
"Bagaimana kalau jaminannya diriku?" tanya dokter Fang Yin.
"Maksudnya?" tanya Bagas.
"Jika operasinya gagal tuan muda boleh meminta apapun dariku tapi hanya satu permintaan saja," jawab dokter Fang Yin.
"Apapun?" tanya ulang Bagas untuk memastikan.
"Ya apapun," jawab dokter Fang Yin dengan nada yakin.
"Baiklah aku mau di operasi jika gagal dokter harus melakukan satu permintaanku," ucap Bagas.
"Ok, deal," ucap dokter Fang Yin sambil mengulurkan tangannya ke arah Bagas sambil masih tersenyum manis.
"Deal," jawab Bagas sambil membalas uluran tangan dokter Fang Yin.
"Sekarang kita keluar dari kamar ini agar kamar ini dibersihkan sama pelayan," ucap dokter Fang Yin sambil berjalan ke arah belakang Bagas
"Tapi wajahku? Orang - orang akan menghinaku dan apakah dokter tidak jijik dan takut melihatku?" tanya Bagas dengan wajah sendu sambil menundukkan wajahnya.
Dokter Fang Yin kembali berjalan ke arah Bagas kemudian berlutut berhadapan dengan Bagas sambil menggenggam ke dua tangan Bagas dan tersenyum manis.
"Tuan muda lihat wajahku, apakah aku merasa jijik atau merasa takut?" tanya dokter Fang Yin.
Bagas mengangkat kepalanya dan melihat senyuman manis dokter Fang Yin tanpa ada rasa takut dan jijik sedikitpun membuat perasaan Bagas nyaman bersamanya.
"Sekarang kita keluar yuk?" ajak dokter Fang Yin.
Bagas menganggukkan kepalanya tanda setuju kemudian dokter Fang Yin berdiri dan berjalan ke arah belakang Bagas, dokter Fang Yin mendorong kursi roda Bagas ke arah pintu keluar hingga mereka melihat dokter Feng Yin dan Ibu nya Bagas sedang menatap mereka berdua.
Ibu nya Bagas sangat senang sekali melihat Bagas untuk pertama kalinya keluar dari kamarnya sejak kejadian kecelakaan tersebut.
"Nyonya besar, tuan muda bersedia mau di operasi jadi kira - kira kapan melaksanakan operasinya?" tanya dokter Fang Yin.
"Lebih cepat lebih baik," jawab Ibu nya Bagas.
"Jadi bagaimana kak, kapan kita bisa memulainya?" tanya dokter Fang Yin.
"Bagaimana kalau lusa?" tanya dokter Feng Yin sambil mengacak rambut adik kesayangannya.
"Aish kakak berantakan tahu," ucap dokter Fang Yin dengan wajah di tekuk.
__ADS_1
"Hehehehe..."
"Tuan muda, apakah lusa bersedia di operasi?" tanya dokter Fang Yin sambil kembali berlutut berhadapan dengan Bagas.
"Terserah," jawab Bagas dengan nada dingin dan cemburu.
Entah kenapa hatinya sangat kesal ketika melihat dokter Feng Yin berbicara akrab dengan dokter Fang Yin terlebih ketika dokter Feng Yin mengacak rambut dokter Fang Yin membuat Bagas memalingkan wajahnya.
"Oh ya hampir lupa memperkenalkan diri, ini kakak kandungku namanya dokter Feng Yin dan aku dokter Fang Yin," ucap dokter Fang Yin.
"Kakak kandungmu?" tanya Bagas memastikan karena takut dirinya salah dengar.
"Iya kakak kandungku, apakah wajah kami tidak mirip?" tanya dokter Fang Yin.
Bagas mengangkat kepalanya dan melihat dokter Feng Yin dan dokter Fang Yin secara bergantian dan memang benar wajah mereka sangat mirip membuat hati Bagas bahagia.
Tanpa disadari oleh Bagas kalau Ibu nya Bagas bisa melihat kalau putra kesayangannya ada perasaan dengan dokter Fang Yin begitu pula dengan dokter Feng Yin bisa mengetahui kalau Bagas ada perasaan suka dengan adik kandungnya tapi dirinya diam.
"Ehem ... Kalau begitu lusa kita mulai operasi wajahnya dan mengenai kelumpuhannya bolehkah adikku mengecek ke dua kaki tuan muda?" tanya dokter Feng Yin.
"Panggil aku Bagas tanpa perlu menyebut tuan muda," ucap Bagas.
