Mafia Psikopat Jatuh Cinta

Mafia Psikopat Jatuh Cinta
Fang Yin dan Bagas


__ADS_3

"Baik mom, Bagas akan berusaha untuk melupakan Karen," jawab Bagas.


"Bagus, sekarang kamu istirahat nanti pelayan akan datang membersihkan kamarmu," ucap Ibu nya Bagas.


Bagas hanya menganggukkan kepalanya kemudian Ibu nya Bagas dan Ayah nya Bagas pergi meninggalkan kamar putranya sedangkan Bagas yang masih duduk bersandar di kepala ranjang kini berbaring sambil menatap ke langit - langit kamarnya sambil memikirkan Karen, gadis yang sangat dicintainya.


"Aku sangat mencintaimu kenapa kamu sama seperti wanita di luaran sana?" tanya Bagas dengan wajah sendu.


Tidak berapa lama dua pelayan datang mengetuk pintu setelah mendapatkan jawaban dari Bagas mereka baru masuk ke dalam kamar Bagas untuk membersihkan kekacauan yang di buat oleh Bagas.


Hampir setengah jam mereka membersihkan setelah selesai ke dua pelayan tersebut keluar dari kamar Bagas sedangkan Bagas memejamkan matanya untuk tidur karena dengan tidur bisa melupakan kesedihan.


Tiga Hari Kemudian


Tidak terasa waktu berjalan dengan cepatnya tiba - tiba datang dua orang berpakaian dokter ke mansion milik orang tua Bagas, kepala pelayan berjalan ke arah ruang keluarga untuk menemui ke dua orang tua Bagas.


" Selamat siang tuan besar dan nyonya besar," sapa kepala pelayan.


"Siang, ada apa?" tanya Ibu nya Bagas.


"Maaf, ada sepasang dokter datang dan ingin bertemu dengan tuan besar dan nyonya besar," jawab kepala pelayan.


"Daddy manggil dua orang dokter?" tanya Ibu nya Bagas.


"Tidak mom, suruh masuk saja," ucap Ayah nya Bagas.


"Baik tuan besar," jawab kepala pelayan.


Kepala pelayan menundukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut sedangkan Ibu nya Bagas menatap ke arah suaminya.


"Daddy dan mommy tidak manggil dokter lalu siapa yang manggil?" tanya Ibu nya Bagas.


"Tidak tahu mom," jawab Ayah nya Bagas.


"Kalau mereka perampok bagaimana dad?" tanya Ibu nya Bagas dengan nada takut.


"Tidak mungkin perampok karena siang - siang begini siapa yang berani," ucap Ayah nya Bagas.


"Betul juga sih apalagi di mansion kita banyak bodyguard," ucap Ibu nya Bagas.


Ayah nya Bagas hanya menundukkan kepalanya kemudian mereka saling diam sambil menunggu dua dokter tersebut dan tidak berapa lama ke dua dokter tersebut datang menemui mereka.

__ADS_1


"Selamat siang tuan besar dan nyonya besar, maaf kalau kedatangan kami membuat tuan besar dan nyonya besar merasa terganggu," ucap dokter tampan tersebut.


"Tidak santai saja, silahkan duduk," jawab Ayah nya Bagas.


"Terima kasih tuan besar," jawab dokter tersebut, ke dua dokter tersebut duduk saling berhadapan hanya di batasi oleh meja.


"Kalau boleh tahu ada apa ya? Masalahnya kami tidak merasa memanggil dokter," ucap Ibu nya Bagas.


"Memang benar apa yang dikatakan nyonya, kami datang atas permintaan sahabat kami untuk melihat kondisi tuan muda Bagas tapi sebelumnya kenalkan saya dokter Feng Yin sahabat Karen dan ini adik kandungku namanya dokter Fang Yin," ucap dokter Feng Yin.


"Karen?" tanya Ibu nya Bagas dengan nada terkejut.


"Benar Karen, anak angkat tuan besar dan nyonya besar," jawab dokter Feng Yin.


"Sebenarnya Karen meminta sahabatnya satunya lagi untuk datang ke negara Indonesia tapi tidak bisa karena itulah Karen memintaku untuk menggantikannya," sambung dokter Feng Yin menjelaskan.


Ke dua orang tua angkat Karen merasa sedikit bersalah dengan Karen karena ternyata Karen masih perduli dengan kakak angkatnya.


"Hanya memeriksa saja?" tanya Ibu nya Bagas.


