Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 21 ~ Berkendara Sebagai Pengalihan


__ADS_3

Vidrian yang selalu mahir memprediksi kemungkinan hasil dari berbagai proposal, tidak pernah berpikir Ruby mengatakan ini.


Dosa apa yang sudah ia lakukan?


Apakah Ruby menyiratkan bahwa ia sudah melakukan banyak perbuatan tercela sampai Tuhan mengutuk dirinya agar tidak memiliki apapun lagi tentang wanita itu bahkan dalam diri Savana?


Mengapa Ruby tiba-tiba mengatakan hal seperti ini?


Sederet pertanyaan tumpang tindih dalam benaknya. Namun tetap saja ia gagal menemukan jawaban sebanyak apapun ia mencari.


Sementara Vidrian sibuk berpikir, Ruby mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Lily.


[Sepertinya aku tidak baik-baik saja.]


Dengan satu pesan itu, Lily segera mengeluarkan Supercar dari garasi lalu mengemudikannya dengan kecepatan tinggi menuju restauran.


Menjadi orang kepercayaan Ruby sejak wanita itu mengambil alih perusahaan, mereka memiliki ikatan yang rumit dan tak terdeskripsikan. Itu sebabnya Lily memiliki firasat buruk sejak awal. Hanya saja ia tidak menduga jika Ruby benar-benar tidak dalam kondisi yang baik. Bukan secara fisik, tetapi secara mental.


Maksudnya, sore ini Ruby baik-baik saja.


Tapi malam ini, tidak.


Mengapa?


Hal apa yang sudah ia lewatkan?


Ia bertanya-tanya. Namun sampai mobil yang ia kemudikan tiba di restauran, ia masih belum menemukan jawaban. Ia turun dari mobil dan bergegas pergi menuju meja yang sebelumnya di reservasi olehnya.


Ia sangat gugup.


Benar-benar gugup.


Namun setibanya Lily di meja yang ia tuju, ia tercengang.


Melihat dua wajah asing duduk di meja yang sama dengan Ruby, sebelah alisnya terangkat. Ada apa ini? Apa yang terjadi? Siapa mereka?

__ADS_1


Tidak. Bukan itu. Ia tahu siapa mereka. Dia adalah Vidrian dan anak perempuannya. Tapi masalahnya, apa yang mereka lakukan di sana? Mengapa mereka duduk satu meja dengan Ruby?


Melihat kedatangan Lily, Ruby menghela napas lega.


Ia merasa terselamatkan.


Meski ia bisa saja pergi tanpa menunggu Lily datang, bagaimana dengan Xavier dan Sean? Jika tidak memikirkan kedua putranya, ia tidak mungkin masih bertahan di sini dengan pria busuk Vidrian.


Lily membungkukkan sedikit badannya setelah tiba di meja Ruby. "Nyonya, dari sini saya akan mengambil alih. Saya sudah menyiapkan mobil untuk Anda. Anda bisa menyelesaikan urusan Anda tanpa perlu mengkhawatirkan Tuan Muda." Dengan tiga kalimat itu, Lily menyerahkan kunci mobil kepada Ruby.


Melihat kunci mobil yang Lily sodorkan, Ruby tahu mobil jenis apa itu. Meski Supercar berada di bawah Hypercar dan Megacar, namun kecepatannya lumayan, masih lebih baik dari Sportscar. Setidaknya, tidak terlalu buruk. Dan seperti biasa, Lily sangat bisa di andalkan. Dia selalu tahu apa yang ia butuhkan.


Ruby bangkit dari duduknya lalu menyambar kunci mobilnya. "Kerja bagus, Lily," ucapnya. "Aku akan menyerahkan Xavier dan Sean kepadamu." Dengan begitu, Ruby mengambil tasnya lalu melangkah pergi. Meninggalkan semua orang dalam keadaan linglung.


Setelah siluet Ruby hilang, Xavier adalah orang pertama yang buka suara. "Lily, kami akan pergi sekarang." Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju Sean. "Ayo, Sean."


Sean mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Setelah mengucapkan kalimat perpisahan sederhana kepada Savana, Sean pergi bersama Xavier.


Lily mengangguk kecil kepada Vidrian sebelum melangkah pergi mengikuti Xavier dan Sean. Tidak peduli apa yang terjadi, hubungan Vidrian dan Ruby tampaknya tidak sesederhana kelihatannya.


Air mata, adalah cara paling mudah untuk menghapus rasa sakit dan kesedihan hanya dengan mencurahkan nya. Namun alih-alih menangis, seseorang yang kuat tidak akan menangis. Sebaliknya, ia akan memasang senyum di wajahnya.


