
Dennisa dan Dennis saling menatap hingga Dennisa melihat dengan jelas tatapan Dennis seakan meminta Dennisa untuk tidak mengatakan kalau mereka bukan suami istri.
"Laki - laki dan perempuan dok?" tanya Dennisa tidak percaya.
"Benar nyonya, sekali lagi selamat ya nyonya dan tuan mendapatkan sepasang anak kembar," ucap dokter tersebut yang tidak tahu kalau mereka bukan sepasang suami istri.
"Terima kasih dok," jawab Dennisa sambil tersenyum.
"Sama-sama Nyonya," jawab dokter tersebut.
Perawat yang berada di sebelahnya membersihkan sisa gel yang berada di perut Dennisa kemudian Dennisa bangun dengan di bantu oleh Dennis.
("***Alangkah senangnya aku jika wanita ini menjadi istriku," ucap Dennis dalam hati).
("Tapi sayang wanita ini hanya menganggap ku sebagai adik padahal usia kami hanya berbeda lima tahun," sambung Dennis dalam hati***).
Dennis membantu Dennisa berjalan ke arah kursi karena Dennis tidak tega melihat cara jalan Dennisa padahal bagi wanita yang sudah hamil atau yang sudah pernah hamil memang seperti itu jalan wanita hamil.
Dennis dan Dennisa duduk bersebelahan di kursi berhadapan dengan dokter tersebut yang hanya dibatasi oleh meja.
"Saya berikan vitamin dan penguat kandungan," ucap dokter cantik tersebut sambil menulis resep.
"Baik dok," jawab Dennisa.
__ADS_1
Dokter cantik tersebut hanya tersenyum kemudian memberikan resep tersebut ke arah Dennisa tapi di ambil langsung oleh Dennis.
"Terima kasih dok," ucap Dennisa sambil turun dari kursi dan berdiri begitu pula dengan Dennis.
"Sama - sama nyonya," jawab dokter cantik tersebut sambil ikut turun dari kursi dan berdiri.
Dennisa tersenyum kemudian membalikkan badan dengan diikuti oleh Dennis. Mereka berdua keluar dari ruangan tersebut dan berjalan ke arah ruangan apotik untuk memberikan resep obat.
"Aku ingin ke toilet dulu," ucap Dennisa.
"Ok," jawab Dennis.
Dennisa turun dari kursi kemudian berjalan ke arah toilet untuk buang air kecil. Setelah selesai buang air kecil Dennisa keluar dari kamar mandi.
Dennisa berjalan ke arah wastafel untuk cuci tangan namun suara seseorang yang sangat familiar di telinganya.
Dennisa membalikan badannya dan melihat seorang wanita dengan memakai masker dan menutupi rambutnya dengan menggunakan jaket penutup kepala.
"Gara - gara aku? Aku tidak menyuruh Dennis untuk memecat dokter jadi kenapa aku yang disalahkan?" tanya Dennisa dengan nada kesal karena dikatakan wanita mu ra han.
"Hebat ya memanggil tuan Dennis hanya sebutan Dennis," ucap wanita itu sambil berjalan ke arah Dennisa.
Dennisa bersiap - siap jika wanita itu menyerang dirinya hingga akhirnya mereka berkelahi dan ternyata wanita itu bisa bela diri. Tapi karena Dennisa sedang hamil membuat Dennisa terdesak hingga wanita itu memukul Dennisa hingga tubuhnya jatuh terjengkang dan kepalanya mengenai wastafel hingga darah segar keluar dari kepalanya.
__ADS_1
Tanpa punya rasa empati sedikitpun wanita itu ingin menendang perut Dennisa tapi Dennisa berusaha membalikkan badannya agar melindungi janinnya hingga wanita itu menendang punggung Dennisa.
Dennisa hanya bisa memejamkan matanya sambil berharap agar ke dua anaknya baik - baik saja hingga darah segar keluar dari sela ke dua pahanya.
Melihat Dennisa sudah tidak berdaya wanita itu tersenyum puas dan pergi meninggalkan Dennisa.
("Aku harus menghubungi Dennis," ucap Dennisa dalam hati sambil berusaha dirinya untuk sadar tanpa memperdulikan rasa sakit pada sekujur tubuhnya).
Dennisa dengan perlahan mengambil tasnya yang tergeletak di samping kemudian membuka tasnya dan mengambil ponselnya.
Dennisa langsung menekan tombol panggilan tanpa perlu mencari kontak telepon karena di tombol panggilan hanya ada nama Dennis. Sambungan pertama langsung di angkat oleh Dennis yang kebetulan sedang mengecek email yang masuk.
("Ada apa Dennisa?" tanya Dennis dengan bingung)
("Dennis tolong a ..." ucapan Dennisa terputus bersamaan Dennisa tidak sadarkan diri)
("Dennisa ada apa?" tanya Dennis dengan panik sambil berdiri dan menjentikkan jarinya agar anak buahnya mengikutinya).
Dennis berjalan ke arah toilet di mana Dennisa berada di toilet dengan diikuti oleh 8 anak buahnya.
Dennis menjentikkan jarinya agar anak buahnya menjaga di depan pintu toilet dan melarang pengunjung wanita untuk masuk ke dalam toilet.
Ceklek
__ADS_1
Dennis membuka pintu dan matanya membulat sempurna melihat Dennisa terbaring di lantai bersimbah darah.
"Dennisa!!!" teriak Dennis sambil berjalan ke arah Dennisa.