
Biru sibuk mencuci piring yang sudah menumpuk. Hari ini pengunjung tidak begitu ramai seperti saat wekend. Jadi, para pekerja bisa bersantai sedikit.
" biru... Panggil mira
Biru menolehkan kepalanya kearah mira.
" kenapa? Tanya biru9w
" sini, gue mau mintak tolong. Ucap mira pada biru
Biru membasuh tangannya dan melepas kan sarung tangan, berjalan kearah mira
" tolong, anterin ini dong. Meja nomor 22 , Gue mules banget soalnya anak-anak yang lain lagi ada kerjaan. Pinta mira dengan wajah meringis menyerahkan nampan berisi dua coklat panas yang masih mengepul kepada biru
Biru menerima nampan dari berjalan menuju meja nomor 22.
Braak...
Seseorang menabrak biru depan, sehingga coklat panas yang berada dinampan tumpah mengenai tangan biru.
" mba, gak bisa kerja? Ucap wanita yang menabraknya
Biru mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan wanita itu " maaf ya mba, seharusnya saya yang nanya ke mba. Mba jalan pake dengkul? Ucap biru sarkas, dia tidak terima jika harus disalahkan . Jelas - jelas wanita ini yang salah kenapa berjalan tapi terus fokus pada ponselnya.
Fero yang mendengar suara keyla, langsung menghampiri tempat kejadian. Disana ia mendengar ucapan sarkas biru pada keyla.
" kamu kalo ngomong bisa lebih sopan. Ucap fero menatap tajam biru
" dia yang salah,,,
" udah, saya bakal ganti rugi pesanan ini. Kata fero memotong ucapan biru sembari meletakkan dua lembar uang seratusan diatas nampan biru.
Fero menarik lengan keyla keluar dari restourant tanpa menoleh sedikit pun kearah biru.
__ADS_1
Biru menghapus air matanya kasar, dan buru-buru membersihkan pecahan gelas yang berserakan dilantai dan menghampiri meja yang memesan.
" mba, maaf atas kecerobohan saya. Pesanan mba akan saya buatkan lagi. Ucap biru pada mereka
Dan syukurnya mereka bisa mengerti dengan kejadian tadi. Biru buru-buru melangkahkan kakinya kebelakang untuk membuatkan pesanan baru.
" sory ya mir, gue tadi gak sengaja. Ucap biru pada bulan yang sedang membuat pesanan
" gak papa bir, syukur deh pak bos belum dateng. Jadi lo gak dimarahin. Ucap mira paham.
" makasih. Ucap biru tulus
" buruan obatin luka lo, nanti keburu melepuh. Lo gak bisa kerja lagi
Biru melangkah pergi meninggalkan mira untuk mengobati lukanya.
Waktu terus berjalan tanpa terasa. Biru mendongakan kepalanya menatap langit malam. Biru memejamkan matanya untuk menikmati semilir angin malam.setelah dirasa cukup biru menghembuskan nafasnya pelan dan berjalan untuk pulang.
Perutnya tiba-tiba saja berbunyi dengan keras, karena malas jika harus berjalan mencari makan, biru melangkahkan kakinya memasuki minimarket yang dilewatinya. Setelah mengambil satu cup mie instan, biru mengambil air hangat yang sudah disediakan. Dan membawanya kemeja yang ada diluar.
***
Fero menepikan mobilnya didepan minimarket dipinggir jalan untuk membelikan pesanan mama. Saat fero ingin keluar dari mobil, matanya menangkap sosok wanita dengan rambut yang diikat asal sedang menyantap mie instan nya dengan lahap, sambil sesekali meniup punggung tangan kirinya.
Fero melihat jam dilayar ponselnya telah menunjukan pukul 21.00 WIB , sudah selarut ini biru baru pulang kerja dan harus berjalan sendirian. Diam-diam fero mengikuti biru dari belakang , karena tidak mungkin jika harus mengantarkan biru secara terang-terangan. Setidaknya dengan begini kekhawatiran fero akan sedikit terbayar walaupun hanya melihatnya dari jauh.
