
Tidak terasa hari berlalu dengan cepatnya dan kini Dennis mengajak Dennisa ke kantor untuk membantu pekerjaan Dennis.
Selama ini Dennisa selalu membantu pekerjaan Dennis jika Dennis mengalami kesibukan yang luar biasa dan Dennis sangat puas dengan pekerjaan Dennisa yang terbilang sangat memuaskan dan mempercepat pekerjaannya.
Banyak karyawan terlebih karyawati di perusahaan Dennis sangat iri dengan Dennisa karena sikap Dennis sangat berbeda selalu tersenyum dan tidak pernah bersikap arogant.
****
Tok tok tok
"Masuk," jawab Dennisa
ceklek
Dennis mengetuk pintu sebanyak tiga kali setelah mendapatkan jawaban Dennis membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamar Dennisa dengan diikuti ke dua baby sister.
"Sudah siap semuanya?" tanya Dennis ketika Dennis masuk ke dalam kamar Dennisa.
"Sudah," jawab Dennisa sambil tersenyum.
Deg
Jantung Dennis berdetak kencang ketika memperhatikan Daka wajahnya mirip dengan wajah sahabatnya yang dulu sempat dibencinya.
("Kenapa aku baru sadar kalau Daka sangat mirip dengan David, apa jangan-jangan Dennisa istri David?" tanya Dennis dalam hati).
__ADS_1
("Karena kata anak buah ku kalau istrinya David di culik dan tenggelam di sungai dan aku menemukan Dennisa hanyut di sungai. Jika itu benar pasti David akan membawa Dennisa dan ke dua anaknya lalu bagaimana denganku? Aku akan kesepian dan tidak ada gelak tawa Dennisa dan tangisan ke dua bayinya," sambung Dennis dalam hati).
("Tidak, walau bagaimanapun mereka tidak boleh dipertemukan kembali karena aku tidak ingin hari - hariku yang biasanya hitam putih tapi sejak kedatangan Dennisa dan kelahiran dua anak kembarnya hari-hari ku lebih berwarna,'' ucap Dennis dalam hati yang tidak ingin mansion miliknya sepi).
''Dennis .. Dennis ... " panggil Dennisa sambil menyentuh tangan Dennis.
"Oh maaf, aku yang gendong Dennisa kecil," ucap Dennis mengalihkan pembicaraan sambil menggendong Dennisa kecil.
"Ok, kalau begitu aku yang menggendong Daka," jawab Dennisa sambil menggendong Daka.
"Kalian berdua bawa perlengkapan ke dua keponakanku," perintah Dennis.
"Baik tuan," jawab ke dua baby sister dengan patuh.
Singkat cerita kini mereka sudah sampai di lobby perusahaan milik Dennis. Banyak karyawan dan karyawati melihat bagaimana sikap Dennis berubah seratus delapan puluh derajat ketika bersama Dennisa yang selalu tersenyum manis dan tidak arogant membuat para karyawati iri dengan keberuntungan Dennisa.
Mereka berjalan ke arah pintu lift khusus CEO kemudian salah satu bodyguardnya menekan tombol lift dan tidak berapa lama mereka masuk ke dalam kotak persegi empat tersebut.
Ting
Pintu lift terbuka mereka keluar dari pintu lift dan berjalan ke arah ruangan Dennis.
Ceklek
Salah satu bodyguard membuka pintu dengan lebar kemudian Dennis dan Dennisa bersama dua baby sister masuk ke dalam ruangannya sedangkan para bodyguardnya menunggu di depan pintu.
__ADS_1
"Kalian berdua jaga ke dua ponakan ku, kabarin aku jika ada masalah," ucap Dennis.
"Baik tuan," jawab ke dua baby sister tersebut serempak.
"Oh ya satu lagi jika salah satu dari ke dua keponakanku luka sedikit saja maka nyawa kalian menjadi taruhannya," ucap Dennis.
"Baik tuan," jawab dua baby sister tersebut serempak lagi.
"Aku titip ke dua anak kembarku," ucap Dennisa dengan nada lembut.
"Baik nyonya," jawab ke dua baby sister serempak.
"Ayo Dennisa kita ke ruang meeting karena sudah mulai," ajak Dennis.
"Ayo," jawab Dennisa.
("Kenapa jantungku berdetak kencang ya?" tanya Dennisa dalam hati).
Dennisa dan Dennis keluar dari ruangan tersebut menuju ke ruang meeting hingga di depan pintu dua orang bodyguard membuka pintu dengan lebar.
Dennis masuk ke dalam ruangan tersebut dengan diikuti oleh Dennisa membuat dua pasang mata menatapnya seakan tidak percaya.
"Kak Karen," panggil seorang pria.
"Sayang," panggil pria ke dua bersamaan sambil berdiri dan berjalan ke arah Dennisa.
__ADS_1