Luka Biru

Luka Biru
20. Kepergian doni


__ADS_3

Fero terus saja menatap biru yang sedang sibuk melayani pengunjung kafe yang lumayan banyak. Dari pertemuan tak sengaja mereka,  hingga akhirnya mereka menjadi dekat seperti sekarang. Bohong jika fero tidak menyukai biru,  sosok wanita yang tangguh dan baik.  Bukannya fero tidak ingin mengungkapkan tentang perasaannya pada biru tapi lebih tepatnya dia menunggu waktu yang tepat .


" biru kerja disini? Tanya fero


" iya,  kenapa? Tanya awan penasaran


" nggak,  nggak papa. Nanya aja. Ucap fero mengalihkan tatapannya kearah lain


Awan yang tau jika fero menyukai biru terkekeh geli melihat ketidakjujuran fero


" kalo suka,  ngomong aja.  Keburu diambil orang noh,  baru tau rasa kamu. Ucap awan tersenyum.


 


\*


 


Bima terus mondar-mandir dikamarnya,  ia baru saja mendengar dari sang mama bahwasanya bulan akan bertunangan dengan awan adiknya. Bima tidak ingin itu terjadi,  karena dia yakin bahwa bulan juga masih mencintai bima seperti bima yang masih sangat mencintai bulan.


Bima mengambil handphone diatas meja dan menghubungi nomor yang belakangan ini sering dihubungi tapi selalu tidak ada jawaban. Dan sampai saat ini masih tetap sama.  Bima masih saja terus menghubungi nya berharap dia akan menjawab panggilannya. Hingga suara yang sangat dia rindukan tertangkap dipendengarannya.


" halo..


" bulan.....


Bima masih tidak percaya jika sekarang dia sedang berbicara dengan bulan.


" halo, jika tidak ada hal yang penting.  Saya tutup.  Ucap bulan disebrang


" aku mau ngomong hal penting sama kamu.  Ucap bima cepat agar bulan tidak menutup telphonenya " aku mau mintak maaf sama kamu.  Ucap bima tulus

__ADS_1


" ada lagi? Tanya bulan disebrang


" aku yakin kamu masih cinta sama aku,  jadi aku mohon tunggu aku pulang.  Karena aku masih sangat mencintai kamu.


" kamu jangan ganggu hidup aku lagi,  karena sekarang aku udah gak cinta lagi sama kamu.  Dan semua ini karena kamu. Ucap bulan disebrang yang kemudian langsung memutuskan sambungannya sepihak


Bima melemparkan handphone kasar,  kenapa bulan mudah sekali melupakan dia. Jika memang waktu bisa diputar,  bima tidak akan melakukan hal bodoh itu. Bima akan berusaha untuk bicara pada sang mama tentang semuanya.


                                         ***


Bulan luruh begitu saja ketika ia memutuskan sambungan telphone bima. Air matanya lolos begitu saja tanpa izin,  sampai sekarang rasa sakit itu masih ada. Bertahun-tahun bulan menunggu kabar dari bima berharap bima akan datang menemuinya walaupun hanya sebentar. Bohong jika bulan tidak rindu pada soaok bima, Bohong jika bulan bilang kalau saat ini bima benar-benar telah menghilang dari hidupnya.  Nyatanya masih ada sedikit perasaan yang tertinggal untuk bima. Saat seperti ini,  ketika bulan telah memiliki sosok lain yang sangat mencintainya,  kenapa bima harus kembali.  Kenapa tidak dari dulu,  kenapa baru sekarang. Ingin sekali bulan menayakan alasan kenapa bima menimggalkannya begitu saja waktu itu,  tapi lidahnya terasa kelu saat mendengar suara bima disebrang sana.


" bulan,  ada awan tuh dibawah. Ucap mama dari luar kamar


"iya ma,  bentar lagi bulan turun.


Sepulang dari cafe awan langsung pergi untuk menemui bulan dirumah. Karena sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu.


" hai sayang . Sapa bulan ketika sampai disamping awan. " kangen.  Ucap bulan sambil bergelayut manja dilengan awan


Mendengar pertanyaan awan bulan menggelengkan kepala mengelak. Jika awan tahu tentang apa yang menyebabkan tangisan bulan,  bisa kacau semuanya. Karena sekarang bulan hanya ingin bersama awan. " nggak lah yang,  aku tadi tu ketiduran. Ucap bulan bohong


" aku ganggu kamu ya?  Tanya awan tidak enak


" nggak lah yang.  Oh ya kabar papa sama mama gimana?  Tanya bulan


" mereka baik,  malah sering nanyain kamu. 


