Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 56 ~ Tidak Melihat Savana


__ADS_3

...Mon maap kalo banyak typo, Belum di preview ya gaes.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ruby memaksakan senyum. "Bagaimana menurutmu?" Bukannya menjawab 'baik-baik saja' seperti yang seharusnya ia lakukan, ia justru mengajukan pertanyaan ini.


Baginya, meski Savana adalah putri kandungnya, namun hubungan mereka belum sedalam itu. Jadi ia merasa tidak perlu berpura-pura di depannya.


"Umm.. tampaknya kau tidak baik-baik saja," jawab Savana setelah cukup lama mengawasi Ruby.


Ruby mengulurkan tangan dan mengusap puncak kepala putri kecilnya. "Anak pintar. Kau benar-benar tahu apa yang aku rasakan."


Savana tersenyum. Merasa bangga atas pujian ibunya. "Jadi, Daddy sungguh menyakitimu?" tanyanya, kembali ke topik awal.


"Bisa di bilang begitu," jawabnya.


"Haruskah aku memberinya pelajaran?" Savana berkata dengan wajah serius. Seolah ia siap menghancurkan ayahnya bila memang diperlukan.


Ruby terkekeh. "Memang apa yang bisa kau lakukan?" Ia menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya keluar dari area sekolah.


"Apa yang kau ingin aku lakukan?" Savana membalikkan tanya.


"Mm.. entahlah. Aku tidak tahu."


"Mengapa tidak tahu?"


"Karena masalah orang dewasa terlalu rumit."


"Tapi aku pintar, Mom. Apa yang kau katakan, aku pasti mengerti."


"Baiklah, karena kau pintar, sekarang katakan, apa yang kita butuhkan untuk membuat kue?" Ruby mengalihkan pembicaraan. Sengaja agar topik yang cukup sensitif bagi anak-anak itu tidak terus berlanjut.


Savana terkejut. "Membuat kue?" Ia bertanya dengan tidak percaya. Apakah mungkin ibu barunya ini akan membuat kue? Bersamanya?


Mungkin kah?


Tidak puas dengan jawaban atas beberapa pertanyaan yang tumpang tindih di kepalanya, Savana kembali berbicara. "Apakah kita akan membuat kue, Mom? Kau dan aku?"


"Mm." Ruby mengangguk.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Tentu. Mengapa tidak?"


Savana terdiam sesaat sebelum bersorak, "Yeay, maka kita harus membeli tepung dan telur," katanya kemudian. Ia belum pernah membuat kue sebelumnya.


Bukan karena ia tidak tertarik, namun karena Vidrian tidak mengizinkannya untuk menyentuh barang-barang berbahaya di dapur. Jadi ia terpaksa memendam rasa keingintahuannya tentang itu.


Ketika mendengar teman-temannya bercerita tentang membuat kue bersama ibu mereka, karena ia tidak memiliki ibu, ia dengan tegas menolak gagasan itu. .


Daddy benar, dapur adalah tempat paling berbahaya, dan ia semakin berkeinginan untuk tidak melakukan apapun di tempat berbahaya seperti itu.


Setidaknya, ia hidup sejauh ini dengan mengingat kata-kata itu.


Hingga ketika Ruby datang dan ia benar-benar memiliki ibu, gagasan yang sebelumnya ia tolak, mulai ia ingat kembali. Namun untuk mengatakannya kepada Ruby, ia masih belum memiliki keberanian.


Selain sibuk, Ruby tidak tampak seperti akan melakukan hal yang merepotkan seperti membuat adonan dan memasukkannya ke oven. Kalau hanya memasak, ya.. tentu saja Ruby melakukannya, namun tidak dengan memanggang roti atau sejenisnya.


Itu yang ia pikirkan.


Namun ketika Ruby berkata akan membuat kue bersamanya, segala hal yang pernah ia ingat di kepalanya, luruh bersama kegembiraan.


Ia sangat senang.


Benar-benar senang memiliki seorang ibu.


"Ya, sayang, mari kita lakukan, membeli tepung dan telur," balas Ruby.


Larut akan kegembiraan, Savana tidak menjawab, ia hanya tersenyum sebagai luapan rasa emosionalnya.


Dengan begitu, ibu dan anak itu pergi bersama untuk membeli bahan-bahan yang di butuhkan kemudian kembali ke apartemen untuk membuat kue yang Savana inginkan.


Begitulah kegiatan mereka dalam menghabiskan waktu. Tidak ada satu hal pun yang tidak menyenangkan.


