Luka Biru

Luka Biru
13. Balasan


__ADS_3

Sepulang sekolah awan langsung pergi menuju cafe , niatnya ingin mengubah interior kafe agar menjadi lebih trendi dikalangan anak-anak muda milenial. Sesampainya dikafe matanya langsung menangkap sosok biru yang sedang membersihkan meja. Awan meneruskan jalannya keruangannya.


Biru membenarkan letak apron yang dipakainya. lelah rasanya, apalagi pengunjung hari ini lumayan banyak. Bohong jika tidak pernah merasa lelah dengan kehidupannya.  Sepulang sekolah langsung bekerja sampai malam,  sepulang kerja harus kembali memeriksa pelajaran disekolah. Belum lagi sebentar lagi ujian akan dilaksanakan,  biru harus lebih extra dalam belajar.


" mba biru,  tolong anterin kopi ini diruangan bapak broto. Perintah salah seorang pelayan kafe yang sudah lama bekerja disana.


" oh, iya mba. Ucap biru tanpa protes


Biru masuk kedalam ruangan yang dimaksud setelah mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Buru-buru ia meletakkan kopi yang dibawanya dan berniat langsung pergi.


" hei kamu..


Biru menghentikan langkahnya ketika merasa dipanggil. Biru membulatkan kedua matanya saat melihat darah yang keluar dari hidung orang yang memanggilnya yang tak lain adalah awan.  Biru mengeluarkan sapu tangan yang selalu ada disakunya dan berlari menuju keran untuk membasuhnya,  baru kemudian mengelap tepat pada hidung awan yang berdarah. Rasa khawatir terus bergelayut dipikiran biru. Tangannya langsung berhenti bergerak ketika tangan awan menyentuh tangannya.


" gue gak papa.  Ucap awan mengambil alih saputangan dari tangan biru


Biru menundukan kepalanya mendengar ucapan awan. Betapa bodohnya dia masih saja terpesona dengan ketampanan awan. Biru buru-buru melangkahkan kakinya untuk keluar ruangan.


" allahuakbar,  ini mata nggak bisa direm yah . Biar gak terus-terusan ngelihatin awan. Gerutu biru menepuk-nepuk matanya sendiri sambil berjalan menuju dapur


Sedangkan awan didalam ruangan sibuk mengacak-ngacak rambutnya,  karena ada masih perasaan beda saat menatap biru.


" nggak mungkin lah gue suka sama dia. Gue harus nelvon bulan. Ucap awan mengambil handphonenya untuk menelvon bulan.

__ADS_1


Jam sudah menunjukan pukul 22.00 WIB,  sudah hampir satu jam biru menunggu angkutan umum,  tapi tidak ada satu pun yang lewat.  Jika harus menaiki taksi ongkosnya akan sangat mahal sedangkan biru harus sangat berhemat sekarang. Dan untuk memesan ojek lain biru tidak mempunyai data internet.  Hanya ada pulsa dua ribu rupiah dihandphonenya. Cuaca menjadi makin dingin,  angin berhembus lumayan kencang,  sehingga membuat para daun kering berterbangan tak tentu arah. Biru menggosok-gosokan kedua telapak tanggannya untuk mengurangi rasa dingin yang menyapanya. Baru saja biru melangkahkan kakinya untuk pergi mencari transportasi lain,  sebuah motor berwarna hitam berhenti didepannya.  Biru yang tau siapa pemilik motor itu masih terus berjalan karena tidak mau menciptakan keributan karena sekarang dirinya sedang kesusahan.


Awan menghembuskan nafasnya kasar melihat biru yang pergi begitu saja. Ia melepas helmnya dan berjalan menyusul biru yang masih terus berjalan mengabaikannya.


Biru memutar bola matanya malas,  saat tangannya ditarik paksa oleh awan yang masih berada dihatinya. " lepasin gue,  males gue kalo debat sama lo.  Gue harus pulang.  Ucap biru sambil berusaha melepas tangan awan dari tangannya.


Awan masih terus menarik tangan biru sampai ditempat motornya berada. Buru-buru ia memasangkan helm dikepala biru yang memasang muka kesalnya.


