
Dedaunan bergoyang-goyang di tiup angin.
Sore hari di kediaman Diedrich terasa hangat.
Xavier dan Sean sedang bersantai di halaman.
Salah satu membaca buku, sedangkan yang lain bermain dengan bolanya. Kedua bocah tampan itu menyukai hal yang berbeda, memiliki hobi yang berbeda. Itu sebabnya mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Lelah, Sean berlari menuju Xavier. Bocah kecil tampan berusia lima tahun itu mengambil air mineral yang tergeletak di samping Xavier lalu meminum separuh isinya. Setelah itu ia mendudukkan diri di sampingnya.
"Kakak," Sean dengan suara kecilnya memanggil Xavier. Matanya yang jernih menatap saudara laki-lakinya yang tampak fokus membaca buku.
"Mm?"
"Apa Mommy akan segera pulang?" tanyanya.
"Uh huh." Xavier mengangguk. Ia masih sibuk dengan bukunya namun tidak lantas mengabaikan Sean. "Ibu akan pulang sebentar lagi."
Sean cemberut. "Kau tidak menipuku, kan?"
Xavier menutup bukunya kemudian meletakannya di samping. "Mana mungkin aku menipumu? Mommy berbicara melalui telepon." Ia menunjukkan ponselnya kepada Sean, kemudian memperbesar waktu panggilan yang ia lakukan dengan Ruby.
Wajah cemberut Sean berubah riang dalam waktu singkat. "Baguslah. Aku sangat merindukan Mommy." Sean mulai mengeluh. Meski Ruby sangat sibuk dengan pekerjaan, ia tahu wanita itu tidak pernah melupakan mereka.
"Ya. Aku juga sangat merindukannya, Sean." Xavier mengusap puncak kepala Sean dan tersenyum lembut. Sebagai seorang kakak, ia memerankan perannya dengan baik. Ia menyayangi Sean, dan Sean juga menyayanginya.
Begitulah keluarga kecil mereka saling menyayangi.
Bahkan jika Ruby bukan ibu kandungnya, Xavier tetap menyayanginya karena sebagian waktu dalam hidupnya lebih banyak ia habiskan dengan wanita itu daripada dengan ibu kandungnya.
Bukan ia tidak menyayangi ibu kandungnya, ia sangat menyayanginya tentu saja. Namun masa kecil yang ia habiskan sendiri sampai akhirnya Ruby datang, ia berjanji akan menyayangi kedua wanita itu dengan takaran yang sama.
***
Ruby pergi ke toko makanan penutup dalam perjalanan kembali setelah bertemu dengan CEO perusahaan Adelard, Eric Adelard.
__ADS_1
Dan Victoria sponge cake menjadi pilihannya.
Merupakan salah satu jenis kue yang cukup populer di Inggris. Terbuat dari kue sponge yang dilapisi dengan selai raspberry dan vanilla cream serta gula halus dan potongan buah raspberry segar yang dibubuhkan di atasnya.
Dari penampilannya, sangat menggugah selera.
Itu sebabnya ia membelinya.
Padahal, hanya dirinya yang menyukai makanan penutup seperti itu. Kedua putranya, tidak terlalu suka makan sesuatu yang manis. Bagaimanapun sejak kecil pola makan mereka di takar sesuai porsi oleh ahli gizi. Perlahan itu menjadi kebiasaan.
Sebagai gantinya, biasanya Rubi akan membuat kue atau cookies yang tidak manis untuk kedua putranya. Namun karena mereka baru tiba di London, ia belum punya waktu untuk pergi ke dapur. Selain itu, ia juga tidak berencana untuk memberikan makanan penutup yang ia beli di luar untuk kedua putranya.
Mengingat betapa berharganya Xavier dan Sean, ia tidak mungkin memberikan makanan acak kepada mereka.
Saat Ruby sampai di rumah, kedua putranya berada di halaman samping. Ia memperhatikan interaksi di antara mereka untuk waktu yang lama dan bibirnya melengkung secara alami.
Meski mereka bukan saudara kandung, melihat bagaimana Xavier memperlakukan Sean, dan bagaimana Sean membalas perlakuan Xavier, ia merasa terharu sekaligus bangga.
Ia tahu kedua putranya adalah yang terbaik terlepas dari seperti apa status mereka dalam keluarga.
Kesayangannya.
Harapannya.
Cinta.
Semua ada pada mereka.
Sebagai seorang ibu yang telah diberikan harta yang begitu indah oleh Tuhan, ia tidak akan menyia-nyiakannya. Ia menyayangi Xavier. Dan rasa sayang itu sebesar ia menyayangi Sean. Sama timbangannya, sama takarannya, sama kadarnya.