Setelah biru masuk kedalam rumahnya, fero baru pergi untuk membeli pesanan sang mama.
***
Biru terbangun dari tidurnya, perutnya terus saja berbunyi sehingga membuatnya tidak bisa memejamkan matanya kembali.
" lagian tadi kenapa coba, aku sok-sok an makan mie doang. Jadinya gini deh, kelaperan. Mana gak ada telur lagi. Gerutu biru pada dirinya sendiri
__ADS_1
Setelah membasuh mukanya terlebih dahulu, biru memutuskan untuk mencari makan diluar.
Biru dikejutkan dengan keberadaan awan didepan rumahnya dengan keadaan yang tidak baik rambutnya yang acak-acakan dan kemejanya yang sudah berantakan.
" awan.. Panggil biru khawatir
Awan mengakat kepalanga kearah biru yang berdiri didepannya. " kamu tau bulan dimana? Ucap awan berdiri mendekat kearah biru
Biru yang menyadari bahwasannya saat ini awan sedang dilingkupi amarah, memundurkan kakinya kebelakang.
Awan yang melihat biru ketakutan, tertawa sumbang " kenapa, takut? Ucap awan tersenyum miring
Biru menggigit bibir bawahnya untuk menghalau air matanya agar tidak keluar. Bohong jika biru tidak merasa takut dengan awan saat ini. " a... aku gak tau, bu... lan dimana. Ucap biru terbata -bata
" kalo kamu gak salah, kamu gak akan setakut ini. Ucap awan menatap biru tajam
Biru mengumpulkan semua keberaniannya untuk melawan awan. Kerana biru tidak ingin dituduh dengan hal yang tidak sama sekali dia lakukan. Biru mendekatkan kakinya kearah awan " aku tahu, saat ini kamu merasa kehilangan. Aku tahu jika kamu sangat mencintai bulan. Tapi kamu harus tau bukan hanya kamu yang terluka, aku juga awan. Biru udah aku anggep saudara aku sendiri. Dan perlu kamu inget, aku gak mungkin ngelakuin hal sejahat itu pada bulan. Kamu memang gak kenal aku, tapi aku mohon jangan menyalahkan aku atas kesalahan yang tidak aku lakukan. Aku capek wan, jika harus selalu disalahkan. Ucap biru mengatakan isi hati yang selama ini dia simpan rapat, dengan mudahnya air mata yang ditahannya sedari tadi, nyatanya mengalir tanpa izin.
" kamu tau gak, waktu bulan marah ke aku karena udah bilang cinta sama kamu. Bukan aku yang salah, tapi kamu. Ucap biru menunjuk dada awan. "kamu gak jujur sama bulan tentang taruhan kamu. Kamu gak akan bisa ngerti gimana susahnya aku buat jalanin hidup setelah itu. Karena kamu egois wan. Kamu gak mikirin orang lain, kamu hanya mikirin diri kamu sendiri. Ucap biru dengan tangis yang semakin menjadi
Awan yang mendengar semua ucapan biru hanya diam tak bersuara. Apa yang biru katakan memang benar. dirinya egois hanya mementingkan dirinya sendiri.
" kamu boleh pergi, semua udah selesai. Ucap biru beranjak pergi meninggalkan awan
Baru dua langkah biru berjalan, tangannya ditarik dengan cepat sehingga saat ini awan sudah berada dalam pelukannya. Biru mencoba melepaskan pelukan awan dari dirinya. Tapi usahanya hanya sia-sia, karena awan semakin mempererat pelukannya.
" aku mohon, biarkan seperti ini sebentar saja.
Biru mendengar permintaan awan menghentikan perlawanannya, dan membiarkan awan memeluknya, biru merasakan baju bagian pundaknya basah. Dia sama sekali tidak menyangka jika awan yang dikenal dingin, bisa menangis.
Biru menepuk pelan pundak awan, supaya bisa sedikit menenangkan awan yang sedang sangat terluka.
" aku mintak maaf sama kamu. Ucap awan lirih dibalik punggung biru.
__ADS_1
***