
"Aku hamil?" tanya Sandra tidak percaya.
"Iya sayang, kamu hamil," jawab asisten Rey.
"Terima kasih atas ucapannya dan aku juga mengucapkan selamat karena kamu juga hamil," ucap Karen sambil tersenyum bahagia karena sahabat baiknya juga hamil.
"Kalau begitu kita pergi ke ruang dokter kandungan," ajak Karen.
"Ayo," jawab Sandra dengan semangat.
"Sebentar aku akan mengambil kursi roda dulu," ucap asisten Rey.
"Ok," jawab Sandra sambil tersenyum dan masih membelai perutnya yang masih rata.
Asisten Rey keluar dari kamar perawatan meninggalkan mereka berdua dan tidak berapa lama David membuka pintu ruang perawatan sambil mendorong kursi roda kemudian mengambil botol infus dan diberikan ke Karen.
"Mommy, pegang botol infusnya," ucap David.
"Baik dad," jawab Karen sambil menerima botol infus.
David menggendong tubuh Karen dengan perlahan kemudian mendudukkan di kursi roda juga dengan perlahan namun ketika David ingin mendorong kursi roda Karen menyentuh tangan David.
"Daddy, kita menunggu Rey datang," ucap Karen.
"Ok," jawab David singkat.
Tidak berapa lama pintu ruang perawatan terbuka tampak asisten Rey mendorong kursi roda dan sama seperti yang dilakukan David, asisten Rey meletakkan Sandra di kursi roda dengan perlahan kemudian ke dua pria tampan tersebut mendorong kursi roda masing - masing keluar dari ruang perawatan menuju ke ruang dokter kandungan.
Karen berbaring di ranjang sedang suaminya berdiri sambil menggenggam tangan Karen kemudian perawat tersebut memakaikan gel di perut Karen setelah selesai dokter meletakkan stick ke perut Karen sambil menunjuk layar di mana terlihat jelas janin Karen.
__ADS_1
"Selamat ya tuan dan nyonya, anaknya kembar dua," ucap dokter tersebut.
"Apa kembar???" tanya David dan Karen dengan wajah terkejut karena mereka akan mempunyai dua anak kembar.
"Benar tuan dan nyonya," jawab dokter tersebut.
"Berapa usianya dok?" tanya Karen penasaran.
"Usianya sebentar .... (men jeda kalimatnya) ... baru delapan minggu," jawab dokter tersebut.
"Berarti masih menunggu tujuh bulan lagi," ucap Karen.
"Betul nyonya," jawab dokter tersebut.
"Boleh aku bertanya dok?" tanya David.
"Silahkan tuan," jawab dokter tersebut.
Bug
"Honey," panggil Karen dengan wajah merona merah karena dirinya malu hingga Karen memukulnya.
"Karena janinnya masih belum begitu kuat untuk sementara jangan dulu melakukan hubungan suami istri," ucap dokter tersebut.
Sampai kapan dok?" tanya David dengan wajah lesu.
"Sampai Nyonya melahirkan," jawab dokter tersebut sambil tersenyum.
("Aku melihat pria tampan ini sangat kuat di ranjang dan tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan hubungan suami istri. Aku setiap hari akan datang dan berdandan cantik agar di saat pria ini menginginkan hubungan suami istri di saat itulah aku akan masuk menawarkan diri," ucap dokter tersebut dalam hati).
__ADS_1
"Selama itukah dok?" tanya David dengan wajah frustrasi.
"Benar tuan," jawab dokter tersebut yang masih tersenyum manis.
Grep
"Daddy harus menahan nya demi anak - anak kita,'' ucap Karen sambil menggenggam tangan David.
"Benar kata honey, demi anak - anak kita," ucap David.
"Kalau begitu saya akan berikan resep vitamin dan obat penguat kandungan," ucap dokter tersebut sambil berjalan ke arah meja untuk menulis resep dokter.
("Aku ingin tahu seberapa kuatnya kalian menahan nya," ucap dokter tersebut dalam hati).
Perawat tersebut membersihkan sisa gel di perut Karen dengan menggunakan tisu kemudian membantunya bangun tapi David melarangnya karena David yang akan melakukannya.
David memeluk Karen dari arah samping dan duduk di kursi berhadapan dengan dokter tersebut yang hanya di batasi oleh meja.
"Resepnya sudah saya tulis silahkan untuk di terus," ucap dokter tersebut sambil menyerahkanresep obat ke David.
"Terima kasih dok," jawab Karen sambil menerima resep dokter karena David tidak mau mengambilnya.
Dokter tersebut agak kesal karena David sama sekali tidak memperhatikan dirinya malah sibuk mengelus perut Karen.
"Setelah ini kita beli susu hamil," ucap David sambil turun dari kursi begitu pula dengan Karen.
Mereka berdua keluar dari ruangan tersebut sedangkan dokter tersebut hanya bisa menggenggam ke dua tangannya dengan erat menahan amarahnya.
"Maaf dokter bukankah perkataan dokter itu salah bukannya seharusnya ..." ucapan perawat tersebut terpotong oleh dokter tersebut.
__ADS_1
"Diam, jangan ikut campur urusan ku," ucap dokter tersebut sambil menatap tajam ke arah perawat tersebut.
Perawat tersebut hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian berjalan ke arah pintu untuk memanggil pasien yang ke dua.