
Setelah tiba di kediaman, Vidrian menidurkan Savana di kamar tidurnya. Baru setelah Savana tidur nyenyak, Vidrian menyeka keringat di dahinya dan menyeret dirinya keluar dari kamar tidur.
Ia pergi ke ruang kerjanya dan menuang segelas whisky untuk dirinya sendiri. Sebelum hati nuraninya bisa memperingatkannya, ia melingkarkan tangannya di sekitar gelas dan menenggak alkohol dalam satu tegukan.
Rasa whisky membawa kembali kenangan melankolis yang telah ia tekan selama delapan tahun terakhir.
Ia pernah menikahi seseorang.
Tidak hanya itu, ia bahkan memiliki seorang putri dari pernikahan itu. Namun entah bagaimana, semua hancur berantakan.
Dering ponsel yang terdengar menyentak lamunannya. Ia meraih ponselnya sebelum mendudukkan diri di balik meja kerja. "Halo," ucapnya. Ini sudah malam, jika bukan sesuatu yang penting, tidak mungkin seseorang menghubunginya.
"Ini saya, Tuan," ucap Carl dari balik panggilan.
"Aku tahu," jawabnya. "Bagaimana perkembangannya?" Sebagai pengingat, ia tidak dalam kondisi yang baik. Perasaan dan otaknya sedang tidak terhubung. Jika apa yang Carl katakan tidak berguna, tunggu sampai ia memotong habis gajinya.
"Ini," Carl tersendat, "Kami sedang mengusahakannya," lanjutnya, sedikit panik. Beberapa hari yang lalu, ia dengan percaya diri mengatakan bahwa semua berjalan baik. Namun tidak diragukan lagi, segala sesuatu tentang keluarga Diedrich tidak sesederhana kelihatannya.
Fakta bahwa informasi tidak mudah diakses adalah bukti paling nyata tentang kekuasaan serta kekuatan mereka. Namun hal semacam itu, apakah Vidrian dapat menerimanya?
Jawabannya, tidak semudah itu.
Tidak.
Jawabannya adalah.. tidak mungkin.
Pria itu tidak mungkin bisa menerimanya.
Benar saja, setelah mendengar jawaban Carl, jemari Vidrian semakin erat menggenggam ponselnya. Hanya tinggal menunggu waktu sampai ia membantingnya. "Tidak berguna." Dengan begitu, ia benar-benar melemparkan ponselnya. Benda malang itu menabrak pintu sebelum mendarat dengan menyedihkan di lantai.
__ADS_1
Emosi kecil yang berakumulasi, membentuk emosi yang besar di hatinya. Setelah sekian lama, akhirnya ia merasakan emosi ini lagi. Hari demi hari yang ia lalui dengan penyesalan, sekarang penyesalan itu semakin besar.
Jika ia memperlakukan Rubika dengan baik di masa lalu, mungkinkah wanita itu tidak berubah?
Sungguh konyol mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Namun selain menggila, ia merasa tidak ada yang bisa ia lakukan untuk saat ini.
***
Di waktu yang sama di sisi yang lain.
Perasaan semua orang benar-benar kacau.
Kenyataannya tidak hanya Ruby, Vidrian atau Savana, tetapi Xavier pun merasakan kekacauan yang sama.
Ia tidak tahu apa yang terjadi.
Savana, lalu pria itu, apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka inginkan?
Perasaan ingin tahu benar-benar membuncah memenuhi hati Xavier. Ia ingin bertanya, tapi masalahnya, pada siapa ia harus bertanya? Lily? Tidak mungkin. Ia yakin Lily tidak tahu apapun. Jadi, satu-satunya cara untuk menuntaskan rasa ingin tahunya adalah bertanya langsung kepada Ruby.
Namun karena sekarang Ruby tidak berada di sini, ia akan menunda sampai esok hari.
