
Vidrian tidak tahu setan apa yang ia temui baru-baru ini, tetapi ia merasa bahwa setiap kali ia melihat Ruby, wanita itu akan berbeda dari sebelumnya. Dia seperti rawa, menggodanya untuk masuk lebih dalam dan lebih dalam.
Ruby menaikan sebelah alisnya dan berkata meremehkan, "Lalu, apa kau berpikir sekarang kau memiliki kesempatan?"
Vidrian bangun dari lamunannya. Perkataan Ruby begitu kejam sehingga ia merasakan hati dan kantong empedunya terbelah. Namun ini bukan saat yang tepat untuk mendramatisir rasa sakitnya. Karena Ruby sudah berdiri di depannya dan bersedia berbicara dengannya, tidak ada yang lebih penting selain berbicara dari hati ke hati dengan wanita itu.
Lupakan rasa sakit itu.
Ia bukan orang yang mudah tenggelam akan perasaan tidak nyaman semacam itu. Di samping itu, ia tidak mau menunjukkan perasaannya dengan jelas.
"Kurasa iya," jawab Vidrian setelah sekian lama diam.
Ruby terkekeh. "Bagaimana aku harus menyebutmu? Tidak punya malu? Atau.. tidak tahu diri?"
"Ruby." Suara Vidrian merendah. "Kumohon."
"Sayangnya, aku bukan orang yang murah hati." Dengan begitu Ruby bersiap menutup kaca mobilnya.
Namun Vidrian buru-buru mencegahnya. "Sepuluh menit." Kemudian ia menggeleng. "Tidak. Hanya lima menit. Ya, hanya lima menit. Tidak lebih dari itu."
Ruby menatap Vidrian dan mengukurnya.
Wajah tampan pria itu tidak menunjukkan banyak emosi. Mata gelap itu dingin seperti biasanya. Ketika tatapan mereka bertemu, tiba-tiba terasa aneh bagi Ruby.
Rasanya seperti deja vu.
Saat itu, ia mengejarnya dan ingin bergabung dengan lingkarannya. Tetapi pria itu menolaknya tanpa ampun. Dia bilang, dia tidak punya waktu atau energi untuk menanganinya.
Tentu, karena kurangnya waktu dan tenaga, pria itu acuh tak acuh padanya bahkan setelah mereka menikah. Namun sekarang, setelah delapan tahun berlalu, apa yang dia inginkan? Tidak mungkin dia ingin kembali bersamanya, bukan?
Sungguh konyol.
Penolakan di masa lalu, adalah alasan mengapa Ruby memilih mundur. Ia pikir, itu yang terbaik. Dan ya, kenyataannya itu memang yang terbaik.
"Ruby," panggil Vidrian.
__ADS_1
Ruby mengedipkan mata, bangun dari khayalannya, menolak untuk didominasi oleh melankolia yang menghantui lagi. Ia akan menghabiskan setiap saat dalam hidupnya untuk menghargai apa yang ia miliki sekarang. Jadi, tidak ada gunanya berlama-lama di masa lalu lagi
Ruby menghela napas panjang sebelum berkata, "Katakan!"
Vidrian menarik dasinya sebelum berkata, "Aku yakin kau tahu jika aku sudah mengetahui fakta bahwa kau adalah Rubika, mantan istriku, juga.. ibu Savana." Ia menatap Ruby dengan perasaan yang tertahan, tidak berani menunjukkannya.
Ruby menaikan sebelah alisnya. "Lalu?"
Vidrian tersenyum tipis. "Kau tidak menyangkalnya?" tanyanya. Sudah ia duga, Ruby mengetahui semuanya. Jika tidak, dia tidak akan setenang ini saat ia mengajukan pertanyaan itu.
Mengingat bagaimana pertemuan pertama mereka di restauran, dan betapa Ruby menyangkal semuanya, mengapa dia tiba-tiba berubah, ia merasa wanita ini sudah memiliki semacam skema. Skema yang mungkin tidak bagus untuknya.
Namun untuk sementara ia juga mengesampingkan itu.
Terlepas dari rencana apa yang sedang Ruby rencanakan saat ini, ia akan memikirkannya perlahan setelah berhasil membuat Ruby melunak. Kapan waktunya, ia tidak tahu. Yang jelas, jalan itu masih panjang. Tidak hanya panjang, besar kemungkinan bahkan tidak berujung.
Ruby mengangkat bahu. "Kau ingin aku menyangkalnya?"
"Tidak," sahut Vidrian, cepat. "Aku senang kau tidak menyangkalnya." Ia menjeda sebentar kalimatnya sebelum kembali melanjutkan. "Ruby, aku.. merindukanmu." Sungguh. Sangat merindukanmu. Untuk kalimat ini, ia hanya menyimpannya di dalam hati.