"Saat ini memeriksa dulu untuk jadwal operasi tergantung tuan muda Bagas kapan bisa mulainya," ucap dokter Feng Yin.


"Kalau boleh tahu, operasi yang mana? Apakah wajah putraku atau kelumpuhan putraku?" tanya Ibu nya Bagas.


"Sebelum memeriksa bolehkah kami minta satu hal?" tanya Ibu nya Bagas penuh harap.


"Boleh, apa itu nyonya besar?" tanya dokter Feng Yin.


"Wajah putra kami sangat rusak akibat kecelakaan jadi kami minta ketika melihatnya jangan berteriak atau memalingkan wajahnya," jawab Ibu nya Bagas.


"Nyonya besar jangan kuatir kami sudah terbiasa melihatnya," jawab dokter Feng Yin.


"Baiklah kalau begitu silahkan ikuti aku," ucap Ibu nya Bagas.


"Baik nyonya besar," jawab dokter Feng Yin.


Ibu nya Bagas, dokter Feng Yin dan dokter Fang Yin berjalan ke arah kamar Bagas hingga mereka mendengar suara teriakan frustrasi bersamaan barang - barang yang di banting.


"Maaf putraku sangat frustrasi karena wajah rusak dan ke dua kakinya lumpuh," ucap Ibu nya Bagas dengan wajah sendu memikirkan putra semata wayangnya.


"Kami mengerti nyonya, kalau begitu biarkan adikku dokter Fang Yin yang akan masuk ke dalam kamar dan kita menunggu di luar," ucap dokter Feng Yin.

__ADS_1


"Tapi putraku tidak suka jika ada orang asing masuk ke dalam kamarnya," ucap Ibu nya Bagas.


"Nyonya percayalah dengan adikku," ucap dokter Feng Yin.


"Baiklah," jawab Ibu nya Bagas pasrah.


"Jika putraku marah dan tidak kuat mendengarnya keluar saja biar aku yang akan menemui putraku untuk menenangkannya," ucap Ibu nya Bagas.


"Baik nyonya," jawab dokter Fang Yin patuh.


Dokter Fang Yin berjalan ke arah pintu kamar Bagas kemudian mengetuknya setelah ada jawaban dokter Fang Yin membuka pintu dan melihat seorang pemuda dengan wajah rusak sedang berusaha turun dari kursi roda.


Hal itu membuat dokter Fang Yin membulatkan matanya dengan sempurna pasalnya di depannya banyak pecahan keramik berhamburan di lantai membuat dokter Fang Yin berlari ke arah Bagas.


"Tuan muda jangan," pinta dokter Fang Yin.


"Kamu siapa? Pergi!!! Biarkan aku mati," teriak Bagas.


Grep


"Jika tuan muda meninggal lalu bagaimana dengan ke dua orang tua tuan muda? Apakah tuan muda tidak sedih melihat mereka menangisi putra kesayangannya?" tanya dokter Fang Yin sambil memeluk Bagas agar tidak turun dari kursi roda.


"Apakah kamu tidak lihat wajahku cacat dan aku lumpuh jadi untuk apa aku hidup?" tanya Bagas dengan nada frustrasi tanpa membalas pelukan dokter Fang Yin.


"Aku dan kakakku datang untuk menyembuhkan tuan muda jadi aku minta tuan muda jangan menyakiti tubuh tuan muda," jawab dokter Fang Yin sambil melepaskan pelukannya dan menatap Bagas tanpa ada rasa jijik sedikitpun.


"Kamu jangan bercanda? Mana bisa orang menyembuhkan wajah cacat dan ke dua kakiku yang lumpuh?" tanya Bagas sambil tersenyum pahit.


"Aku serius," jawab dokter Fang Yin.


"Apa jaminan kalau aku bisa sembuh?" tanya Bagas.


Dokter Fang Yin terdiam namun sorot matanya menatap Bagas untuk menganalisa kulit Bagas membuat Bagas memalingkan wajahnya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu tidak takut dan jijik melihat wajahku?" tanya Bagas.


"Tidak," jawab dokter Fang Yin singkat.


"Pertanyaan ku tidak di jawab?" tanya Bagas.


"Pertanyaan yang mana?" tanya dokter Fang Yin pura - pura lupa.

__ADS_1


"Apa jaminan kalau aku bisa sembuh?" tanya Bagas mengulangi perkataannya.


__ADS_2