
Vidrian berjongkok di depan Savana kemudian membelai wajah cantiknya. "Savana, apa kau sangat ingin menyelematkannya?"
Savana mengangguk. "Iya."
Vidrian kehilangan semua kata-katanya. Bagus memiliki putri yang pemberani, namun di sisi ia frustasi. Ia berkata dengan suara rendah, "Dengar, jika kau benar-benar ingin menolong anak itu, kau harus melakukannya dengan hati-hati, oke?"
Savana terdiam. "Apa kau punya rencana?" tanyanya.
Vidrian tersenyum. Seperti yang di harapkan dari darah dagingnya. Dia sangat cerdas.
Vidrian berdehem. "Ehm, bagaimana jika kau antar anak itu kembali ke keluarganya dan aku akan mengurus orang-orang jahat itu, bagaimana? Kau terlalu kecil untuk memulai dan itu berbahaya." Ini adalah solusi terbaik yang bisa Vidrian tawarkan. Jika Savana menolak, tentu ia akan tetap menyelamatkan anak itu. Namun alangkah baiknya jika Savana patuh dan mendengarkan perkataannya.
Savana mengangguk. "Baiklah."
Vidrian mencium pelan dahi Savana sebelum berdiri. "Gadis baik," pujinya. "Kalau begitu, mari kita lakukan seperti yang aku katakan."
"Mm."
Segera Vidrian dan Savana berjalan mendekat menuju sumber kekacauan. Semakin dekat, semakin jelas cacian yang Dorothy lontarkan. Kata-katanya sangat kasar dan tidak manusiawi. Sangat tidak pantas diucapkan di depan anak kecil.
Langkah kaki Vidrian berhenti. "Ada apa ini?" tanyanya. Pandangannya menyapu pertengkaran tidak adil di depannya. Anak kecil berusia lima tahun, di kepung oleh beberapa pria berbadan besar? Siapapun yang melihat pasti berpikir ini tidak masuk akal. Namun saat melihat nyonya muda Dawson adalah pelopor gerakan tidak pantas ini, ia segera mengerti.
Suara dingin Vidrian langsung membungkam mulut Dorothy yang sedang mengoceh. Mereka yang berada di sana menoleh ke arah sumber suara secara serempak. Melihat seorang pria tampan dengan aura kuat berdiri tidak jauh dari mereka, mereka tiba-tiba merinding.
Menyadari tidak ada yang menjawab pertanyaannya, Vidrian memberikan instruksi kepada Savana agar membawa Sean pergi.
__ADS_1
Savana mengangguk pelan sebelum menyentuh pergelangan tangan Sean dan menariknya keluar dari kekacauan.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Savana setelah berjalan cukup jauh meninggalkan keributan. Ia percaya Vidrian akan membereskan semuanya dengan cara yang biasa Vidrian lakukan. Itu sebabnya daripada mengkhawatirkan Ayahnya, ia lebih mengkhawatirkan Sean.
Sean mengangguk kecil. "Aku baik-baik saja." Langkahnya terhenti dan ia menatap Savana. "Terima kasih sudah menolongku." Meski tidak berharap orang asing akan datang membantu, namun karena Savana bersedia membantunya dengan sukarela, ia harus berterima kasih dengan benar.
Savana tersenyum. "Hanya masalah kecil. Daddy akan mengurus semuanya."
"Kedengarannya Daddymu cukup hebat." Melihat Vidrian membuat Dorothy berhenti mengoceh hanya dengan beberapa patah kata, Sean menduga identitas orang itu tidak sederhana.
Savana tertawa. "Sebenarnya Daddy cukup bisa di andalkan." Ada sorot bangga yang tampak di matanya. "Oh iya, kau sendiri, siapa namamu? Dimana keluargamu? Aku akan mengantarmu kepada mereka."
***
"Xavier, apa menurutmu seseorang menculik Sean?" tanya Ruby sambil melihat arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. Sudah cukup lama Sean pergi, makanan bahkan sudah tersaji di atas meja. Namun bocah itu masih belum muncul juga.