"Tapi ...." ucapan Feng Yin terpotong oleh Ibu nya Bagas.
"Baik nyonya besar," jawab dokter Feng Yin patuh.
"Panggil lah aku mommy seperti Bagas memanggilku," ucap Ibu nya Bagas yang berharap dokter Fang Yin bisa menjadi menantunya.
Dokter Feng Yin patuh dan dokter Fang Yin saling memandang seakan meminta persetujuan kemudian ke duanya menganggukkan kepalanya tanda setuju membuat Ibu nya Bagas dan Bagas bahagia.
"Oh ya dokter Fang Yin apakah sudah mempunyai kekasih atau sudah menikah?" tanya Ibu nya Bagas.
Deg Deg Deg
Jantung Bagas berdetak kencang bukan karena jatuh cinta melainkan dirinya sangat takut jika jawabannya melukai hatinya namun dirinya berusaha untuk tegar dan menerima kenyataan.
"Aku belum mempunyai kekasih apalagi menikah," jawab dokter Fang Yin sambil tersenyum malu.
"Syukurlah," jawab Ibu nya Bagas dan Bagas serempak tanpa sadar.
"Kok syukurlah?" tanya dokter Fang Yin dengan wajah bingung,
__ADS_1
"Maaf maksudnya syukurlah belum mempunyai kekasih apalagi menikah karena pengobatan putraku pasti lama dan takutnya cemburu jika dokter Fang Yin dekat dengan putraku," jawab Ibu nya Bagas menjelaskan.
Dokter Fang Yin hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan Bagas pun membalas senyuman dokter Fang Yin.
"Ehem ... Kalau begitu lusa kita mulai operasi wajahnya dan mengenai kelumpuhannya bolehkah adikku mengecek ke dua kaki tuan mu ... maaf maksudku Bagas?" tanya dokter Feng Yin mengulangi perkataannya.
"Boleh silahkan saja," jawab Ibu nya Bagas.
"Kalau begitu di mana saya bisa mengeceknya?" tanya dokter Fang Yin.
"Bagaimana kalau di ruang keluarga," usul Ibu nya Bagas.
"Baiklah, tapi maaf nyonya be ... maaf maksudnya mommy, kamar tuan muda Ba .. maksudnya kak Bagas ... bolehkah aku memanggilnya kak Bagas?" tanya dokter Fang Ying yang belum terbiasa memanggil mereka berdua.
"Silahkan," jawab Bagas.
"Maaf mommy, kamar kak Bagas mau aku bersihkan karena banyak pecahan kaca dan keramik," ucap dokter Fang Yin .
"Tidak usah biar pelayan saja yang melakukannya karena yang terpenting putraku," ucap Ibu nya Bagas.
"Baik," jawab dokter Fang Yin singkat.
Mereka pun berjalan ke arah ruang keluarga kecuali Bagas di dorong dengan menggunakan kursi roda oleh dokter Fang Yin, sampai di ruang keluarga dokter Fang Yin duduk di lantai bawah kemudian menggulung celana panjang Bagas sampai sebatas paha kemudian mencari titik syaraf sedangkan ke dua orang tua Bagas dan dokter Feng Yin melihat apa yang dilakukan oleh dokter Fang Yin.
"Di pijat lembut atau keras pun aku tidak merasakan sakit sedikitpun," ucap Bagas.
"Oh ya, kalau sakit bagaimana?" tanya dokter Fang Yin sambil menghentikan mencari titik syaraf.
"Jika aku tidak merasakan sakit apapun yang aku minta dokter harus mengabulkannya tapi jika aku merasakan sakit apapun yang dokter minta aku akan mengabulkannya," ucap Bagas.
"Baik dan di sini ada tiga orang saksi jadi tidak boleh ada yang mengingkarinya," ucap dokter Fang Yin.
"Ok," jawab Bagas singkat.
Dokter Fang Yin melanjutkan kembali sedangkan ke dua orang tua Bagas sangat terkejut dengan perubahan Bagas yang awalnya depresi dan jarang berbicara karena memikirkan wajahnya yang rusak namun ketika dokter Fang Yin datang sikap Bagas mendadak berubah terlebih Ayah nya Bagas. Namun baru beberapa saat Bagas mulai berteriak kesakitan membuat ke dua orang tuanya kuatir.
"Bagas kenapa berteriak kesakitan? Bukankah selama ini jika kakinya di sentuh Bagas tidak merasakan apapun?" tanya Ayah nya Bagas dengan nada kuatir.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sambil menunggu up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul:
__ADS_1