Malam yang panjang

Malam yang panjang
123. Whatever You Are Happy


__ADS_3

Jam baru menunjukkan pukul 14.00 siang.


Wajah ben sangat sumringah, bagaimana tidak setelah hampir satu bulan lamanya ia mengurusi proyek dan harus mengorbankan waktunya untuk anak & istrinya.


Kini semua pekerjaan itu telah selesai, dan ia kini bisa bernafas lega.


Janji yang telah ia buat dengan lisa & thania,akhirnya bisa ia tepati.


Ben juga telah merencanakan liburan bersama keluarga kecilnya.


Rencana ini telah lama ben pikirkan dan hal itu akhirnya bisa ben realisasikan.


Ben lalu membereskan meja kerja nya dari berbagai berkas berkas.


Ia sangat semangat dan ingin segera pulang kerumah.


Suara ketukan pintu terdengar, dan andri masuk menemui ben.


(Andri)


Pak, pak amin sudah menunggu di lobby..


(Ben)


Oke...


Oh iya ndri, kamu siapin acara makan makan untuk seluruh karyawan.


(Andri)


Pak ben ikut bersama kami?


(Ben)


No....


Sorry ndri, saya tidak bisa ikut, putri kesayangan saya sudah menunggu saya dirumah...


(Andri)


Baik pak...


(Ben)


Yaudah saya pulang dulu ya...


(Andri)


Hati hati di jalan pak


Ben keluar dari ruangannya, ia melangkah dengan cepat, ia sudah tak sabar bertemu dengan lisa & thania.


----------------------------------


Di rumah


Lisa tengah menggendong thania dan melihat berbagai bunga mawar koleksi lisa ditaman belakang rumah mereka


Sejak pagi thania begitu rewel, ia tak mau sama sekali ditidurkan.


Thania hanya ingin digendong terus oleh mamanya


Lisa sedikit kebingungan, karena tak biasanya thania serewel ini.


(Lisa)


Anak mama kenapa?


Kok rewel banget sih...


Thania terlihat gelisah, dan sesekali menangis.


Lisa mencoba menenangkan putrinya itu.


Lisa mengelus lembut punggung thania, agar putrinya itu merasa nyaman.


10 menit kemudian, thania yang dari tadi susah tidur akhirnya tak mampu lagi menahan kantuknya, bayi cantik itu tertidur di gendongan sang mama.


Lisa akhirnya bisa sedikit lega karena thania tertidur.

__ADS_1


Lisa akhirnya tau bagaimana perjuangan seorang ibu mengasuh anaknya.


Dengan langkah pelan dan masih terus mengelus punggung thania, lisa berjalan menuju kamarnya.


Ia sangat berhati hati agar tak menimbulkan suara bising yang bisa membuat thania terbangun.


Sesampainya di kamar lisa menaruh thania dalam box nya, lisa melihat jika thania telah pulas tidurnya.


Ia mencium lembut kening thania.


Lisa lalu menuju ranjangnya, ia juga ingin merebahkan tubuhnya yang hampir setengah hari ini berdiri menggendong thania.


Lisa bisa merasakan nyaman pada tubuhnya saat ia berbaring di atas kasurnya dan ia mencoba mencuri waktu untuk memejamkan matanya.


30 menit kemudian ben sampai di rumah, sari yang sedang menyapu halaman langsung menyapa majikannya itu.


(Sari)


Siang pak....tumben bapak sudah pulang?


(Ben)


Iya mba sari, kerjaan dikantor selesai lebih awal makanya bisa pulang cepat, oh iya lisa sama thania dimana?


(Sari)


Bu lisa sama non thania dikamar pak, seharian ini non thania rewel banget, gak seperti biasanya pak, bu lisa sampai harus berdiri terus buat ngegendong non thania. Tapi tadi saya lihat non thania udah mau tidur, makanya dibawa sama bu lisa kekamar.


(Ben)


Yaudah kalau gitu, saya masuk dulu


(Sari)


Baik pak..


Ben lalu masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya. Ben malangkah hati hati dan membuka pelan gagang pintu kamarnya, ia tak ingin membangunkan thania.


Ben lalu menghampiri box thania, ia melihat putrinya itu tengah tertidur pulas.