Ruby tidak menjawab. Juga tidak menunjukkan banyak emosi. Bisa di katakan ia bahkan masih setenang sebelumnya, seolah perkataannya tidak sedikit pun mempengaruhinya.
Ruby menundukkan kepala, terkekeh. "Bukankah itu lucu?" Menertawakan rasa yang dulu pernah ada? Ya, pada akhirnya ia bisa melakukannya setelah delapan tahun berlalu. Tahun-tahun awal, ia terluka dan menangis tanpa jeda. Sekarang, pada akhirnya ia dapat menertawakan kekonyolan di masa lalu. Sesuatu yang ia pikir tidak dapat ia lakukan.
"Ya?"
"Kau langsung menandatangani surat cerai saat aku menyodorkannya. Aku pikir, kau sangat senang bercerai denganku. Tetapi, lihat, apa yang kau lakukan sekarang? Kau datang ke hadapanku dan berkata merindukanku? Bukankah itu terdengar seperti lelucon?" Ia kembali terkekeh. "Ayolah, ini bukan gayamu yang biasanya, Vidrian," ucapnya. "Jadilah dirimu yang seperti biasanya. Itu terlihat lebih baik." Dengan begitu, Ruby menutup kaca jendela mobilnya lalu melajukan mobilnya melewati gerbang.
Meninggalkan Vidrian seorang diri dalam kegelapan yang masih tercengang sembari menatap mobil Ruby yang perlahan menjauh.
Menatap Vidrian melalui spion, kepala Ruby menjadi sakit sekali. Kenangan yang tersegel kembali padanya seperti gelombang yang tak terhentikan.
***
Setelah kembali ke kediaman, Ruby tidur selama beberapa waktu.
__ADS_1
Dan begitu bangun, kepalanya menjadi semakin sakit.
Ia memaksa tubuhnya untuk bangun dan berjalan ke sofa. Kemudian ia mengambil tasnya untuk mengeluarkan sebotol pil. Tangannya gemetar ketika ia mengeluarkan beberapa dan memasukkannya ke mulutnya. Botol itu jatuh dan pil-pilnya tumpah ke lantai.
Tubuhnya ambruk ke sisi sofa, matanya kosong.
Dokter Stuart benar. Depresinya tidak pernah sembuh. Ia hanya berusaha bersembunyi dari hal-hal itu. Tetapi kenyataan benar-benar kejam karena memaksanya untuk mengingat semuanya.
Tiga puluh menit berlalu ketika pintu kamar tidur Ruby di ketuk dari luar.
Ruby menoleh ke pintu dan terdiam selama beberapa saat sebelum berkata, "Masuk!"
Seorang pria jangkung dengan pakaian rapi berjalan menuju Ruby dan membungkuk kepadanya. "Selamat pagi, Nyonya. Saya, Julius, saya akan menjadi asisten Anda untuk beberapa hari ke depan," ucapnya dengan sopan.
Ruby mengawasi Julius lekat kemudian mengangguk.
Dari penampilannya, Julius tampak mampu dan berdedikasi. Di samping itu, pilihan Grissham, tidak mungkin orang sembarangan dan ia mempercayai pilihannya.
Diperhatikan oleh Ruby, Julius membiarkan Ruby mengukurnya.
Lagipula sedari awal, ia sudah siap bekerja di bawah tekanan. Tujuannya sederhana, untuk menghasilkan uang lebih cepat.
Ia tahu bahwa pekerjaan tidak bisa memiliki ketiga kualitas, gaji tinggi, pekerjaan mudah, dan dekat dengan rumah.
Itu omong kosong.
Pekerjaan semacam itu tidak ada.
Pekerjaan bergaji tinggi berarti seseorang akan bekerja sampai mati seperti anjing. Lagi pula, sebuah perusahaan bukanlah amal. Ia dulu memiliki teman sekelas sekolah menengah yang memiliki gaji bulanan yang cukup tinggi untuk membuat semua teman sekelas mereka sebelumnya merasa iri. Namun, itu juga normal baginya untuk bekerja lembur beberapa hari berturut-turut.
Tinggi gajinya, banyak pekerjaannya, no work-life balance.
Selesai menilai Julius, Ruby kembali berkata, "Apakah kau orang yang religius?"
Julius tercengang. "Tidak terlalu," jawabnya.
__ADS_1
Ruby mengangguk kecil. "Baiklah. Kau bisa pergi dan menungguku di mobil."
Julius membungkukkan badan dan undur diri.