Setelah sesi membuat kue berakhir, keseruan itu berlanjut di meja makan dan setelah Savana menyelesaikan pekerjaan rumahnya, mereka segera pergi ke kamar tidur dan melakukan hal-hal yang biasanya di lakukan oleh para gadis.


Ruby dengan sabar mengajarkan Savana bagaimana cara menulis buku harian dan bagaimana cara menyusun jadwal agar kegiatan sehari-harinya tertata dan positif. Kemudian ia juga mengajarkan bagaimana cara memakai masker wajah dan mengaplikasi cat kuku.


Semuanya, hampir setiap hal sederhana Ruby ajarkan pada Savana. Agar ketika ia meninggalkan negara ini suatu hari nanti, gadis itu dapat melakukan hal sepele tanpa merepotkan orang lain.


***


Sementara itu, malam hari di kediaman Christensen, terasa kurang menyenangkan.

__ADS_1


Kedatangan Nyonya Christensen, Amelia Veronica Christensen, dari desa, seharusnya menjadi puncak kebahagiaan bagi wanita itu karena akhirnya bisa datang ke kota dan melihat cucu perempuan yang selalu ia rindukan.


Namun apa yang ia bayangkan, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi. Bayangan memeluk Savana dan memanjakannya, hanya sekedar mimpi.


Sudah sejak kemarin ia tiba di sini, namun sampai detik ini ia masih belum melihat cucu kesayangannya.


Jika tadi pagi ia tidak melihatnya, ia akan memakluminya. Namun ketika malam hari dan masih tidak dapat melihatnya, ia menjadi curiga.


Sebenarnya apa yang terjadi? Dimana bajingan busuk ini menyembunyikan cucunya yang berharga?


Untuk pertama kalinya ia berada di momen ini. Momen dimana ia ingin menghancurkan putranya sendiri yang tidak berguna, yang tidak becus merawat cucunya.


Sementara kekecewaan menyelimuti Amelia, hal yang sama juga terjadi pada Vidrian. Dengan alasan yang berbeda, nampaknya ibu dan anak itu memiliki kesamaan tentang hal tidak menyenangkan yang terjadi baru-baru ini.


Vidrian baru saja kembali dari perusahaan.


Ia masuk ke dalam rumah dan menarik dasinya dengan kesal. Ia tidak tahu mengapa, namun Ruby masih saja tidak mendengarkan penjelasannya. Membuatnya kehabisan akal, tidak tahu bagaimana cara membujuknya lagi.


"Jadi begitu caramu memperlakukan ibumu? Apakah hal yang sama juga kau lakukan pada Savana?" Amelia berkata sinis, terang-terangan menyindir putranya yang semakin keterlaluan.


Suara yang tertangkap indera pendengaran, membuat Vidrian tersentak. Ia terdiam sesaat sebelum mencari-cari darimana asal suara itu.


Tahu hal bodoh apa yang sedang Vidrian lakukan, Amelia kembali berkata, "Kau bahkan tidak melihat ibumu yang sebesar ini duduk di sini?"


Bukannya berbalik, Vidrian mundur beberapa langkah dan baru berhenti setelah melewati ibunya. "Maaf, Mom, aku tidak melihatmu," ucapnya kemudian sembari membungkukkan sedikit badannya penuh penyesalan.


Ia yang terlalu sibuk dengan kekacauan di kepalanya, tidak sempat memikirkan hal lain. Jangan kan memikirkan ibunya, dirinya sendiri pun ia lupakan.


Jadi ia tidak menyadari bahwa begitu ia memasuki rumah, ibunya sudah menunggunya di ruang tamu. Parahnya, ia tidak melihat sosoknya hingga ia mengabaikannya.


Namun itu dari sudut pandangnya.


Dari sudut pandang Amelia, tentu lain cerita.


Amelia berpikir Vidrian kehilangan sopan santunnya terhadap orang yang lebih tua. Dan ia juga berpikir begini cara Vidrian membesarkan Savana, Jadi, ia menegurnya, sekaligus untuk melampiaskan kekesalannya karena tidak dapat melihat cucunya.


Apa gunanya ia datang jauh-jauh ke sini jika masih tidak dapat melihat gadis kecil itu? Bukankah perjalanan jauh yang ia tempuh selama beberapa waktu hanya percuma?


Itu yang ia pikirkan hingga tanpa ragu melampiaskan ketidaksukaannya kepada putranya.


Sesuatu yang salah tentu saja.

__ADS_1


Namun, siapa peduli.


__ADS_2