Dan ben juga melihat lisa tertidur, ben tau jika lisa cukup merasa kelelahan. Ia lalu duduk di bibir ranjang, ben menyibak rambut yang menutupi wajah lisa.


Waktunya banyak ia habiskan untuk mengurus suami dan anaknya.


Ben terus memandangi wajah lisa yang tengah tertidur.


Wajah yang tak pernah berubah dari awal ia melihat sampai saat ini.


Ben lalu mengelurakan sebuah kotak cincin dari dalam saku jasnya.


Sebuah cincin berlian yang sangat indah ben sematkan di jari tangan lisa.


Ben merasa hadiah darinya ini tak sebanding dengan apa yang telah lisa lakukan untuknya.


Ben mencium tangan lisa, ia sangat sangat mencintai wanita yang telah memberinya satu orang putri ini.


Lisa yang merasa tangannya di genggam seseorang, langsung terbangun, dan saat melihat sosok ben lisa merasa lega, lisa langsung bangun dan memeluk ben.


(Lisa)


Kamu buat aku takut tau gak sayang...aku kira siapa?


(Ben)


Emang siapa lagi yang boleh menggenggam tangan kamu selain aku, maaf ya aku ganggu tidur kamu...


(Lisa)


Kok udah pulang, gak seperti biasanya?


(Ben)


Proyek aku selesai, dan semua berjalan mulus, makanya aku bisa pulang cepat.


(Lisa)


Syukurlah....


Lisa kembali masuk kedalam pelukan suaminya itu, ia seakan mendapat tempat bersandar yang sangat nyaman.

__ADS_1


Ben membiarkannya dan merasa senang, saat lisa bermanja manja pada dirinya.


(Ben)


Tadi kata mba sari thania rewel ya sayang?


(Lisa)


Iya...aku juga gak tau kenapa thania rewel banget hari ini, bahkan gak mau tidur sama sekali, dan setelah berjam jam di gendong akhirnya dia mau tidur.


(Ben)


Kamu pasti capek banget ( sambil mengelus lembut rambut lisa)


(Lisa)


Capek pasti iya sayang, tapi itu udah jadi kewajiban aku sebagai seorang ibu.


Ben mencium pucuk kepala lisa. Ia benar benar tak salah memilih seorang istri.


(Ben)


oh iya ,Karena proyek aku ini berhasil, aku bakal nepatin janji aku ke kamu dan thania.


(Lisa)


Janji....janji apaan?


(Ben)


Aku kan udah janji bakal meluangkan waktu buat kamu dan thania...


Aku bakal tebus semua waktu yang sudah terbuang, dan aku udah ngerencanain liburan buat kita


(Lisa)


Serius sayang....


(Ben)


Serius banget dong...


Kamu bebas mau kemana aja, aku bakal nememanin kamu dan thania.


(Lisa)


Makasih sayang...


(Memeluk erat tubuh ben)


(Ben)


Ssttt.....entar thania bangun lagi...


Saking senangnya lisa tak bisa menahan kegembiraanya itu, sampai sampai ia lupa jika thania baru saja tertidur.


Lisa lalu menutup mulutnya denga tangannya.


Dan ia baru sadar jika di jarinya telah melingkar sebuah cincin cantik.


(Lisa)


ini buat aku sayang ( sambil melihat jarinya yang telah dilingkari cincin)


(Ben)


kalau bukan buat kamu buat siapa lagi? aku sengaja beli ini buat kamu, berkat kamu yang selalu mendukung aku, sampai semua pekerjaan aku lancar, semua itu berkat doa kamu.


bahkan mungkin ini gak sebanding dengan apa yang kamu lakukan untuk aku dan thania.


(Lisa)


sudah jadi tugas aku buay selalu mensuport kamu, dan itu semua demi keluarga kita...sekali lagi makasih ya sayang...


(Ben)


sama sama sayang...


Lisa merasakan bahagia yang bertubi tubi. Ben tak pernah tak memanjakan dirinya,meski ia tak pernah meminta, tapi ben selalu berinisiatif memberinya hadiah. Perlakuan dan perhatian yang diberikan ben itulah yang membuat lisa semakin mencintai pria yang telah banyak merubah hidupnya itu.

__ADS_1


__ADS_2