Ruby, meski tidak menangis, namun bukan berarti ia baik-baik saja.


Ia tidak tahu kenapa masih sedih ketika memikirkannya.


Sudah cukup lama ketika semuanya berakhir.


Dan yang paling menyakitkan bukan perpisahan, tetapi bertamu ke rumah orang dan dipersilahkan untuk masuk, namun tidak dipersilahkan untuk duduk. Itu menjadi pengalaman paling sial dalam hidupnya, traumanya, yang membuat kebencian tertanam dan mengakar di pembuluh darahnya.


Sejujurnya sedari awal pertemuannya dengan pria itu, dengan Vidrian, sudah banyak keanehan yang terjadi. Entah setiap pertemuan mereka karena kebetulan atau sengaja, itu tidak penting. Namun delapan tahun lalu, dalam ingatannya, Vidrian bukan siapa-siapa. Pria itu hanya seorang manager di perusahaan milik Damian Adelard, yang saat ini di ambil alih oleh Rikas Adelard setelah Damian dan istrinya meninggal dalam kecelakaan mobil. -Menikahi Dokter Cantik/ Damian&Clea-


Selain tidak berguna, pria itu bahkan tidak memiliki daya dan upaya untuk mempertahankan suatu hubungan dan memilih untuk melepaskan seseorang hanya karena tidak ada cinta.


Jika ada satu kata untuk menggambarkannya, maka kata yang tepat adalah SAMPAH.

__ADS_1


Memikirkannya, Ruby terkekeh. Lucu sekali.


Ia berharap pria itu sudah menjadi abu saat ia kembali. Namun ia lupa, sekalipun pria itu mati, pria itu hanya akan ditanam di dalam tanah. Jadi, tidak mungkin pria itu menjadi abu. Namun apapun sebutannya, ia tidak berharap bertemu pecundang itu lagi.


Ia menyalakan rokoknya sebelum mengendarai Supercarnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan London. Seolah tidak peduli dengan nyawanya, ia menerabas jalanan melewati mobil demi mobil yang melaju di depannya.


Tidak tahu kemana ia akan pergi.


Ia tidak punya tujuan atau tempat khusus yang bisa dituju. Ia hanya merasa perlu udara segar untuk menenangkan diri. Tidak. Ia butuh sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya, yang bisa menjauhkannya dari tekanan. Dan satu-satunya cara adalah berkendara.


Jika di Amerika, mungkin ia akan mengemudi ke pegunungan yang memiliki jalan berliku dan tikungan tajam. Namun di sini, di Kota yang sudah lama tidak ia kunjungi, ia tidak tahu dimana ia bisa menemukan tempat seperti itu.


Waktu berlalu.


Setelah cukup lama mengemudi dan menghabiskan beberapa batang rokok dalam perjalanannya, Ruby tiba di pinggiran kota.


Ruby mengawasi keadaan sekitar sebelum menghentikan mobilnya.


Ini adalah daerah terpencil.


Yang mana ketika mengawasi sekeliling, yang menyambut adalah rerumputan hijau yang membentang luas sejauh mata memandang. Tidak ada rumah, ladang, peternakan, atau apapun.


Saat Ruby turun dari mobil, udara dingin segera menyergap dan mendinginkannya sampai ke tulang. Ia berdiri di depan mobil lalu mendudukkan diri di bagian depan mobilnya. Setelah itu ia menyalakan sebatang rokok lagi dan mulai menghisapnya dengan santai.


Pemandangan di depan adalah tebing curam. Dan di bawahnya adalah lembah yang sangat indah. Pepohonan hijau dan sungai yang meliuk, semuanya seindah mimpi, begitu indah hingga membuat orang takut.


Bahkan setelah delapan tahun tidak datang ke tempat ini, tempat ini masih sama. Tidak ada yang berubah kecuali pagar pembatasnya.


Baru beberapa menit berlalu sejak Ruby tiba di sini, sebuah Sportcar berwarna merah mengkilap berhenti tepat di samping mobilnya.


Tidak lama kemudian sesosok wanita cantik dengan pakaian super ketat turun dari mobil dan dengan percaya diri duduk di bagian depan mobilnya seperti yang Ruby lakukan.


Satu tangannya terselip rokok di antara jemarinya, sementara tangan yang lain memegang botol anggur.


Hanya dengan mencium aromanya, Ruby tahu siapa dia.

__ADS_1


Seorang perokok dan pemabuk, jika bukan desainer perhiasan Velline, siapa lagi?


__ADS_2