Luka Biru

Luka Biru
44. Teman alisha


__ADS_3

Disalah satu rumah sakit dijakarta,   seorang laki-laki baru saja memasuki ruangan wanita terbaring tak berdaya dengan berbagai selang yang menempel disekujur tubuhnya.


Penyesalan yang dia rasakan saat ini, seakan membuat ingin memutar waktu kembali untuk mengulang semua yang tidak bisa ia lakukan pada sosok wanita yang sangat dicintainya ini.


Karena keegoisannya,  semua ini terjadi,  dia kehilangan satu orang yang dicintainya selama ini,  yang selalu berkorban dan berjuang demi dirinya.


Tapi semuanya sudah terlambat,  hanya penyesalam yang tersisa. Dan hanya doa yang bisa dia ucapkan agar Tuhan memberi kejaiban bagi kehidupannya.


                                       ***


Rumah kecil sederhana yang hanga terbuat dari papan yang sudah mulai rapuh dimakan waktu Yang terletak dipinggir sungai dengan aliran yang deras karena sedang musim hujan.


"assalamualaikum, ibu....


" waalaikumussalam,  sasa . Udah pulang?" tanya wanita yang sudah sedikit tua,  kerutan yang mulai terlukis diwajah lelahnya, menyambut kepulangan anaknya dengan segelas air putih ditangan kanannya yang diberikan pada putrinya.


Biru terenyuh melihat pemandangan didepannya,  masih banyak orang yang tidak punya banyak uang, tapi mereka bahagia dengan kehidupannya bersama keluarga.


" ini siapa sa?  " tanya sang ibu yang baru melihat keberadaan biru dan alisha.


" ini teman sasa dan ini ibunya." jawab sasa menunjuk mereka satu persatu.


" saya biru bu,  ini anak saya alisha. Teman sekelasnya sasa. " sapa biru mengulurkan tangannya.


" saya ibu ratna. Mari silahkan masuk. " pinta bu ratna mempersilahkan biru dan alisha masuk kerumahnya.


" maaf ya dek biru,  rumahnya keadaannya seperti ini. silahkan duduk " timpal bu ratna tersenyum lembut.


" nggak papa kok bu." ucap biru tersenyum


" ini silahkan diminum,  adanya teh hangat saja. "  ucap bu ratna memberikan dua gelas air teh hangat pada biru dan alisha.


" makasih bu. "


"alisha,   main sama sasa yuk. " ajak sasa menggandeng alisha menuju kamarnya.


Alisha mengikuti sasa dengan senyum gembira.


" maaf ya bu,  ibu kerjanya apa? " tanya biru membuka obrolan.


" ibu mah,  setiap hari nyari barang-barang bekas,  yang kemudian dijual lagi.  Lumayan lah,  dari pada ngemis dek. " tutut bu ratna tersenyum


Satu pelajaran yang bisa biru dapatkan,  nyatanya harta tak menjamin kebahagiaan. Yang penting hidup sederhana bersama orang terkasih.


" ayahnya sasa kemana bu? "


" kerja diluar kota dek biru,  udah lama nggak bisa pulang. Yah,  dek biru tau sendiri gimana susahnya nyari rezeki dikota orang,  apalagi bapak cuma lulusan sd. " tutur bu ratna berkaca-kaca mengingat suaminya yang sudah lama tak pulang kerumah karena masalah biaya.


" maaf ya bu,  jika pertanyaan saya membuat ibu sedih. " ucap biru menggenggam tangan bu ratna.

__ADS_1


" nggak dek biru,  ibu sudah ikhlas dengan jalan kehidupan ibu saat ini,  yang pasti ibu selalu berdoa supaya bapak disana baik-baik saja dan bisa pulang. " bu ratna tak bisa menahan air matanya lagi.


Biru paham betul dengan apa yang dirasakan bu ratna saat ini,  hidup jauh tanpa adanya suami dikota besar ini.


" yang sabar ya bu,  insaallah bapak akan segera diberi rezeki oleh Tuhan supaya bisa cepat pulang. "


"aamiin. Makasih ya dek biru.  Suami dek biru sangat beruntung mempunyai istri baik seperti kamu. "


" saya seorang janda bu,  sejak 6 tahun yang lalu. Ayahnya alisha tidak tahu keberadaannya sekarang dimana. Hufftt,,,  padahal saya juga pengen alisha bisa ketemu sama ayah kandungnya.  Tapi,  sepertinya Tuhan punya rencana lain untuk alisha nantinya. " tutur biru tersenyum lembut.


Meski memang pada awalnya terasa berat menjalani kehidupan tanpa suami apalagi saat itu biru sedang hamil. Tapi kini semuanya sudah berjalan dengan sangat baik saat ini,  setelah dulunya biru harus melewati rasa sakit dan lelah dan sekarang tawa bahagia yang biru dapatkan bersama alisha.


" ibu salut sama kamu ."


