
Mengabaikan beberapa hal tidak menyenangkan yang baru saja terjadi, Vidrian memberikan instruksi agar Carl segera memulai.
Vidrian tidak mau lagi berbasa-basi karena apapun yang ia katakan, terlepas dari apakah itu benar atau tidak, semua akan tetap dan selalu salah di mata Ruby.
Carl mengangguk kecil kemudian buka suara, "Terima kasih banyak karena sudah meluangkan waktu untuk kami, Nyonya Diedrich, Nona Lily. Tuan kami memang kurang sehat saat ini. Saya harap Anda dapat memahami situasi sulit kami." Carl bilang saat ini, bukan hari ini. Yang itu berarti hanya saat ini Vidrian tampak seperti orang sakit. Setelah pertemuan ini lewat, orang itu mungkin akan kembali sehat.
Begitu Carl selesai bicara, Vidrian melemparkan tatapan tajam seolah akan mengambil nyawa Carl detik ini juga.
Carl berdehem untuk menyamarkan kegugupannya. Sebaliknya, ia memberanikan diri untuk menatap Ruby.
"Lanjutkan," ucap Ruby, memberi instruksi.
"Perkenalkan, kami dari SVN." Carl meletakan kartu namanya di atas meja dan mendorongnya ke depan. "Saya Carl, asisten Tuan Vidrian. Kami sedang mengembangkan bisnis baru di bidang fashion. Kami sangat berharap Diedrich Group dapat bergabung dengan kami." Carl melakukan perkenalan dengan sopan, menutupi kejadian tidak menyenangkan yang terjadi beberapa saat yang lalu.
Ruby melirik sekilas kartu nama Carl. "Kedengarannya menarik."
Carl tersenyum lebar. "Kami membutuhkan kolaborasi yang tepat untuk membuat kemajuan yang menggemparkan. Dengan kemampuan yang kami miliki, kami berjanji tidak akan mengecewakan Anda." Carl meletakan dua dokumen dan mendorongnya kepada Lily. "Mohon pertimbangkan perusahaan kami. Kami berharap dapat menjadi mitra bisnis."
Lily menerima dua dokumen dan memeriksanya sebentar sebelum menyerahkan salah satunya kepada Ruby.
Ruby menerima dokumennya kemudian membuka sampulnya. Tidak lupa ia memberikan wewenang agar Lily berbicara menggantikannya selagi ia membaca dokumennya.
Lily segera mengambil alih. "Bukan masalah besar. Asal kolaborasi ini menjanjikan keuntungan. Sumber daya apapun yang SVN butuhkan termasuk koneksi, kami dapat menyediakan. Namun, tentu saja semuanya harus jelas, benar dan adil. Tidak boleh ada satu pun kesalahan. Maksud saya, Anda berdua tentu memahami bahwa banyak perusahaan kecil berakhir di tangan kami karena mereka tidak cukup mampu berdiri di samping kami." Maksud Lily sangat jelas, jika mereka tidak mampu, mereka tidak hanya tersingkir, namun juga akan tertelan.
__ADS_1
Carl mengangguk. "Tentu saja kami mengerti. Anda tidak perlu khawatir, kami lebih dari mampu untuk mengimbangi sistem kerja Diedrich Group. Dan yang terpenting, kami tidak selemah itu untuk di hancurkan."
"Kalau begitu, biarkan bos kami melihat apa yang perusahaan kalian tawarkan." Dengan begitu, Lily mengakhiri pembicaraan. Memberikan ketenangan kepada Ruby adalah intinya. Wanita itu tidak boleh di ganggu saat sedang fokus, atau kalau tidak, resikonya cukup untuk membuat dirinya kehilangan gajinya selama beberapa bulan.
Vidrian menatap lekat wanita yang sedang fokus membaca dokumen di hadapannya. Untuk beberapa alasan, ia yakin Ruby adalah Rubika. Namun ia tidak akan gegabah lagi. Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama hanya karena sebuah harapan.
Vidrian terlalu berharap wanita itu adalah Rubika sampai rasionalitas hilang dari otaknya. Ia tidak pernah berpikir bahwa selain wajahnya yang mirip, tidak ada sedikit pun kemiripian di antara mereka.
Rubika-nya adalah wanita yang cantik dan lembut. Wanita itu pandai memasak dan setia. Wanita itu adalah ibu rumah tangga yang patuh dan tidak pernah membuat suaminya kesulitan.
Berbeda dengan wanita arogan yang duduk di depannya. Perbandingan mereka sangat jauh, ibarat langit dan kerak bumi. Namun bukan hal mustahil jika Ruby adalah Rubika. Mengingat luka yang ia berikan pada gadis itu sangat besar, masuk akal jika Rubika berubah sangat banyak.
