
Setelah pekerjaan selesai Rey pulang ke apartemennya sedangkan David duduk di kursi yang tidak jauh dari ranjang sambil menggenggam tangan Karen karena lelah David tidur dengan posisi ke dua tangannya menggenggam tangan Karen untuk dijadikan bantalan posisi yang kurang enak buat David tapi demi orang yang dicintainya David rela melakukan itu semua.
Karen terbangun dan tangannya merasa berat ketika melihatnya ternyata David sedang tertidur dengan pulas membuat Karen tersenyum dan tangan yang ada infusnya perlahan maju dan memegang pipi, mata dan bibir David.
" Sudah puas memandangi dan memegang wajah yang tampan ini? tanya David yang masih memejamkan matanya
" Hehehe.."
Karen tertawa pelan dan menarik tangannya tapi di tahan oleh David kemudian dikecupnya membuat Karen meringis karena jarum infusnya tertekan oleh tangan David membuat David membuka matanya.
" Ada apa sayang?" tanya David dengan nada kuatir
" Tangan honey menekan jarum infus ku," ucap Karen
" Maaf sayang aku tidak sengaja," ucap David sambil perlahan melepaskan tangannya.
" Tidak apa - apa honey," jawab Karen sambil tersenyum.
" Tapi tanganmu jadi berdarah dan masuk ke dalam selang," ucap David sambil berdiri dan menekan tombol yang menempel di dinding dekat ranjang Karen.
" Tidak sakit lagi kok," jawab Karen
" Tapi aku tidak ingin melukaimu lagi, cukup sekali aku melakukan itu," ucap David
Karen hanya menghembuskan nafasnya dengan perlahan dan tidak berapa lama pintu ruang perawatan terbuka tampak dokter dan perawat berjalan ke arah Karen dan David.
" Ada yang bisa kami bantu tuan dan nona?" tanya dokter tersebut dengan ramah
" Selang infus calon istriku ada darahnya," ucap David
" Baik tuan," jawab dokter tersebut sambil memperbaiki selang infus tersebut.
" Sudah selesai, maaf nona jangan sering digerakkan karena bisa mengeluarkan darah lagi," ucap dokter tersebut dengan nada lembut.
" Baik dok, terima kasih," jawab Karen
__ADS_1
" Sama - sama nona," jawab dokter tersebut
" Apakah ada yang lainnya?" tanya dokter tersebut
" Tidak ada dok," jawab Karen
" Kalau begitu kami permisi dulu," pamit dokter tersebut
" Silahkan dok," jawab Karen
Dokter dan perawat tersebut pergi meninggalkan mereka berdua kemudian David kembali duduk di kursi sambil menggenggam tangan Karen yang tidak ada infusnya.
" Maaf ya, kamu jadi terluka," ucap David yang masih merasa bersalah.
" Tidak apa - apa santai saja," jawab Karen.
" Kalau boleh jujur apakah kamu menyesal mengenal pria psychophat seperti diriku?" tanya David
" Honey, pandang ke dua mataku aku tidak pernah menyesal mengenalmu karena aku sangat tulus mencintaimu," ucap Karen
Cup
" Terima kasih sayang, kamu mau menerimaku apa adanya," ucap David sambil tersenyum bahagia.
" Sama - sama sayang," jawab Karen ikut membalas senyuman David.
Hening
Hening
Hening
" Honey, apakah badannya tidak pegal tidur di kursi?" tanya Karen memecahkan keheningan.
" Pegel sih sayang tapi jika tidur di ranjang satunya kakak tidak bisa menjagamu," jawab David
__ADS_1
" Kulihat honey masih lelah tidurlah disebelah ku," ucap Karen sambil menggeserkan tubuhnya.
" Apakah tidak merasa sempit?" tanya David
" Tidak kalau kita tidurnya posisinya miring," jawab Karen sambil memiringkan tubuhnya.
" Ok, tapi sambil kupeluk ya, kakak masih kangen," ucap David.
"Ok." jawab Karen singkat sambil tersenyum.
David turun dari kursi kemudian naik ke atas ranjang kemudian memeluk tubuh mungil Karen dan tidak membutuhkan waktu lama David langsung tertidur dengan pulasnya membuat Karen membalas pelukannya dan ikut menyusul David ke dalam dunia mimpi yang sangat indah.
Sore hari David terbangun dan melihat di sofa sudah ada paperbag membuat David melepaskan pelukannya kemudian turun dari ranjang.
David berjalan ke arah sofa kemudian mengambil paperbag dan berjalan ke arah kamar mandi, lima belas menit kemudian David sudah selesai mandi dalam keadaan segar dan fresh bersamaan pintu terbuka dan masuklah perawat dengan membawa baskom dan handuk untuk mengelap tubuh Karen.
" Suster biar aku saja yang mengelapnya, suster melanjutkan pekerjaan lainnya," ucap David yang tidak rela tubuh Karen di lihat oleh orang lain kecuali dirinya.
" Baik tuan," jawab perawat tersebut sambil meletakkan baskom tersebut di atas meja dekat ranjang Karen.
Ketika meletakkan baskom tersebut di atas meja membuat Karen membuka matanya dan melihat perawat tersebut berjalan ke arah pintu keluar dan menutup pintu sedangkan David berjalan menuju ke arah pintu dan menguncinya.
" Honey, kenapa bukan perawat saja yang mengelap tubuhku?' tanya Karen.
" Kakak saja sayang, apalagi bukan kah kakak sudah pernah lihat semuanya? Jadi kenapa mesti malu? Tenang saja kakak akan menahan diri untuk tidak menerkam dirimu," ucap David yang mengerti apa yang ada di pikiran Karen.
" Janji ya," pinta Karen
" Iya sayang," jawab David
David membuka pakaian pasien yang dipakai oleh Karen dan memulai mengelap bagian demi bagian sambil menahan gairahnya karena bagai manapun dirinya adalah pria normal membuatĀ tombak saktinya yang lagi tidur pulas perlahan mulai terbangun dan makin lama berdiri dengan tegak.
Tapi David berusaha mati - matian untuk menahan diri dengan memalingkan wajahnya untuk tidak menatapnya sungguh sangat tersiksa buat David dan akhirnya dengan penuh perjuangan selesailah membasuh tubuh Karen dan memakai pakaian pasien yang baru.
" Honey, kapan pergi?" tanya Karen berusaha mengalihkan perhatian David yang menginginkan hubungan suami istri.
__ADS_1