Teng.. Teng... Teng..  Bakso..  Bakso.. Bakso


Teriakan sang penjual bakso terdengar nyaring dipenjuru pemukiman.


" bunda,  alisha mau bakso. " pinta alisha yang berdiri didepan pintu kamar sasa yang tak jauh dari tempat duduk biru.


" biar ibu yang beliin. " ucap bu ratna bangun dari tempat duduknya.


" bu ratna,  biar saya saja yang beli. Ibu tunggu disini saja , saya tidak mau merepotkan ibu. " cegah biru dengan ucapan selembut mungkin agar tidak menyakiti perasaan bu ratna.


" ya sudah kalo begitu. "


Biru sedikit berlari mengejar tukang bakso yang sudah sedikit jauh dari rumah bu ratna.


" siang mba, mau pesen berapa bungkus?  " tanya abang tukang bakso ramah pada biru.


" 6 bungkus ya bang. Saos, kecap ,sambel sama kuahnya tolong dipisah. " pinta biru pada penjual


" siap mba.


30 menit kemudian...


"maksih ya bang,  ini uangnya. " ucap biru sambil menyerahkan uang 100 ribu.


" sama-sama mba,  kembaliannya 34 ribu ya mba. " sang abang tukang bakso menyerahkan kembaliannya pada biru.


" kembaliannya buat abang saja. " ucap biru menolak,  kemudian permisi untuk kembali kerumah bu ratna.


"mkasih ya mba." ucap abang tukang bakso kegirangan


Sedangkan biru hanya tersenyum sebagai ucapan "iya" atas ucapan terimaksih si abang tukang bakso.


" allhamdulilah,  rezeki anak sholeh. " ucap si abang sambil mendorong gerobaknya kembali melanjutkan perjalanan.


Sesampainya dirumah bu ratna,  biru diperlihatkan tawa bahagia dari bibir mungil alisha bersama sasa dan bu ratna.

__ADS_1


" assalamualaikum. "


salam biru membuat semua menoleh kerahnya, terutama alisha yang langsung berlari kearah biru.


" bunda, sudah beli bakso buat alisha, sasa sama ibu ?


" sudah dong nak,  ini tolong berikan ke ibu. " ucap biru menyerahkan satu kantong kecil yang berisi kerupuk pada alisha.


Alisha kecil berlari menyerahkan kantong kerupuk pada ibu ratna yang tengah tersenyum gemas pada alisha.


Setelah menerima bungkusan kerupuk dari alisha,  bu ratna pergi kedapur untuk mengambil mangkuk.


" loh bu,  kok mangkuknya dua aja? Ini saya tadi juga beli buat ibu sama sasa. " ucap biru meletakkan kantongnya.


" nggak usah dek biru,  buat kalian saja. " tolak bu ratna


"bu,  mubazir nanti kali nggak dimakan."


Bu ratna pun kembali kedapur untuk mengambil mangkuk dan sendok.


" ini buat bu ratna. " ucap biru menyerahkan semangku bakso yang masih hangat kepada bu ratna yang baru sampai dari dapur.


" ini buat sasa dan ini buat alisha. "


Biru kembali menyerahkan satu mangkuk bakso pada alisha dan juga sasa.


" ayo kita makan,  jangan lupa baca doa." nasehat biru pada alisha dan sasa.


Setelah menghabiskan semua bakso beserta kuahnya,  mereka melanjutkan obrolan sebentar ,biasalah yah emak-emak kalo udah ketemu,  waduh sampai lupa semuanya.


" sudah sore bu,  saya pamit dulu sama alisha.  Terima kasih atas nasehat yang ibu berikan pada saya. " ucap biru mengakhiri obrolan mereka


" iya dek biru,  sama-sama.  Terimkasih juga sudah mau main kerumah saya yang jelek ini. "


" nggak kok bu.  Oh iya ini ada sedikit bingkisan buat ibu sama sasa. Dan ini ibu simpan buat ongkos bapak kalo mau pulang." ujar biru memberikan amplop pada bu ratna.


"ya allah,  makasih ya dek biru."


" sama-sama bu. Ibu sama sasa bisa datang ketoko kecil saya kalo ada waktu,  ini alamatnya. " biru memberikan kartu nama pada bu ratna.


" insaallah."


" alisha,  kita pulang yuk, udah sore nak. " ajak biru pada alisha yang masih asyik bermain dengan sasa.


" iya bunda. Sasa,  aku pulang dulu ya.  Besok kita main lagi disekolah. " ucap alisha pada sasa.


" iya. "


Biru dan alisha pun berpamitan kembali pada bu ratna dan sasa. Setelah sebelumnya biru memberikan sepasang sepatu pada sasa yang tampak menyukainya.

__ADS_1


Hari ini biru mendapatkan banyak pelajaran dari bu ratna, meski hidup tanpa bergelimang harta tapi kasih sayang bisa mengalahkan segalanya untuk bahagia.


                                      ***


__ADS_2