Luka Biru

Luka Biru
48. Tak sanggup berkata


__ADS_3

Netra coklat yang sudah 6 tahun ini menghilang begitu saja dari hidupnya,  tak pernah sekalipun menanyakan atau peduli tentang anak kandungnya sendiri. Sosok laki-laki yang dulunya banyak menorehkan dan meninggalakan luka dalam hatinya, dan setelah sekian lama dia tiba-tiba saja hadir kembali dihadapannya.


Bohong jika biru tidak mempunyai rasa benci barang sedikit saja pada laki-laki itu,  salah besar jika biru bilang dia tidak marah pada laki-laki itu. Bukan berarti biru masih menyimpan rasa cinta pada laki-laki itu,  tapi biru hanya kecewa akan ketidak peduliannya pada anak kandungnya sendiri.


" bunda... "


Panggilan alisha membuat biru tersadar dari lamunannya dan mencoba mengontrol emosinya demi buah hatinya. Laki-laki yang sedang bersama alusha itu adalah awan,  awan ramadhan sosok yang begitu banyak menorehkan luka pada hatinya. Sosok yang selama 6 tahun ini tak pernah muncul untuk sekedar menanyakan anak kandungnya sendiri. Bohong jika biru bilang dia tidak kecewa dengan awan,  salah besar jika biru tidak marah padanya. Kecewa dan marah pada awan campur aduk dihatinya saat ini.


Awan mengarahkan pandangannya pada sosok wanita yang dipanggil bunda oleh teman barunya.


Deru nafas awan tak lagi beraturan ketika melihat sosok wanita yang selalu dia sakiti dimasa lalu. Tatapan lembut itu seakan terganti dengan sorot kekecewaan yang mendalam baginya.


Biru berjalan menghampiri alisha yang sibuk melambaikan tangan mungilnya,  menyuruh biru untuk mendekat pada mereka.


" bunda kenalin,  ini om awan,  temen barunya alisha. " ucapnya mengenalkan awan pada biru


"Bunda? Berarti alisha adalah anaknya yang selama ini dia terlantarkan?" bathin awan dalanm hati.


Awan kembali merasa hatinya terasa sesak dan penuh. Penyesalan, kerinduan dan ketakutan bergumul menjadi satu kesatuan direlung hatinya. Menyesal akan semua langkah bodoh yang telah diambil hingga saat ini. Rindu,  tidak bisa dipungkiri jika dirinya sangat merindukan biru dan juga anak mereka.  Takut,  rasa takutnya lebih besar dari rasa rindunya,  dia takut mereka,  terutama alisha akan marah kepadanya dan lebih parahnya jika tidak mau menerimanya.


" om ini bundanya alisha yang jago masak cake chocalate yang enak. " celoteh alisha pada awan dengan senyum lebar kemudian memasukkan potongan terakhir cake chocolatenya yang tersisa dipiring.


" emmm,,  perfecto. " tambah alisha mengakat jempol mungilnya yang ditunjukan pada biru disela kunyahannya.


Awan hanya mampu memberikan senyym tulusnya pada alisha yang terus saja berceloteh memuji biru.  Jika saja awan mempunyai jin yang bisa mengabulkan satu permintaannya,  maka awan akan meminta waktu bisa diulang kembali 6 tahun yang lalu,  dimana dia tetap bersama dan menamani biru dalam suka maupun duka,  menemani,  menjaga biru disaat mengandung,  memberi kekuatan dan semngat saat biru melahirkan dan menjaga dan alisha bersama-sama hingga dewasa.

__ADS_1


Deheman biru,  membuat alisha yang sedari tadi berceloteh sontak diam dan memandang biru sambil menautkan kedua alisnya.


" bunda sakit tenggorokan" tanyanya polos


" ha,  ng.. ngak nak,  bunda gak sakit,  cakenya alisha sudah habis jadi sekarang alisha harus gosok gigi habis itu belajar bareng bunda. " ujar biru berusaha tersenyum lebar pada alisha.


" oh iya,  alisha lupa. " jawabnya sambil menepuk keningnya lucu.