Kemana perginya bocah itu?
Dia tidak membuat ulah, kan?
Xavier menaikan sebelah alisnya. "Kau yakin ingin menanyakan pertanyaan itu?" tanyanya acuh. Ia tidak peduli dimana atau bagaimana keadaan Sean sekarang, benar-benar tidak peduli. Lagipula apa yang bisa Sean lakukan selain membuat kekacauan? Justru aneh jika anak itu berperilaku baik tanpa membuat ulah.
"Memang apa yang bisa kutanyakan jika bukan itu?" tanyanya santai. Bahkan jika Ruby mengkhawatirkan Sean, ia tidak mungkin menunjukkan kekhawatirannya dengan jelas.
"Bukankah seharusnya kau bertanya, dia tidak mungkin membuat ulah, kan. Begitu?" Xavier memperjelas maksud perkataan Ruby.
__ADS_1
"Perkataanmu terdengar seperti aku tidak kompeten mengurus Sean," timpal Ruby. Namun Xavier ada benarnya, daripada mengkhawatirkan keadaannya, ia lebih khawatir Sean membuat ulah.
"Kau salah memahami perkataanku," Xavier menimpali.
"Mom." Sean yang sudah kembali, segera memanggil Ruby.
Ruby tersentak. Suara yang familiar yang tertangkap indera pendengarannya, di susul oleh sesosok kecil yang mendekat ke arahnya. Ruby menyipitkan mata. "Sean? Darimana saja kau?" Belum sempat Ruby melanjutkan perkataannya menuju tahap omelan, sosok lain yang berdiri tidak jauh di belakang Sean, mencuri perhatian Ruby.
Gadis itu..
"Mom, makanannya sudah datang? Apa aku pergi terlalu lama?" tanya Sean, menunjukkan wajah polos tanpa dosa. Melihat berbagai makanan tersaji di atas meja, mungkin ia sudah pergi terlalu lama. Ruby pasti akan memarahinya.
Suara Sean mengalihkan perhatian Ruby. Mengabaikan sosok gadis itu, ia menatap Sean dan jemarinya yang indah mencubit dagunya. "Jangan harap aku terperdaya." Ia tahu betul Sean sedang mengalihkan perhatiannya. Berdasarkan tebakannya, bocah kecil itu pasti membuat ulah di suatu sudut di restauran ini. Itu sebabnya Sean tidak berani menjelaskan tentang dirinya sendiri dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Apa yang kau katakan?" Sean bertingkah bodoh.
"Aku bilang, dimana kau membuat masalah?" Ruby menekankan kata demi kata yang terlontar dari mulutnya.
Melihat interaksi ini, seolah wanita itu akan memarahi Sean, Savana bergegas maju dan memberanikan diri untuk berbicara, "Bibi, sebenarnya dia tidak membuat ulah. Dia di ganggu oleh beberapa orang jahat. Tapi tidak apa-apa, Daddy sudah mengurusnya. Aku berjanji tidak akan ada masalah yang tersisa."
Mendengar suara gadis itu, Ruby melepaskan cubitannya di dagu Sean, kemudian pandangannya beralih. Melihat wajah yang sangat familiar, sebelah alisnya terangkat. "Siapa kau?" tanyanya. Ia tidak menduga akan melihat gadis ini lagi. Tidak. Ia tidak menduga Sean bertemu dengan gadis ini. Sesuatu yang jelas ia antisipasi.
Namun tidak ada perbedaan dalam ekspresi wajahnya. Seolah pertemuan antara mereka hanya masalah kecil yang bisa di tangani sewaktu-waktu. Namun, benarkah demikian?
Jika memang sesederhana itu, Ruby tidak akan pernah membiarkan pertemuan ini terjadi. Atau setidaknya, ia akan pergi ke tempat yang tidak di kunjungi oleh mereka. Semudah menghindari wabah. Namun kenyataannya, hal-hal seperti itu tetap tidak berada di bawah kendalinya. Atau, beberapa hal benar-benar tidak bisa di kendalikan.
__ADS_1