" oh ya. Kapan-kapan aku main kerumah kamu.  Ucap bulan menatap awan


" kalo urusan kamu belum selesai,  nggak usah kesana dulu juga nggak papa. Kata awan memperingati bulan,  karena memang banyak hal yang harus bulan lakukan sebelum berangkat keluar negri

__ADS_1


Bulan tersenyum bahagia mendengar perhatian awan padanya.  Sungguh bulan merasa menjadi wanita yang beruntung bisa dicintai awan. " iya,  lagian bentar lagi juga kelar.


Awan mengambil tangan bulan dan mengeratkan tangannya untuk menggenggam tangan mungil bulan. Sebenarnya awan berat hati untuk berjauhan dengan bulan. Tapi awan juga tidak ingin egois,  bulan berhak untuk menggapai impiannya. Berpisah selama dua tahun juga tidak terlalu lama.  Karena mereka masih bisa bertukar kabar lewat media sosial yang sudah canggih sekarang.


" udah malem,  Aku pulang dulu. Ucap awan mengingat malam yang sudah semakin larut,  tidak enak dengan para tetangga komplek.


" iya yang,  hati-hati yah.  Sering-sering main kesini. Ucap biru mengantar awan sampai depan


" iya,  insaallah. Salam buat mama sama papa.  Assalamualaikum. Pamit awan pada bulan dan kemudian melajukan motornya meninggalkan rumah bulan.


Setelah sampai dirumah dan membersihkan diri. Awan langsung melihat hanphonenya diatas meja untuk menghubungi bulan. Tatapannya tertuju pada satu pesan dari orang yang selama ini susah sekali untuk dihubungi.  Perasaan awan tak karuan setelah melihat isi pesan dari doni . Awan buru-buru menelphone fero dan nando.


" halo fer....


" iya wan, kenapa?  Tanya fero disebrang


"lo dimana?  Tanya awan balik


" gue dirumahlah,  kenapa? 


" kita harus kerumah doni sekarang.


" lo dapet kabar dari doni,  oke sekarang gue kerumah lo. Ucap fero memutuskan sambungan


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam,  fero,  awan dan nando telah sampai didepan rumah doni yang sudah ramai didatangi para tetangga . Mereka langsung masuk untuk melihat langsung keadaan doni,  pertahanan mereka luntur tatkala melihat doni yang sudah terbujur kaku didepan mereka. Tadi awan mendapat pesan yang memberitahu bahwa telah pergi meninggalakan mereka semua karena kecelakaan sehabis pulang dari kampus. Tak lama setelah mereka membacakan doa untuk kepergian doni,  sosok kakek yang sudah lanjut usia dengan kacamata yang terpasang dimatanya yang sudah rabun menghampiru mereka.


" kalian temennya doni?  Tanya sang kakek


Awan hanya mengangguka kepalanya tanpa bisa berkata-kata.  Lidah terasa kaku untuk sekedar menjawab pertanyaan sang kakek


" doni,  sering cerita tentang kalian pada kakek selama disini.  Terimakasih sudah mau menjadi teman cucu kakek yang bandel itu,  terima kasih sudah mau menasehati dan mendampingi cucu kakek. Ucap sang kakek sembari menghapus air mata dibalik kacamatanya " maafkan apa bila ada kesalahan yang doni perbuat sengaja maupun tidak sengaja. Tolong doakan doni agar ditempatkan ditempat terbaik disana. Ucap sanh kakek menepuk pundak awan,  fero dan nando kemudian pergi.

__ADS_1


Air mata mereka seketika tumpah mendengar semua tentang doni.  Mereka sama sekali tidak menyangka doni akan pergi secepat ini meninggalkan mereka.  Tidak ada lagi doni yang akan bertengkar kecil dengan fero,  tidak akan ada lagi yang menyamakan nando tentang kejombloan mereka. Tidak ada lagi guyonan garing dari doni yang membuat tawa diantara mereka. Terimakasih doni telah memberikan tawa untuk kita semua,  selamat jalan untuk doni yang akan selalu ada dihati mereka. Semoga kamu mendapatkan tempat terbaik disana. Terimakasih untuk kehadirannya selama ini. Terimaksih dan selamat jalan.


                                    ***


__ADS_2