulan yang terpenting. Nama fero tertera dilayar ponselnya
__ADS_1
" *iya fer, kenapa? Tanya awan
" gimana, udah ada kabar tentang bulan? Tanya fero disebrang
" belum fer. Ucap awan menghela nafas lelah
" lo yang sabar, gue yakin bulan pasti ketemu dan akan baik-baik saja. Ucap fero berusaha menenangkan awan
" iya bro, makasih. Ucap awan tulus*
Awan merasa beruntung memiliki teman seperti fero dan nando tidak hanya ada disaat suka tapi juga selalu ada disaat duka.
" *gimana kalo besok kita keluar bareng sama nando. Tawar fero
"emm..
Awan mengambil kotak cincin yang masih tergeletak diatas mejanya. Seketika ingatannya bersama bulan kembali bergelayut dalam pikirannya. Awan segera meletakan kotak cincinya dan turun kebawah untuk menemui sang papa.
" pa.. Panggil awan duduk disampingnya
" kenapa kamu mau nanya tentang bulan? Tebak papa pada awan " belum ada informasi dari anak buah papa. Mereka masih berusaha untuk mencari bulan. Ucap sang papa menepuk pelan pundak awan
Awan tersenyum kearah sang papa" nanti kalo ada kabar tentang bulan, langsung kabarin awan yah pa. Pinta awan
"pasti. Jawab papa " kamu juga harus kuat, laki-laki gak boleh lemah hanya karena hal sepele ini. Kalaupun nanti bulan gak ketemu, berarti dia bukan jodoh kamu. Karena tuhan lebih tahu mana yang terbaik buat kamu. Ucap papa memberi semangat pada awan. " jadi besok papa harap kamu dateng ke kafe seperti biasa. Masalah nyari bulan udah banyak yang papa kerahkan. Kadi, kita tunggu aja hasilnya. Ucap papa tersenyum tulus
__ADS_1
" iya pa. Besok awan akan mulai kuliah dan kecafe lagi. Makasih ya pa, atas nasehatnya. Maafin awan yang terus ngerepotin papa. Ucap awan
" kamu gak ngerepotin papa sama sekali, sudah kewajiban papa sebagai orangtua untuk ngebantu kamu. Ucap papa tersenyum. " papa kekamar dulu mau istirahat, besok ada meeting soalnya. Pamit papa pergi menuju kamar
Meskipun awan tidak dekat dengan sosok mamanya sekarang, tapi awan beruntung masih ada sosok papa yang selalu mendukungnya.
***
Biru berlari kencang menyadari bahwasanya dirinya bangun kesiangan hari ini, karena kemarin biru pulang lebih malam dari biasanya mengingat kemarin adalah wekend. Dan hari ini biru harus kembali mempersiapkan tenaga ekstra. Sesampainya ditempat kerja biru bisa sedikit lega karena pekerja lain juga baru datang.
" kamu kok ngos-ngosan gitu? Abis dikejar setan? Tanya mira salah satu pelayan restourant.
" abis dikejar gajah. Ucap biru masuk kedalam mendahului mira
Mira langsung ngedumel melihat tingkah biru yang terkenal pendiam diantar pekerja lain.
Setelah meletakan tasnya didalam loker, biru memasang apron dan sarung tangannya. " semangat. Ucap biru menyemangati dirinya sendiri
" bir, siap-siap buat lembur lagi yah. Ucap mira menggoda biru
Biru yang mendengar ucapan mira hanya tersenyum.
" malah senyum, jawab apa gitu. Irit banget kalo ngomong. Orang ngomong gak bayar kok. Ucap mira kesal pada sikap diam biru.
Biru kembali melebarkan senyumnya mendengar mira
__ADS_1
***