Luka Biru

Luka Biru
54. Kembali terluka


__ADS_3

Bukanya terkejut atau senang dengan ungkapan cinta yang awan katakan,  biru seakan tidak merasakan apapun semuanya terasa hampa dan biasa saja,  biru sadar bahwa sekarang hatinya benar-benar telah menjadi milik orang lain.


" maaf mas,  aku gak bisa." biru tampak menghembuskan nafasnya yang terasa berat.


"Aku sudah mencintai orang lain,  aku tidak mau mengulang kesalahan untuk kesekian kalinya,  aku tidak mau terluka pada orang yang sama. semoga mas bisa mendapatkan wanita yang lebik baik dari pada aku. aku gak akan ngelarang mas buat ketemu sama alisha,  mas bebas untuk menemui alisha,  tapi untuk aku kembali sama mas,  aku benar-benar gak bisa,  maafkan aku. " jawab biru .


Awan kembali menghembuskan nafasnya pelan " aku tau,  aku tidak pantas untuk kembali bersama wanita baik seperti kamu. " ada jeda dikalimatnya " terimakasih masih mengizinkan aku untuk bertemu alisha. " lanjutnya kemudian berdiri dan menutup kotak cincin meletakkannya diatas meja.


" tolong simpan itu,  kalaupun kamu tidak mau,  maka kelak tolong kau berikan pada alisha. " ucap awan mencoba tersenyum dibalik hatinya yang rapuh


"aku pamit,  semoga kamu selalu bahagia bersama dia. "


Setelah mengatakan itu awan pergi menuju mobilnya dan pergi membelah jalanan kita jakarta.


Flasback off


Menurut awan biru sudah mengambil keputusan yang sangat tepat,  hanya wanita bodoh yang mau kembali pada laki-laki brengsek sepertinya.


***


Setelah mengantarkan alisha kesekolah , biru melajukan motornya kealamat kantor nichol yang ia ketahui dari budi sahabat nichol.


Hatinya sudah tidak sabar untuk bertemu laki-laki yang menghilang tanpa kabar satu minggu yang lalu,  ia tidak marah mungkin ini memang salahnya meninggalkan nichol tanpa mengatakan apapun. Biru telah bertekad untuk menjelaskan semuanya dan memperjuangkan cintanya.


Senyum lebar terus saja menghiasi wajahnya disepanjang perjalanan,  hingga akhirnya biru sampai dialamat yang dituju. Sebuah kantor yang luas dengan bangunan yang menjulang tinggi yang dindingnya terdiri dari kaca . Mobil mewah berjajar rapi diarea parkir depan. Apalah jika dibandingkan motor matic bututnya ini.

__ADS_1


" astagfirullahaladzim,  gak boleh ngeluh biru,  harus bersyukur. " gerutu biru setelah memarkirkan motornya diantara jajaran motor bermerk itu. Lihat saja,  ada motor dengan merk Ducati,  Kawasaki hingga harley davidson yang sempat viral belakangan ini.


Setelah merapikan tatana rambut dan juga dress selutut berwarna peachnya,  biru berjalan memasuki kantor.  Mata biru dihidangkan dengan pemandangan yang menakjupkan didalam,  terdapat pohon-pohon kecil yang ditata sedemikian rupa dan juga bunga kaktus yang terdapat dibagian tengah berbentuk bulat.


Biru berjalan menuju seirang resepsionis berjilbab didepan sana. Dengan wajah ramah dan senyum sang mba bername tagi raya itu bertanya pada biru.


" pagi bu,  cari siapa? " tanya raya sopan


Biru tak luput ikut tersenyum kearah raya


"saya mau cari pak jeff nichol,  ada? Saya mau ketemu. " tutur biru


" apa ibu sudah membuat janji pada pak jeff? " tanyanya lalu dibalas dengan gelengan pelan biru.


Biru sedikit kecewa denga jawaban maya,  kalo mengatakan dia adalah calon istri nichol mungkin bisa saja masuk, tapi biru mengurungkan niatnya karena kejadian seminggu yang lalu,  dia tidak ingin dianggap halu oleh orang kerena mengharapkan laki-laki sempurna seperti nichol. Tapi,  biru ingin menjelaskan semuanya pada nichol,  tidak ada waktu lagi biru harus mencari cara untuk bertemu dengan nichol.