Satu, putra suaminya dari istri terdahulu, dan satu, putra suaminya dengan dirinya. Mempertimbangkan betapa baik Osvaldo meninggalkan dua anak yang begitu hebat untuknya, ia bersumpah prioritas utamanya adalah mereka. Tidak pekerjaan, tidak hal lain. Mereka berdua di atas segalanya.
Sean adalah orang pertama yang mengetahui kepulangan Ruby. Begitu melihat Ruby datang, Sean menyenggol siku Xavier. "Kakak, Mommy sudah pulang."
Xavier mengikuti arah pandang Sean dan melihat seorang wanita melambaikan tangan kepada mereka. Ia tersenyum samar. "Uh huh." Xavier mengangguk. "Kau ingin datang kepadanya?"
__ADS_1
Sean mengangguk cepat. "Tentu saja. Bukankah kau juga?"
"Mm. Ayo pergi bersama."
Kemudian mereka bersama-sama berjalan menuju Ruby.
Begitu tiba, Xavier mengambil alih tas Kelly milik Ruby. "Mom, kau kembali? Apa kau lelah? Biar ku bawakan tasmu." Ia atas inisiatifnya sendiri membantu Ruby dengan membawakan tasnya.
Melihat bagaimana Xavier berinisiatif, Sean tidak mau kalah. Ia juga mengambil kotak kue di tangan kanan Ruby. "Aku juga, aku akan membantumu."
Ruby tertawa. "Astaga, Xavier, Sean." Ruby mengusap puncak kepala Xavier kemudian Sean. "Kenapa kalian berdua sangat manis? Lihat betapa tampannya putraku jika berperilaku seperti itu? Ah.. aku sangat bahagia." Ruby memasang ekspresi senang terbaiknya.
Seperti biasa, di depan kedua putranya, Ruby adalah ibu yang hangat dan perhatian. Terlepas dari seperti apa Ruby di luar sana, saat kembali ke rumah, ia adalah ibu yang baik dan bertanggung jawab. Jadi, yang bisa ia lakukan selain memenuhi kebutuhan mereka adalah membuat mereka nyaman, aman dan lebih baik.
Xavier tersenyum. "Apa kau benar-benar sangat bahagia?" Hanya dengan perlakuan sekecil ini? Jika benar demikian, ia akan lebih sering bertingkah seperti ini di masa depan.
"Tentu saja," jawab Ruby. "Kalian berdua adalah putraku yang manis. Kalian membuatku bahagia sepanjang waktu." Ia menatap satu persatu putranya, kemudian tersenyum. "Bagaimana dengan rumah barunya? Apa kalian nyaman tinggal di sini?"
Ruby mengawasi sekeliling. Sebenarnya rumah ini cukup besar dan cukup layak untuk di huni. Meski rumah ini tidak sebesar rumah mereka di Amerika, namun rumah ini tidak terlalu buruk. Halaman depan dan samping cukup luas dan yang terpenting adalah Xavier dan Sean menyukainya.
"Aku suka rumah ini, Mom," ujar Sean.
"Ya, aku juga berpikir seperti itu," Xavier menimpali.
"Bagus jika kalian menyukainya." Ruby tersenyum puas.
Tidak mudah menjadi ibu tiri. Hal yang sama juga berlaku untuknya. Namun Ruby tidak pernah berpikir untuk menyerah. Kebersamaannya dengan Osvaldo, cinta yang ia miliki untuk pria itu, menumbuhkan tekad dalam dirinya untuk benar-benar menjadikan Xavier bagian dari hidupnya.
Dengan itu, Xavier benar-benar masuk ke dalam hidupnya dan menetap di hatinya. Tidak ada keluhan karena Xavier sangat patuh. Tidak peduli apakah anak itu patuh pada orang lain atau tidak, setidaknya anak itu patuh padanya.
"Sebagai perayaan, haruskah kita menghabiskan waktu bersama saat akhir pekan?" Ruby kembali buka suara. Lusa adalah akhir pekan, dan ia ingin menghabiskan akhir pekannya bersama mereka.
"Itu ide yang bagus," jawab Sean.
"Aku tidak keberatan," jawab Xavier.
__ADS_1
Ruby memandangi Sean dan Xavier kemudian menghela nafas lega. Karakter Sean dan Xavier sebenarnya sangat berbeda. Sean lugas dan banyak bicara, sedangkan Xavier pendiam, tertutup dan tenang. Namun meski berbeda karakter, mereka rukun satu sama lain dan ia sangat puas akan hal itu.