Hanya saja keraguannya masih belum di konfirmasi. Jadi ia tidak akan bertindak bodoh karena ia tidak ingin segalanya menjadi semakin rumit.
Ruby mencintai uang, secinta itu. Itu sebabnya ia tidak mau kehilangannya.
Jika ada kesempatan untuk mengembangbiakkan nya, Ruby akan melakukannya dengan senang hati tidak peduli siapa yang akan menjadi partner usahanya.
Itu yang dinamakan profesionalisme.
Dan Ruby selalu seperti itu. Mengedepankan keuntungan di atas kehidupan pribadi. Sama seperti saat ia membuat beberapa teman lamanya berhasil, selain yang ia lihat pertama kali adalah kemampuan, ia juga melihat pasar dan peluang. Tidak asal-asalan membantu mereka. Hanya satu wanita yang terang-terangan memanfaatkannya, namun sudahlah. Wanita itu pengecualian.
Vidrian tertegun, kemudian senyumnya yang cerah tersungging secara alami. "Bagus jika Anda menyukainya, merupakan kehormatan besar bagi kami." Melupakan tindakan kurang ajar yang ia lakukan sebelum ini, Vidrian sepenuhnya berbicara formal.
__ADS_1
Vidrian tidak mau lagi menjadi orang bodoh yang gila di mata Ruby. Bagaimanapun, sebelum keraguannya dikonfirmasi, ia tidak akan memberikan kesan yang buruk kepada wanita itu. Namun jika keraguannya sudah di konfirmasi, ia juga tetap tidak akan memberikan kesan yang buruk.
Ruby menoleh, melihat Lily sudah menyimpan dokumennya, artinya tidak ada yang perlu di lakukan lagi. "Baiklah, seperti itu saja. Saya akan memberikan keputusan akhir setelah saya selesai memikirkan. Sekretaris saya akan menghubungi perusahaan Anda nanti."
"Tunggu! Apa Anda tidak akan makan siang bersama kami?" Vidrian bertanya dengan terburu-buru. Ruby hanya membaca sejauh ini, meski ada makanan di depannya, wanita itu tidak sedikit pun menyentuhnya seolah takut seseorang membubuhkan sesuatu di makanannya.
"Terima kasih untuk tawarannya, kebetulan kami sudah makan siang," jawab Ruby, menolak secara halus tawaran Vidrian.
"Ah, sayang sekali. Namun tak apa, masih banyak waktu di masa depan, kami akan menunggu kabar baik dari Anda." Vidrian sangat tenang meski baru saja mendapat penolakan. Hanya detak jantungnya saja yang bergejolak ketika melihat wajah menawan Ruby.
"Mm. Baik-baik saja maka." Ruby mengangguk. Ia meletakan tas di lengannya lalu berdiri dengan anggun. Ia mengulurkan tangan, menjabat tangan Vidrian yang berdiri kokoh di depannya. "Tuan, saya memiliki sesuatu yang harus di kerjakan, jika tidak keberatan kami akan pergi lebih dulu."
"Tentu, tidak masalah. Terima kasih untuk hari ini." Vidrian merasakan kekosongan di tangannya saat jabatan tangan mereka terlepas. Namun sebelum ia larut akan perasaannya lagi, ia memutuskan untuk mengambil inisiatif. "Izinkan saya mengantar Anda."
"Anda orang yang sibuk, tidak perlu repot melakukan hal seperti ini." Ruby langsung menolak tawaran Vidrian tanpa berpikir dua kali. Namun seorang Vidrian tidak menerima penolakan apapun.
"Ini sama sekali tidak merepotkan. Ini adalah kehormatan bagi saya." Vidrian mempersilahkan Ruby dan ia gagal menangkap ekspresi kebencian di mata wanita itu.
"Jika seperti itu, terserah Anda saja. Saya tidak bisa menemukan alasan untuk menolaknya lagi. Mari." Ruby tidak sedikit pun menunjukkan jejak kelembutan dalam perkataannya. Bagaimanapun ia bukan orang yang lembut. Terlepas dari siapapun lawan bicaranya, selain keluarganya, ia hanya akan menunjukkan ketegasan serta arogansinya.
Apalagi, Vidrian sudah menjebaknya. Tidak membiarkan ia pergi padahal pembicaraan kerjasama sudah berakhir. Dengan tidak tahu malunya pria itu tidak melepaskannya.
Bajingan.
__ADS_1
"Terima kasih, karena Anda tidak menolak lagi. Saya sangat senang," ucap Vidrian, berterus terang. Tentu saja ia senang, tapi bagaimana dengan Ruby? Melihat sejelek apa ekspresi Ruby saat ini, wanita itu jelas tidak dalam kondisi hati yang baik. Namun ia tidak mau memikirkannya.