"ya sudah kalo begitu." ucap biru pura-pura kecewa.


"mba,  emang pak nichol ruangannya dilantai berapa? " tanya biru melancarkan aksinya.


" dilantai 20  bu, disana hanya ada satu ruangan milik pak jeff. " jawab raya


Biru manggut-manggut mengerti kemudian pamit pergi pada raya,  bukannya pulang biru berjalan mencari lift yang mengantarkannya ketempat tujuan. Raya yang sibuk dengan pekerjaannya tampak tidak menyadari rencana nekat biru.


Begitu lift terbuka hanya ada satu perempuan yang tampak sibuk didalamnya,  biru pun masuk kedalam lift dan menekan tombol 20,  hingga membuat wanita itu mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Biru melangkahkan kakinya ketika lift sudah berhenti,  ruangan besar bernuansa coklat tua terlihat mewah dan elegan. Biru berjalan menuju pintu berwarna putih itu.


Biru melihat meja disampingnya yang bertuliskan sekertaris nampak kosong tidak berpenghuni.


Dengan pelan biru membuka pintu, matanya langsung disungguhkan dengan pemandangan yang menyakitkan baginya, hatinya terasa sesak dan penuh hingga bulir ait mata telah keluar dari pelupuk matanya yang masih terus memandang senyum bahagia kedua orang yang berada didalam tengah berdiri membelakanginya didepan kaca yang memperlihatkan pemandangan gedung pencakar langit yang sangat indah dan berpelukan dengan penuh cinta.


Wanita berjilbab lebar dan baju gamis yang melekat ditubuhnya,  terlihat begitu anggun dan cantik tengah memeluk dan dipeluk nichol dengan erat.


" mas,  mas sayang nggak sama aisyah? " tanya perempuan itu dengan nada manja.


" jangan ditanya lagi,  mas sayangg banget sama kamu,  tidak ada wanita lain. " jawab nichol mengeratkan pelukannya pada wanita itu.


Hati biru kembali merasa berdenyut dan nyeri mendengar pengakuan nichol,  tidak ada wanita lain. Ch,  guyonan macam apa ini.


" mas bentar lagi kan kita nikah,  jadi aisyah harap mas selalu seperti ini sampai kedepannya. "


" iya sayang,  mas gak akan berubah. "


Menikah?  Apa maksud semua ini?  Dengan air mata yang terus mengalir deras biru menutup pelan pintu yang ada didepannya,  biru sudah tidak kuat lagi jika harus melihat dengan mendengar semuanya. Biru menyandarkan punggungnya didinding kaca yang tak jauh dari ruangan itu,  mengapa hatinya begitu terasa sakit berkali-kali lipat,  hingga membuat kakinya terasa lemah tak bertenaga. Dengan tertatih biru berjalan menuju lift yang berada dijarak 1 meter dari tempatnya.


Didalam lift yang kebetulan tidak ada orang lain biru menangis sejadi-jadinya meratapi nasib cintanya yang kembali kandas tak berujung. Rasanya masih sesakit ini. Biru menepuk-nepuk dadanya pelan berharap rasa sakit yang bersarang disana enyah dan menghilang.  Suara detingan membuat biru dengan cepat menghapus sisa air matanya dan berjalan keluar membawa luka yang menganga di hatinya.


Biru memasang helm dan hendak pergi,  mobil BMW hitam lewat didepannya hingga membuat air matanya kembali lolos dari pertahanan. Karena kaca mobil yang terbuka sedikit membuat biru bisa melihat dua makhluk berbeda jenis yang tampak bahagia berada didalamnya. Wanita berjilbab tampak sangat cantik dan anggun jika dibandingkan dengan dirinya yang bukan apa-apa,  dirinya yang masih memperlihatkan auratnya pada orang lain,  dirinya yang masih malas-malasan dalam menjalankan kewajibannya sungguh tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan wanita itu,  biru memiringkan senyumnya mengingat akan hal itu. Miris bukan.


                                            ***

__ADS_1


__ADS_2