" naik.  Ucap awan setelah memasang helm dirinya sendiri


" aku bisa pulang sendiri.  Ucap biru hendak pergi


Awan dengan sigap menahan tangan biru.


Setelah mendengar maksud awan,  biru mendekat dan naik kemotor awan. Selama perjalanan tidak ada yang berbicara diantara mereka. Hingga hujan deras tiba-tiba turun ditengah jalan. Awan memberhentikan motornya dihalte yang tak berpenghuni. Biru yang bingung melihat awan turun ikut turun menghapiri awan. Biru dikejutkan dengan perilaku awan menyampirkan jaket kulitnya dipundak kecil biru. Jika saja mereka masih baik-baik saja seperti sebelumnya. Mungkin biru sudah berlari kepelukan awan. Hanya suara hujan yang menemani keheningan mereka.


Biru turun dari motor milik awan saat sudah berada didepan rumahnya. Biru dikejutkan dengan keberadaan fero yang sedang berjalan kearahnya.


" baru pulang?  Tanya fero pada biru


Biru hanya menganggukan kepalalanya membalas pertanyaan fero. " makasih,  udah dianterin.  Ucap biru sembari menyerahkan helmnya pada awan yang masih menatap fero heran berada dirumah biru selarut ini.


Tanpa membalas ucapan terima kasih biru awan langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


" udah lama disini?  Tanya biru pada fero yang sudah berada didepan rumah


" aku tadi jemput kamu dikafe,  ternyata udah nggak ada. Ucap fero


" maaf,  banget aku tadi bareng awan. Ucap biru pada fero. "soalnya aku tadi nunggu angkot tapi nggak lewat-lewat,  mana mau hujan. Dari pada nggak bisa pulang,  jadi aku ikut awan yang kebetulan baru ikut. " ada apa kesini?  Tanya biru


" mama suka sama bunganya.  Ucap awan sembari tersenyum


" bagus donk,  apa kata tante?


" dulu papa juga suka banget sama bunga anggrek. Ucap fero


" bapak juga dulu suka nanem anggrek.  Itu juga anggrek yang ditanam bapak.  Ucap biru pada fero.  " aku bikinin teh anget buat kamu,  jangan kemana-mana tunggu disini.ucap biru sambil berlari memasuki rumahnya.


                                       ***


Bulan masih sibuk menelfon nomor awan yang sedari tadi sudah dihubungi. " awan kemana sih,  nggak biasanya dia gini.  Gerutu bulan


Bulan masih terus mencoba menghubungi nomor awan,  tapi tetap tidak bisa. Bulan khawatir terjadi sesuatu pada awan. Hingga akhirnya handphone berdering,  bulan langsung mengakatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya. " awan,  kamu dimana?  Kamu baik-baik aja kan?


" awan?  Tanya orang disebrang telfon


Bulan membengkap mulutnya dan langsung mematikan sambungan telephonenya ketika mendengar suara orang yang pernah memberi kebagian dalam hidupnya. Dan orang itu pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata perpisahan.  Selama dua tahun bulan terus menunggu berharap dia akan datang dihadapannya.  Tapi nyatanya semua hanya sebuah harapan yang tidak tahu kapan akan terjadi. Setelah kepergiannya dulu,  bulan sempat merasa terpuruk,  hingga sosok biru yang selalu memberikan semangat kepadanya. Dan kini setelah dia mulai mencintai sosok lain . Kenapa dia baru datang untuk memberi kabar. Kemana selama ini dia yang menghilang begitu saja tanpa memikirkan perasaannya yang baru saja merasakan kebahagian bersama dengannya. Bulan takut cintanya pada awan akan luntur jika ia bertemu dengan sosok dia yang masih ada rasa yang tertinggal dihatinya. Bukannya bulan tidak mencintai awan dengan tulus, tapi sosok dia yang lebih dulu mengisi hatinya dan memberi warna lain dalam hidupnya. Lamunan bulan seketika terhenti ketika melihat nama awan dilayar handphonenya. Buru-buru ia menghapus air matanya dan menetralkan suaranya agar terdengar normal

__ADS_1


                                     ***


__ADS_2