" om, alisha mau gosok gigi dulu ya terus mau belajar,  besok om kesini lagi aja biar alisha temenin. " ucapnya sambil cekikikan  turun dari kursi dan menyalami tangan awan tiba-tiba.


Biru dibuat terkejut dengan sikap alisha yang menyalami orang yang baru dikenalnya,  tidak seperti biasa.


" alisha pamit ya om,  assalamualaikum. " salamnya kemudian berjalan menggandeng biru pergi kebelakang.


***


" emm,  ono opo? " tanya santi dengan logat jawanya.


" mas ganteng yang tadi sama alisha sempurna banget dah,  paket komplit buat dijadiim suami. " ucapnya menompang dagu dengan kedua tangannya diatas meja sambil membayangkan dirinya bersanding dipelaminan bersamanya.


" mas awan maksute? " tanya santi sambil memeriksa sesuatu dikomputernya.


" kok kamu tau namanya?" tanya balik maya menyeledik,  jangan-jangan santi diam-diam sudah berkenalan dan meminta nomor telphonnya.


" walah may may,  orang punya telinga kok yo gak digunain to. Orang alisha tadi nyebut namanya kok dikenalin ke bu biru , masa kamu gak denger. " ocehnya sedikit sewot.

__ADS_1


" ye,  aku tadi pas lagi kebelakang kali,  jadi gak kedengeran. " elak maya tak terima dengan ocehan santi.


" orang aku lihat kamu tadi lagi berdiri disitu meluk nampan sambil cengengesan ngelihatin mas awan. " ujar santi menunjuk meja tempat maya bersandar melihat awan dengan seperti orang gila.


" ya wajarlah san,  secara mas awan itu handsome,  baik,  tajir pulak.  Siapa yang kagak klepek-klepek kalo ngelihat dia.SEMPURNA LUAR BIASA. " kata maya penuh penekanan dikalimat akhirnya.


Maya terus saja memuji tentang awan,  sambil berkaca melihat wajahnya. Santi yang melihat teman sekampungnya yang agak centil itu hanya bisa beristighfar dalam hati.


" may,  manusia itu gak ada yang sempurna, jangan ngelihat orang dari covernya doang,  yang ganteng, kaya,  mapan itu belum tentu baik dan bisa buat kita bahagia. " ujar santi lalu meneguk botol minumnya.


" aduh,  payah deh,  kalo ngomong sama BUCIN kek kamu,  setia banget sama bang daren dikampung. Padahal mah dikota ini ni yah,  cowoknya pada bening-bening banget dah. Aku aja sampek bingung mau pilih yang mana. " celoteh maya yang terlalu percaya diri.


" emang mereka, pada mau sama kamu. Sok-sok an banget bingung milih segala. Dasar kamu kepedean. "


" banyak lah,  pada ngantri noh disana. Nunggu jawaban aku ." ujar maya mengikat rambutnya kuat karena kesal.


" iya deh, aku percaya. " kata santi menyudahi perdebatan mereka. " oh ya,  nanti pulang kerja kita nonton yuk, ada film bagus loh." tawar santi berharap maya tidak kesal lagi.


Maya langsung melebarkan senyumnya mendengar ajakan santi yang jarang sekali didengarnya. Secepat kilat dia menyetujui ajakan santi dengan satu anggukan kepala dan kemudian berlari mengambil menu menuju pelanggan yang baru saja masuk untuk menawarkan menu mereka.


" hadeh,  dasar itu anak,  suka ngambek." ucap santi sepeninggalan maya dihadapannya.


Meski mereka bukan terlahir dari keluarga yang sama,  tapi mereka sudah seperti saudara,  kemana-mana selalu berdua dari waktu kecil sampai sekarang.


Mereka sama-sama bersyukur Tuhan telah menjadikan mereka untuk tetap bersama,  saling menguatkan dan mengingatkan satu sama lain. Walaupun kadang pertengkaran melingkupi persahabatan mereka. Karena itu adalah hal wajar bukan.

__ADS_1


                                          ***


__ADS_2