"Kakak, kenapa mendadak sekali?" Suara kecil Sean memecah keheningan di dalam mobil. Mobil sudah lama meninggalkan restauran, namun sedari tadi tidak ada yang angkat bicara. Masing-masing orang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ya," jawab Xavier. Sejujurnya ia juga terkejut. Sangat jarang Ruby bertingkah seperti itu. Kalaupun pergi, biasanya wanita itu akan meminta persetujuan dari mereka terlebih dulu. Tidak asal pergi seperti tadi.
"Menurutmu, kenapa?" tanya Sean lagi. Pikiran kecilnya masih belum bisa memikirkan sesuatu seperti Xavier. Namun bukan berarti ia tidak tahu. Ia yakin penyebab Ruby sangat tidak nyaman adalah pria itu, Vidrian.
Sean tidak berpikir kemungkinannya adalah Savana karena ia pikir itu mustahil. Yang paling memungkinkan dan satu-satunya yang paling mungkin, hanya pria itu.
__ADS_1
Tetapi, kenapa? Apa alasannya?
"Aku juga tidak tahu," jawabnya, jujur. Xavier menoleh dan melihat wajah Sean tampak tidak baik. Mungkin karena alasan yang sama. Lagipula, sulit untuk tidak curiga saat segalanya sejelas hari.
Sean cemberut. Ia tidak suka perasaan ini. Ruby paling menyayanginya. Tetapi sebenarnya Ruby berani mengabaikannya. Ia mengalihkan pandangannya. "Lalu, apakah kau tahu sesuatu, Lily?" Ia bertanya pada Lily.
Lily tersentak. Ia tertegun sesaat sebelum menjawab, "Saya juga tidak tahu, Tuan Muda," jawabnya cepat. Ia dapat melihat jika bukan hanya dirinya yang merasakan kejanggalan. Itu artinya, memang ada yang tidak beres antara Ruby dan Vidrian.
"Kau pun tidak tahu." Apalagi dirinya? Itu yang ingin Sean katakan. Namun ia menelan perkataan itu untuk dirinya sendiri.
"Jangan terlalu marah, Sean. Mommy pergi karena ada masalah penting. Jangan berpikir terlalu banyak." ujar Xavier, mencoba menenangkan. Pria yang cemburu, benar-benar mengerikan. Namun lebih dari itu, firasatnya berkata sesuatu yang buruk akan segera terjadi.
***
Ruby mengikuti saran Veronica untuk naik mobilnya, namun saat menyadari bahwa mobil yang Veronica kemudikan tidak menuju kediamannya, ia menyipitkan mata.
Melihatnya sangat bersemangat, Ruby tidak bisa menyembunyikan tanya. "Kemana kau membawaku?" tanyanya. Ia menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Meski tahu pergi bersama Veronica bukan hal yang baik, pada akhirnya ia masih mengikutinya.
"Sejak kapan kau menjadi begitu banyak bicara? Kau hanya perlu duduk dan menutup mulut, jangan tanya lagi," jawab Veronica.
"Sulit mempercayai orang sepertimu," Ruby menimpali. Sebagai musuh publik yang memenuhi syarat, bukan hanya tidak ada pria yang mau mendekati Veronica, tetapi bahkan anak-anak dilarang mendekatinya oleh ibu mereka.
Jadi, kesan Veronica sebagai Medusa, image itu dibangun sendiri oleh wanita itu dengan penampilan serta kelakuannya. Untungnya, banyak orang hanya melihat karya dan mengesampingkan karakter, jadi perhiasan Velline laku keras meski kelakuan desainernya seperti ular berbisa.
Veronica cemberut. "Apa yang salah?" Ia merasa dirinya baik-baik saja. Ia kompeten dan cukup berguna. Ia kaya dan terpandang. Orang yang melihat tidak akan mendapati satupun kekurangan darinya. Setidaknya, di mata publik, ia berkuasa, mengerikan, tidak mudah digertak.
Di samping itu, bukankah lebih baik di takuti daripada di benci?
Dibanding apapun, bukankah itu yang terbaik? Meski akibatnya tidak ada pria yang mau menjadikannya istri, lalu kenapa? Ia tidak akan mati meski tanpa seorang pria.
__ADS_1